Search This Blog

Loading...

Sunday, November 21, 2010

STANDAR EVALUASI PROGRAM

Dalam melaksanakan kegiatan Evaluasi Program seorang evaluator harus mengikuti kaidah dan prosedur tertentu untuk menjamin evaluasi berjalan baik sesuai standar evaluasi program. Standar evaluasi ada 4 kategori yaitu standar utility (kegunaan), feasibility (kelayakan), propriety (kesahihan) dan accuracy (ketepatan).
Berikut ini akan diuraikan dan ke 30 standar tersebut sesuai yang dikeluarkan Join Committe 1994 seperti yang dikutip oleh Fitzpatrick, Sanders dan Worthen (2004) yang berusaha penulis terjemahkan satu persatu ke dalam bahasa Indonesia

Standar Utilitas/ Kegunaan (Utility standard)

Standar Utilitas ini untuk memastikan bahwa evaluasi akan menyajikan informasi yang sesuai dengan keperluan pemakai
Standar utilitas (disingkat U) terdiri dari 7 komponen (U1-U7), sbb :

U1 Stakeholder Identification – Identifikasi Stakeholder
      Pihak yang terlibat atau terpengaruh oleh evaluasi ini perlu diidentifikasi agar kebutuhan mereka dapat  tercakupi
U2 Evaluator Credibility – Kredibilitas Evaluator
     Seseorang yang melaksanakan evaluasi harus terpercaya dan kompeten sehinga hasil evaluasi mencapai kredibilatas dan penerimaan yang tinggi

U3 Information Scope and Selection – Seleksi dan Ruang Lingkup Informasi
I     Informasi yang didapat harus luas dan juga terseleksi untuk menjawab pertanyaan –pertanyaan yang berkaitan dengan program dan responsif terhadap kebutuhan klien dan stakeholder

U4 Values Identification – Identifikasi Nilai-Nilai
      Sudut pandang, prosedur dan alasan rasional yagn digunakan untuk menginterpretasi temuan harus digambarkan secara hati-hati sehingga dasar untuk mempertimbangkan nilai-nilai menjadi jelas.

U5 Report Clarity – Kejelasan Pelaporan
      Laporan evaluasi harus jelas menggambarkan konteks, tujuan, prosedur dan temuan dari evaluasi sehingga informasi yang penting dapat dipaparkan dan mudah dimengerti.

U6 Report Timeliness and Dissemination – Penyebaran dan Ketepatan Waktu Pelaporan
U7 Evaluation Impact – Dampak Evaluasi
     Evaluasi seharusnya direncanakan, dilaksanakan dan dilaporkan dengan cara yang membuat para stakeholder bisa menindaklanjuti dan menggunakan hasil evaluasi tersebut.


Standar Kelayakan (Feasibility Standard)
Standar kelayakan diperlukan untuk meyakinkan bahwa evaluasi berlangsung realistis, cermat, diplomatis dan hemat.
Ada 3 butir standar kelayakan, disingkat F (F1 s.d.F3) ang bisa diuraikan sbb :

F1 Practical Procedures – Kepraktisan Prosedur
Prosedur evaluasi harus praktis dan menekan gangguan seminimal mungkin selama mendapatkan informasi yang dibutuhkan

F2 Political Viability – Keberlangsungan Politis
Evaluasi harus bisa mengantisipasi beragam posisi/kedudukan dan minat dari kelompok supaya kerjasama semua pihak bisa diperoleh.

F3 Cost Effectiveness – Keefektifan Biaya


Standar Kepatutan (Propriety Standard)
Standar Kepatutan diinginkan untuk meyakinkan agar evaluasi terlaksana secara secara legal, etis dan dengan mempertimbangkan ketentraman pihak-pihak yang terlibat dan terpengaruh kegiatan evaluasi.

P1 Service Orientasi – Orientasi Pelayanan
     Evaluasi seharusnya didesain untuk membantu organisasi untuk melayani kebutuhan anggota secara luas.

P2 Formal Agreement – Perjanjian Formal
     Kewajiban masing-masing pihak terhadap evaluasi harus disetujui secara tertulis.

P3 Right of Human Subject – Hak Asasi Subjek Manusia
     Evaluasi wajib didesain dan dilaksanakan dengan menghargai dan menjaga hak-hak asasi dan ketentraman orang-orang yang terlibat.

P4 Human Interaction – Interaksi yang manusiawi
P5 Complete and Fair Assesment – Penilaian yang lengkap dan jujur
     Evaluator harus adil dalam menyelidiki dan mencatat kelebihan dan kekurangan dari program

P6 Disclosure of Finding – Pengungkapan Temuan
P7 Conflict of Interest – Konflik Kepentingan
     Konflik kepentingan harus ditangani secara terbuka dan jujur sehingga tidak berkompromi dengan proses dan hasil evaluasi
P8 Fiscal Responsibility – Tanggung jawab Fiskal


Standar Akurasi/Ketelitian (Accuracy Standards)
Evaluasi harus menyingkap dan menyampaikan informasi yang memadai secara teknis Standar akurasi ini terdiri dari 12 standar dari A1 s.d. A12

A1 Program Documentation – Dokumentasi Program
A2 Context Analysis – Analisa Konteks
A3 Described Purposes and Procedures – Penggambaran Tujuan dan Prosedur
A4 Defensible Information Source –Sumber Informasi yang tepat
A5 Valid Infomation –Informasi yang valid
A6 Reliable Information –Informasi yang andal
A7 Systematic Information –Informasi yang sistematis
A8 Analysis of Quantitative Information – Informasi analisis kuantitatif
A9 Analysis of Qualitative Information – Informasi Analisis kualitatif
A10 Justified Conclusion – Kesimpulan yang masuk akal
A11 Impartial Reporting – Laporan yang tidak memihak
A12 Metaevaluation – meta evaluasi
        Evaluasi harus dievaluasi secara formatif dan sumatif dengan standar yang tepat sehingga pelaksanaannya terarah.

Saturday, November 20, 2010

Pengantar Evaluasi Program

Pendidikan menjadi kebutuhan untuk membangun suatu bangsa. Masyarakat dewasa ini telah semakin sadar mengenai pentingnya pendidikan. Dunia pendidikan merupakan baigan yang tidak pernah terlepaskan dari perhatian masyarakat. Perhatian dan tuntutan yang begitu besar dari masyarakat dan kesadaran untuk tetap berdiri tegar di tengah derasnya kemajuan zaman memacu pemerintah dan dunia pendidikan formal maupun non formal untuk memberikan kualitas pendidikan yang lebih baik.

Berbagai kebijakan dan program pendidikan mencoba ditawarkan oleh pemerintah ataupun dunia pendidikan pada khususnya. Di samping itu masyarakat juga semakin kritis untuk menilai keberhasilan, mutu dan keberhargaan suatu kebijakan atau program pendidikan. Salah satu cara untuk mengetahui keberhasilan, manfaat dan mutu pendidikan adalah melakukan evaluasi. Evaluasi ini mencakup evaluasi kebijakan, program pendidikan, sistem pendidikan baik kebijakan yang luas mencakup negara ataupun program pendidikan dan pembelajaran di sekolah-sekolah. Hasil evaluasi ini kemudian dipergunakan untuk memperbaiki program ataupun sistem pendidikan yang ada.

Di negara-negara yang sejarah pendidikannya lebih panjang, usaha untuk mengevaluasi pendidikan sudah dimulai sejak lama. Dimulai dengan memantau hasil belajar dan menentukan standar kelulusan siswa. Ironisnya di Indonesia, sebagian kecil cara untuk melakukan evaluasi mengenai mutu dan standar pendidikan nasional melalui UAN (Ujian Akhir Nasional) masih banyak mengalami kendala, tantangan dan kritikan di mana-mana. Cara lain untuk menilai dan menyelidiki keberhasilan dunia pendidikan adalah dengan melakukan evaluasi program pendidikan. Evaluasi program ini mulai berkembang pesat di tahun 60-70an. Di negara maju evaluasi program telah menjadi bidang telaahan sendiri dan melahirkan profesi baru yang dinamakan evaluator. Bidang telaahan evaluasi program ini tidak hanya digunakan dalam dunia pendidikan saja tetapi metodologi serupa juga bisa diterapkan untuk mengevaluasi bidang lain seperti program kesehatan masyarakat, program pelatihan atau program sosial lainnya.


Peranan dan Pengertian Evaluasi Program
Menurut Worthen dan Sanders (Tayibnapis, 2008) evaluasi formal terlah memegang peranan penting dalam dunia pendidikan dan memberikan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk
1. Membuat kebijakan dankeputusan
2. Menilai hasil yang dicapai siswa
3. Menilai kurikulum
4. Memberikan kepercayaan kepada sekolah
5. Memonitor dana yang telah diberikan
6. Memperbaiki materi dan program pendidikan

Menurut Fitzpatrick, Sanders dan Worthen, (2004) peran utama evaluasi program adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti; Apakah program tersebut berjalan baik? Manfaat apa yang bisa diperoleh dari suatu program? Apakah program berjalan efektif? Bagian program mana yang pengaruhnya lebih besar? ;Penyesuaian apa yang harus dibuat agar program bisa berjalan lebih efektif?

Pengertian evaluasi adalah lebih luas dari pada sekedar penilaian (assesment) dan pengukuran (measurement) juga tes/ujian untuk mengukur hasil belajar siswa. Pernyataan Scriven sperti yang dikutip oleh Patton bahwa evaluasi itu mencakup memutuskan, menilai, menganalisa, mengkritik, menghakimi, merangking, menggolongkan, menginspeksi, menyelidiki, mempertimbangkan, menelaah, mengetes, mempelajari dsb. Lalu Scriven dan para ahli menyetujui definisi bahwa evaluasi sebagai kegiatan untuk mempertimbangkan keberhargaan dan mutu suatu objek evaluasi. Namun beberapa ahli juga menekankan agar evaluasi tidak bertendensi untuk menghakimi suatu objek evaluasi. Evaluator hanya memberikan pertimbangan dan rekomendasi kepada klien atau stakeholder sebagai alat pengambil keputusan.
Evaluasi program didefinisikan sebagai proses deskripsi, pengumpulan data dan penyampaian informasi kepada pengambil keputusan yang akan dipakai sebagai pertimbangan mengenai tinjak lanjut suatu program (apakah diteruskan, diperbaiki atau dihentikan)


Perbedaan Evaluasi dan Penelitian (research)

Walaupun evaluasi dan penelitian tampak sama karena menggunakan metode dan instrumen yang sama, evaluasi dan penelitian mempunyai tujuan akhir yang berbeda. Tujuan utama dari penelitian dalam untuk menambah khazanah ilmu dan untuk memperkuat suatu teori. Lain halnya dengan evaluasi tujuan utamanya bukan untuk mengembangkan pengetahuan melainkan untuk membantu para klien untuk membuat perrtimbangkan atau keputusan. Penelitian mencari kesimpulan sedang evaluasi menghasilkan pertimbangan suatu keputusan.

Selain itu penelitian menyelidiki hukum sebab akibat antara variabel-variabel penelitian. Sedangkan evaluasi tidak menelaah seluruh hubungan antar variabel itu saja, evaluator lebih berfokus pada isu suatu sebab sesuai yang dibutuhkan oleh klien. Peneliti menentukan hipotesis dan menyelidiki dan mencari jawaban atas hipotesisnya itu. Evaluator tidak mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri, dia harus mendiksusikan kepada klien atau stakeholder mengenai fokus evaluasi.
Penelitian dan evaluasi juga berbeda dalam kriteria atau standar dalam mempertimbangkan kelengkapan prosesnya. Penelitian menggunakan standar kausalitas, dan validasi internal dan eksternal. Sedang evaluasi telah mempunyai standar tersendiri yaitu accuracy (keakuratan), utility (kegunaan), feasibility (kelayakan), dan propriety (kesahihan).
Peneliti biasanya orang yang mendalami sebuah bidang keilmuwan dan menjadi ahli di suatu metodologi. Sedangkan evaluator harus mengenal banyak ilmu pengetahuan secara luas dan juga mengenal berbagai metode-metode yagn bisa dipilih seesuai kebutuhan. (Fitzpatrick, Sanders dan Worthen; 2004 hlm. 6-7)


Objek Evaluasi
Menurut owen dasar evaluasi adalah untuk menjawab pertanyaan apa dan mengapa. Yaitu apa objek dan subjek yang dievaluasi dan mengapa objek itu menjadi fokus evaluasi.
Objek evaluasi dapat beRupa berupa perncanaan (planning), program, kebijakan, organisasi, produk dan individu. Berikut kita uraikan objek evaluasi satu persatu.
  1. Perencanaan/planning : terkait dengan proposal Pengembangan organisasi atau pengembangan program. Perencanaan suatu progam ini bisa berbentuk level mega, makro ataupun mikro.
  2. Program  : Program adalah seperangkat aktivitas yagn bertujuan untuk menhasilkan sesuatu yang telah ditentukan. Program juga terdiri dari program mega, makro dan mikro. Program mikro misalnya mencakup unit kegiatan sains di suatu sekolah.
  3.  Kebijakan : Terdapat 2 kegiatan sehubungan dengan investigasi suatu kebijakan yaitu penelitian kebijakan dan analisis kebijakan
  4. Organisasi
  5. Produk : Contoh evaluasi produk adalah evaluasi terhadap produk bidang pendidikan sepeti buku, media belajar spt CD interaktif dan animasi, TV edukasi dsb.
  6. Individu

Tujuan Evaluasi Program
Para ahli mempunyai pemikiran yang beragam dalam menggolongkan tujuan dari evaluasi program.
Menurut Owen tujuan evaluasi bisa digolongkan sebagai berikut
1. Pencerahan (enligment)
Menyediakan informasi mengenai pentingnya suatu program
2. Pertanggungjawaban
Sebagai bagian dari akuntabilitas bagi suatu organisasi kepada pemerintah dan masyarakat
3. Program perbaikan
4. Program Klarifikasi
5. Alasan simbolik
Mis. Akreditasi untuk menaikan “gengsi” sekolah

Sedangkan menurut Mark, Henry dan Julnes (1999) mengkategorikan tujuan evaluasi menjadi 4 yaitu sebagai penillaian akan keberhargaan dan manfaat; pengawasan dan pelaksanaan; perngembangan program dan organisasi dan; perkembangan pengetahuan. Sedangkan menurut Talmage (1982) tiga tujuan yang paling banyak muncul dalam evaluasi adalah membuat pertimbangan tentang keberhargaan aatau manfaat suatu program; membantu para pengambil keputusan untuk memutuskan suatu kebijakan dan yang ketiga untuk memerankan fungsi politis (Fitzpatrick, Sanders dan Worthen; 2004 hlm. 11)

Daftar pustaka

Fitzpatrick, Jody L, Sanders, James R, Worthen, Blaine R, Program Evaluation Alternative Approaches and Practical Guidelines, Pearson Education, 2004
Sutikno, Muzayanah, Modul kuliah Evaluasi Program, Jakarta, 2010
Tayibnapis, Farida Y, Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi, Rineka Cipta, Jakarta 2008.

Friday, November 19, 2010

Pendekatan Evaluasi Program Berorientasi Tujuan ( Objective – Oriented Evaluation Approach)

Pendahuluan
Dari awal pesatnya perkembangan evaluasi pendidikan tahun 60-70 an sampai sekarang , para ahli telah mengembangkan sekitar 50 model/pendekatan evaluasi Banyaknya model ini juga didasarkan oleh beberapa pendekatan pada evaluasi , jenis/bentuk evaluasi juga tujuan evaluasi. Evaluasi program merupakan proses deskripsi , pengumpulan data dan penyampaian informasi kepada pengambil keputusan yang akan dipakai untuk pertimbangan apakah program perlu diperbaiki, dihentikan atau diteruskan.
Berdasarkan objektivisme dan subjektivisme, 50 model yang ada sebenarnya bisa dikelompokkan menjadi 6 pendekatan, yaitu
1. Pendekatan berorientasi tujuan (objectives-oriented approaches/goal oriented approach)
2. Pendekatan berorientasi manajemen (management – oriented approaches)
3. Pendekatan berorientasi pemakai (consumer – oriented approaches)
4. Pendekatan berorentasi kepakaran (expertise – oriented approaches)
5. Pendekatan berorientasi ketidaksamaan (adversary-eriented approaches)
6. Pendekatan berorientasi naturalistik-partisipan (naturalistic and participant-oriented approaches)
Pada tulisan kali ini akan dibahas pendekatan berorientasi tujuan khususnya model Tyler.


Pendekatan berorientasi Tujuan
Pendekatan berorientasi tujuan ini pertama kali dikenalkan oleh Ralph Tyler tahun 40-50 an sebagai standar baru bagi evaluasi pendidikan. Sebelumnya untuk mengevaluasi bidang pendidikan dilakukan dengn tes yang menggunakan acuan kriteria. Tyler menggunakan metodologi yang lebih kompleks untuk menghubungkan hasil pencapaian siswa dengan hasil belajar yang diinginkan

Tyler merumuskan evaluasi hasil belajar dari tujuan pembelajaran berdasarkan taksonomi tujuan pembelajaran yang dikembangkan oleh Bloom dan Krathwohl. Pendekatan ini kemudian diberinama Pendekatan/ model Tyler, sesuai nama pengembangnya. Model Tyler ini kemudian banyak dipakai untuk mengevaluasi hasil atau program pendidikan. Cara pendekatan berorientasi tujuan ini bisa juga digunakan untuk mengevaluasi program lain seperti program kesehatan.

Dalam perkembangan lebih lanjut, model/pendekatan berorientasi tujuan in kemudian dikembangkan atau disempurnakan lagi oleh Metffessel dan Michael tahun 1967, oleh Provus 1973 dan juga oleh Hammond. Dari berapa-berapa model pendekatan baru ini ciri utamanya tetap sama yaitu jika suatu kegiatan atau program sudah mempunyai tujuan yang hendak dicapai, maka evaluasinya berfokus pada apakah tujuan itu telah dicapai.

Model Tyler
Evaluasi berorientasi program dari Tyler ini didesain untuk menggambarkan sejauh mana tujuan program telah dicapai. Tyler menggunakan kesenjangan antara apa yang diharapkan dan apa yang berhasil diamati untuk memberikan masukan terhadap kekurangan dari suatu program. Pendekatan ini memfokuskan pada tujuan spesifik dari program dan sejauh mana prorgam ini telah berhasil mencapai tujuan tersebut.

Dalam bidang pendidikan, kegiatan yang bisa dievaluasi oleh pendekatan ini bisa saja sesimpel kegiatan harian di kelas atau bahkan kegiatan kompleks yang melibatkan seluruh sekolah. Hasil yang diperoleh dari evaluasi ini nantinya dapat dipakai untuk merumuskan kembali tujuan dari kegiatan, mendefinisikan kembali kegiatan/program, prosedur penilaian dan perangkat yang digunakan untuk menilai pencapaian tujuan.
Berikut ini langkah-langkah dari Tyler untuk menentukan sejauh mana tujuan program/kegiatan pendidikan telah dicapai
1. Menetapkan tujuan umum
2. Menggolongkan sasaran atau tujuan
3. Mendefinisikan tujuan dalam konteks istilah perilaku
4. Menentukan situasi dimana pencapaian tujuan dapat ditunjukkan
5. Mengembangkan atau memilih tenik pengukuran
6. Mengumpulkan data kinerja
7. Membandingkan data kinerja dengan perilaku yang menggambarkan tujuan.

Setelah langkah terakhir ini selesai, kesenjangan antara kinerja dan tujuan yang diinginkan dapat diketahui. Kemudian hasil ini digunakan untuk mengoreksi kekurangan program. Saat program koreksi berjalan, berikutnya siklus evaluasi ini bisa diulang kembali.

Pemikiran Tyler ini secara logis bisa diterima dan juga mudah dipakai oleh para praktisi evaluasi pendidikan. Dalam kegiatan belajar mengajar seorang guru/praktisi pendidikan pasti akrab denga tujuan umum dan tujuan khusus setiap kegiatan pendidikan. Tyler juga menggunakan pre-test dan post-test untuk digunakan sebagai salah satu teknik pengukuran.

Tyler juga mendeskripsikan 6 tujuan dari sekolah (khususnya sekolah di amerika)
 Menguasai informasi
 Mengembangkan kebiasan kerja dan keteramilan belajar
 Mengembangkan cara berpikir yang efektif
 Menginternalisasikan sikap, minat, apresiasi dan kepekaan sosial
 Menjaga kesehatan fisik
 Mengembangkan filsafat hidup

Tyler menekankan perlu penyaringan tujuan umum sebelum menerimanya sebagai basis untuk mengevaluasi kegiatan. Dalam bidang pendidikan, cara mengnyaringnya dengan mengajukan pertanyaan yang bermakna mengenai filsafat, sosial dan pedagogis.

Sanders dan Cunningham 1975 juga menyarankan pentingnya metode logika dan empiris daalam mengevaluasai sasaran.
Metode logika mencakup
 Memeriksa kekuataan dari argumen atau rasional dibalik masing-masing tujuan
 Memeriksa konsekuensi dari pencapaian sasaran atau tujuan
 Mempertimbangkan nilai-nilai hukum, kebijakan, moral dan kondisi ideal.

Sedangkan metode empiris mencakup
 Mengumpulkan data untuk menggambarkan keputuan tentang nilai dari suatu tujuan atau sasaran
 Mengatur diskusi dengan para ahli untuk mengavaluasi sasaran atau tujuan
 Mempelajari catatan arisip
 Melaksanakan pilot study untuk melihat pencapaian tujuan

Model Tyler yang banyak digunakan sebagai evaluasi berorientasi tujuan ini telah mengilhami para ahli untuk mengembangkan model turunannya antara sbb:

a. Paradigma Evaluasi Metfessel dan Michael
Model ini lahir tahun 1967 di mana model ini banyak diilhami oleh tradisi pendekatan Tyler. Paradigma evaluasi ini menawarkan 8 langkah proses evaluasi, meliputi
 Melibatkan stakeholders sebagai fasilitator evaluasi program
 Memrumuskan model kohesi dai tujuan khusus dan sasaran.
 Menerjemahkan tujuan khusus ke dalam bentuk yang komunikatif
 Memilih dan membuat instrumen
 Melaksanakan observasi pereiodik menggunakan instrumen tes yang dipilih
 Menganalisa data menggunakan moetode yang sesuai
 Menginterpretasi data menggunakan standar level yang diinginkan
 Membuat rekomendasi untuk implementasi yang akan datang, modifikasi dan revisi tujuan umum dan tujuan khusus

b. Model Evaluasi Kesenjangan Provus
Model ini dikembangkan oleh Malcolm Provus. Provus melihat evaluasi sebagai proses informasi manajemen yang berkesinambungan. Meskipun tampak seperti pendekatan berorientasi manajemen tapi model ini lebih diilhami oleh tradisi evaluasi Tyler.
Provus melihat evaluasi sebagai proses berikut
 Memilih standard (istilah lain dari tujuan)
 Menentukan adanya kesenjangan antara jinerja dari program dan standar kinerja
 Menggunakan informasi kesenjangan untuk memutuskan program agar di tingkatkan, dipelihara atau dibatalkan
Provus menamakan pendekatannya ini sebagai Model Evaluasi Kesenjangan (DEM- Discrepancy Evaluation Model)
Provus juga menunjukkan bahwa selama program masih dikembangkan ada 4-5 tahap perkermbangan
a. Definisi
b. Instalasi
c. Proses
d. Produk
e. Cost-benefit (optional)



c. Kubus Evaluasi Hammond
Hammond mengembangkan konsep ini pada tahun 1973, yang menggambarkan bahwa tujuan program bisa dianalisa dengan menggunakan kerangka kerja 3 dimensi.

d. Model Logika
e. Teori Program
dikembangkan oleh Chen

Model lain yang agak berbeda adalah goal-free evaluation, yaitu model evaluasi yang mencoba membembaskan diri dari tujuan yang “mengkungkungnya”. Pendekatan ini didasari pemikiran bahwa kadang ada tujuan atau nilai penting yang ternyata tidak ditetapkan pada awal dikembangkannya suatu program
Akan lebih baik jika model evaluasi bebas tujuan dan evaluasi berorientasi tujuan ini digunakan bersamaan untuk saling melengkapi, bukan untuk berdiri sendiri- sendiri.

Kekuatan dan Kelemahan Pendekatan Evaluasi berorientasi Tujuan
.
Kekuatan utama dari pendekatan evaluasi berorientasi tujuan adalah kelugasannya. Pendekatan ini mudah dimengerim mudah diikuti,  mudah diterapkan dan juga mudah disetujui untuk diteliti oleh direktur program. PEndekatan ini telah menstimulasi pengembangan teknik, prosedur pengukuran dan instrumen untuk berkembang. Literatur mengenai pendekatan ini pun berlimpah, ide kreatif dan model-model baru yang lahir dari pendekatan inipun banyak bermunculan. Dengan pendekatan ini pemilik program bisa melihat lebih jelas hasil pencapaian dari suatu program sehingga bisa menilai dan menimbang suatu program.


Namun walau pendekatan ini banyak berguna , ada beberapa kritik yang muncul mengenai pendekaan berorientasi tujuan ini, spt yang diungkapkan oleh fitzpatrick, sanders dan worthen sebagai berikut
  • kurangnya komponen evaluasi yang riil, lebih menekankan mengukur tujuan pencapaian daripada keberhargaan tujuan itu sendiri
  • kekurangan standar untuk mempertimbangkan kesenjangan yang penting antara hasil observasi dengan level kinerja
  • mengabaikan nilai dari tujuan itu sendiri
  • mengabaikan alternatif penting dalam mempertimbangkan perencanaan program
  • melupakan konteks mengenai objek evaluasi dilaksanakan
  • mengabaikan hasil penting yang diperoleh yang tidak diungkapakan dalam tujuan
  • meninggalkan bukti informasi program yang tidak menggambarkan tujuan program
  • menghasilkan pendekatan yang linier dan kurang fleksibel
Daftar pustaka

Fitzpatrick, Jody L, Sanders, James R, Worthen, Blaine R, Program Evaluation Alternative Approaches and Practical Guidelines, Pearson Education, 2004
Sutikno, Muzayanah, Modul kuliah Evaluasi Program, Jakarta, 2010
Tayibnapis, Farida Y, Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi, Rineka Cipta, Jakarta 2008.

    Saturday, November 13, 2010

    Pengertian dan Langkah-langkah Evaluasi Program

    Berikut ini akan diuraikan secara singkat dan garis besar mengenai pengertian evaluasi program dan langkah-langkah evaluasi program...semoga bermanfaat (kalo sempat lanjutannya yang lebih detail menyusul)

    Evaluasi program adalah proses deskripsi, pengumpulan data, dan penyampaian informasi kepada pengambil keputusan yang akan dipakai untuk pertimbangan apakah program perlu diperbaiki, dihentikan atau diteruskan. Evaluasi pada proses pembelajaran mencakup pemakaian ujian/tes, pengukuran dan penilaian. Evaluasi menyaring atau memilah-milah hasil ke 3 informasi di atas (hasil ujian, pengukuran dan penilaian). Evaluasi juga membutuhkan tambahan informasi lain misalnya analisis dokumen, melihat hasil pencapaian, menganalisis tujuan dan kebutuhan sesuai dengan standar/kriteria dan model evaluasi yang digunakan.

    Menurut Tyler, evaluasi ialah proses untuk menentukan sejauh mana tujuan pendidikan telah tercapai. Sedangkan menurut Scriven evaluasi adalah untuk memutuskan keberhargaan dari sesuatu (merit or worth).  Jadi Evaluasi berusaha mendapatkan makna (value), keberhargaan (merit) dan manfaat yang lebih dari sekedar penilaian (assesment). Hasil evaluasi nanti digunakan sebagai rekomendasi untuk mengambil suatu keputusan (judgment) dan juga sebagai pertanggungjawaban. Mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional, evaluasi diperlukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan.

    Secara umum langkah-langkah yang harus dilakukan evaluator dalam melakukan evaluasi pembelajaran , sistem atau program pendidikan menurut Brinkerhoff adalah sbb :
    1. Fokus Evaluasi
    2. Perencanaan/Desain Evaluasi
    3. Pengumpulan informasi
    4. Pengolahan informasi
    5. Kesimpulan dan pelaporan hasil evaluasi
    6. Pengelolaan/pemanfaatan hasil evaluasi
    7. Meta evaluasi

    Pada langkah pertama yaitu fokus evaluasi, evaluator menentukan objek yang akan dievaluasi, mengidentifikasi dan mempertimbangkan tujuan, lalu mempertimbangkan elemen-elemen penting yang akan diselidiki. Selanjutnya saain mendisain evaluasi, evaluator membuat rencana, tujuan umum dan prosedur umum evaluasi.
    Lalu pada waktu pelaksanaan evaluasi, evaluator harus menentukan sumber informasi seperti apa dan bagaimana informasi itu akan diperoleh. Langkah selanjutnya adalah menganalisis informasi. Evaluator meverifikasi informasi dan kelengkapannya lalu memilih cara analisis yang sesuai. Setelah informasi dianalis langkah berikutnya adalah pembuatan laporan. Evaluator harus mengindentifikasi siapa saja ang akan memperoleh laporan tersebut, bagaimana kerangka dan format laporan yang akan ditulis atau dikomunikasikan.
    Pelaksanaan evaluasi bukan proses yang sederhana perlu pengelolaan dari segi manusia/pelaku dan narasumber, prosedur, kontrak, biaya, pelaporan juga pertanggungjawaban. Setelah evaluasi selesai ada langkah terakhir yaitu meta evaluasi. Meta evaluasi berarti mengevaluasi suatu proses evaluasi. Meta evaluasi dilakukan oleh evaluator yang lebih tinggi.

    Daftar pustaka
    Arif, Zaenal, Evaluasi Pembelajaran Prinsip, Teknik, Prosedur , PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2010
    Fitzpatrick, Jody L, Sanders, James R, Worthen, Blaine R, Program Evaluation Alternative Approaches and Practical Guidelines, Pearson Education, 2004
    Sutikno, Muzayanah, Modul kuliah Evaluasi Program, Jakarta, 2010
    Tayibnapis, Farida Y, Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi, Rineka Cipta, Jakarta 2008.

    Tuesday, November 9, 2010

    Artificial Intelligence

    Bab 9 Bag 2 Artificial Intelligence

    Rangkuman dari buku terjemahan Pengantar SIstem Informasi karangan James O Brien

    Teknologi Kecerdasan Buatan (AI-Artificial Intelligence) digunakan dalam berbagai cara untuk DSS. Aplikasi berbasis AI digunakan dalam distribusi dan penelusuran informasi, data mining, desain produk, manufaktur, pendukung pemakai (bahasa natural), pelatihan atau simulasi, robotik, virtual reality, operasi bedah, dan penjadwalan dan manajemen yang rumit.
    AI adalah bidang iptek yang didasari ilmu-ilmu komputer, biologi, psikologi , linguistik, matermatika dan teknik. Tujuannya adalah mengembangkan komputer agar bisa berpikir , melihat , mendengar, berjalan, berbicara dan merasakan sesuatu.
    Atribut perilaku cerdas adalah
    • Berpikir dan bernalar
    • Menggunakan penalaran untuk menyelesaikan masalah
    • Belajar dan paham dari pengalaman
    • Mempelroleh dan menerapkan pengetahuan
    • Menampilkan kreativitas dan imajinasi
    • Mengatasi situasi ang rumit dan membingungkan
    • Menanggapi situasi baru dengan cepat dan berhasil
    • Mengenali elemen2 pening dalam suatu situasi
    • Mengatasi informasi yang ambigu (bermakna ganda), tidak lengkap dan
    • salah.

    Ranah AI
    1. Aplikasi Ilmu Kognitif
    Didasari penelitian di bidang biologim neurologi, pskologi, matematika dan ilmu lainnya, yang memfokuskan pada penelitian cara otak manuia bekerja, berpikir dan belajar.
    Aplikasi nya dalam Sistem pakar, sistem belajar adaptif, fuzzy logic(yang membingungkan), Jaringan Syaraf(neural network), Algoritma genetis dan agen cerdas(intelligent agents)
    2. Aplikasi Robotik
    Ilmu dasar dari robotik adalah AI, teknik dan fisiologi. Teknologi ini menghasilkan mesin robot dengan kecerdasan komputer. Memberikan robot persepsi untuk melihat, persepsi untuk meraba, ketangkasan, memanipulasi sesuatu, bergerak dan mencari arah yang tepat.
    3. Interface Alami
    Untuk membuat komputer berbicara dengan kita dan memahami kita. Misalnya pengembangan bahasa natural dan pengenalan wicara. Mencakup pengenmbangan dari bidang linguistik, psikologi, ilmu komputer dan lainnya. Untuk aplikasi interface alami perlu pengembangan alat multisensor. Bidang aplikasi yang muncul di bidang ini adalah realitas virtual (Virtual Realit – VR)

    Neural Network
    Atau dikenal dengan jaringan syaraf adalah sistem komputasi yang dibuat meniru jaringan otak yang saling berhubungan dalam memproses berbagai elemen (neuron). Prosesor dioperasikan secara paralel dan saling berhubungan untuk mengenali pola dan hubungan dari data yang diperoleh.
    Misalnya untuk mengenali karakteristik permintaan kredit. Jaringan syaraf terus dilatih untuk mengenali sehingga bisa melakukan evaluasi kredit ecara mandiri.

    Fuzzy Logic (logika kabur)
    Fuzzy logic berbeda dari logika sebelumnya dengan sistem biner ya atau tidak (0 dan 1). Namun mengenali istilah sangat tinggi, meningkat, nampak menurun, masuk akal dan sangat rendah. Fuzzy logic memungkinkan perkiraan nilai atau menebak data yang tidak lengkap, ambigu. Aplikasinya banyak dgunakan di Jepang yaitu dalam fuzzy process control dalam pengelolaan kereta api, teknologi otomotif, dan juga pada elevator.

    Algoritme genetis
    Menggunakan teori bidang evolusi oleh darwin. Berguna untuk mengevaluasi ribuan solusi mengungkinan yang harus dievaluasi dan memilih solusi optimal. Hal ini mencakup kegiatan pengacakan kombinasi (mutasi), penggabungan (crossover), memilih proses ang baik dan membuang yang buruk (seleksi alam)

    Virtual Reality (VR)
    Ralitas virtual ini disimulasikan oleh komputer sebagai usaha membagun interface komputer-manusia multisensor yang lebih alami. Menghasilkan pengalaman dunia 3 dimensi melalui penglihatan, suara dan sentuhan.
    Aplikasi digunakan dalam bidang desain,medis, eksperimen rumit atau beresiko dalam biologi dan fisika, demonstrsi produk, simulasi penerbangan dan hiburan/game.

    Intelligent Agent
    Software AI ang membantu pemakai dalam menyelesaikan tugas dalam e-business dan e-commerce. Aplikasinya dalam pencarian/search, tutor interface, memeilih media presentasi dll. Aplikasinya mirip wizard dalam microsoft Office.


    Sistem Pakar (Expert System)

    Adalah sistem informasi berbasis pengetahuan yang menggunakan pengetahuannya mengenai bidang aplikasi khusus dan kompleks untuk bertindak sebagai konsultan ahli bagi pemakai (end-users)
    Komponen Sistem Pakar
    1. Basis Pengatahuan
    Meliputi fakta bidang tertentu dan pengalaman yang mentayatakan prosedur penalaran dari seorang ahli tentang topik tertentu
    2. Software Resources (sumberdaya software)
    Berisi mesin pencari tahu, program interface pemakai dan program untuk menjelaskan pada pelanggan.

    Aplikasi sistem pakar.
    1. Manajemen keputusan
    2. Diagnostik/pemecahan masalah
    3. Desain dan konfigurasi
    4. Seleksi /klasifikasi
    5. Pengawasan atau pengendalian proses


    Metode penjelasan sistem pakar ialah berdasarkan kasus, beradasarkan batasan2, berdasarkan objek dan berdasarkan aturan.

    Manfaat sistem pakar
     Menangkap pengetahuan dari berbagai ahli
     Lebih cepat dan lebih konsisten
     Tidak lelah, tidak stress dan tidak diganggu oleh kesibukan ahli
     Memelihara keahlian dari sang ahli dan memunculkannya kembali walau sang ahli sudah tidak ada di organisasi

    Keterbatasan sistem pakar
     Tidak bsa belajar
     Biaya Pemeliharaan
     Ranah pengetahuan tertentu saja
     Fokusnya terbatas
     Biaya pengembangan yang mahal

    Pengembangan sistem pakar

    1. ranah/domain
    2. keahlian
    3. kompleksitas
    4. struktur
    5. ketersediaan

    softwarekulit luar sistem pakar yaitu software sistem pakar tanpa basis pengatahuannya. Pemakai nanti akan mengambangkan sistem pakar mereka sendiri.

    Sunday, November 7, 2010

    Sistem Pendukung Keputusan (DSS)

    Bab 9 Bag 1 Pendukung Keputusan Dalam Bisnis buku terjemahana Pengantar Sistem Informasi karangan James O Brien

    Informasi , Keputusan dan Manajemen
    Stuktur keputusan berbentuk piramida dari manajemen operasional, manajmen taktis dan yang terakhir manajemen strategis

    Kualitas Informasi
    Dari sedi waktu harus
     Tepat
     Aktual
     Periodik
     Jangka Waktu
    Dimensi Isi harus
     Akurat
     Relevan
     Lengkap
     Ringkas
     Luas
     Menunjukkan kinerja perusahaan
    Bentuk
     Jelas
     Rinci
     Sistematis
     Representatif
     Menarik

    Perbedaan SIM dan DSS
    SIM menyediakan informasi mengenai kinerja organisasi, memnyedialan informasi dan laporan periodik dengan format tertentu, Informasi ini diperolah dari hasil ekstraksi dan manipulasi data. Sedangkan DSS MEnyediakan informasi khusus untuk pendukung keputusan, menganalisi masalah dan melihat peluang. Laporan atau informasi bergantung permintaan formatnya pun disesuaikan sesuai kebutuhan. Informasi untuk DSS diperoleh dari pemodelan analitis

    Aplikasi Business Intelligence
    Fokus aplikasi
     Pendukung keputusan
     Modeling
     Menarik informasi
     Data warehousing
     Skenario apa-jika
     Pelaporan

    1. SIM
    Produk informasi yang dihasilkan SIM berupa laporan dalam bentuk

    Wednesday, November 3, 2010

    Sistem Electronic Business bag 2

    BAG II SISTEM FUNGSIONAL BISNIS

    Sistem ini melingkupi Keungan, Akuntansi, Produksi/Operasi, Pemasaran dan Manajemen SDM.

    Sistem Pemasaran
    Sistem Informasi Pemasaran meliputi
     Pemasaran interaktif (transaksi 2 arah antara perusahaan dan pelanggan)
     Sistem Otomatisasi Penjualan
     CRM
     Manajemen Penjualan
     Riset pasar
     Iklan dan Promosi yang bersasaran (komunitas, isi, konteks, demografis dan fisik dan Perilaki Online
     Manajemen produk/jasa

    Sistem Produksi
    SI produksi termasuk juga manufaktur berkaitan dengan seluruh aktivitas perncanaan dan pengendalian proses dalam menghasilkan produk/jasa.

    CIM (Computer Integrated Manufacturing)
    Tujuan sistem berbasis komputer dalam produksi harus
     Menyederhanakan/merekayan ulang (reengineering) proses produksi, desain produk dan organisasi pabrik.
     Otomatisasi
     Integrasi
    Tujuan umum CIM untuk menciptakan proses produksi yang fleksibel dan lincah yang efisien untuk produk yang berkualitas tinggi.


    Sistem CIM ini mencakup
     CAM (Computer Aided Manufacturing)
     MES (Manufacturing Execution System)
     Proses kontrol
     Machine control
    CIM ini juga mengintegrasikan Engineering System CAD-Computer Aided Design dan CAE(Computer Aided Engineering)dan MRP (Material Requirements Planning)

    Sistem SDM
    SI SDM (HRIS –Human Resource Information System) selain menangani laporan pengganjian, data karyawan dan penempatan di bidang produksi, kini HRIS juga mendukung
     Perekrutan, seleksi dan penerimaan karyawan
     Penempatan
     Penilaian kinerja
     Analisis kompensasi dan tunjangan karyawan
     Pelatihan dan pengembangan
     Kesehatan dan keselamatan kerja


    Internet digunakan Sistem HRM online untuk perekrutan karyawan. Juga banyak terdapat situs web khusus untuk pelamar kerja dan perusahaan yang membutuhkan karyawan.




    Sistem Akuntansidan Managemen Keuangan
    SI Akuntansi adalah SI tertua yang palign banyak digunakan di berbagai perusahaan.
    Umumnya meliputi
     Pemrosesan pesanan pelanggan
     Pengendalian persediaan
     Piutang
     Utang usaha
     Penggajian
     Buku Besar (general ledger)
    SI Akuntansi online berhubungan dengar pemrosesan transaksi




    Sistem Manajemen Keuangan
    Sedangkan SI Keuangan mencakup
     Manajemen Kas, Manajemen Investasi, Modal Anggaran dan Perencanaan Keuangan

    Disarikan dari
    O Brien, James. Pengantar Sistem Informasi, Salemba Empat, Jakarta , 2006
    O Brien, James, Presentation Slides, Management Information System, 2006

    Tuesday, November 2, 2010

    Asumsi dalam Ilmu (Ontologi Filsafat Ilmu bag 3)

    by dwining bintarawati


    Asumsi dalam Ilmu

    Waktu kecil segalanya kelihatan besar, pohon terasa begitu tinggi, orang-orang tampak seperti raksasa Pandangan itu berubah setelah kita berangkat dewasa, dunia ternyata tidak sebesar yang kita kira, wujud yang penuh dengan misteri ternyata hanya begitu saja. Kesemestaan pun menciut, bahkan dunia bisa sebesar daun kelor, bagi orang yang putus asa.
    Katakanlah kita sekarang sedang mempelajari ilmu ukur bidang datar (planimetri). Dengan ilmu itu kita membuat kontruksi kayu bagi atap rumah kita. Sekarang dalam bidang datar yang sama bayangkan para amuba mau bikin rumah juga. Bagi amuba bidang datar itu tidak rata dan mulus melainkan bergelombang, penuh dengan lekukan yang kurang mempesona. Permukaan yang rata berubah menjadi kumpulan berjuta kurva.

    Asumsi dan Skala Observasi
    Mengapa terdapat perbedaan pandangan yang nyata terhadap obyek yang begitu kongkret sperti sebuah bidang? Ahli fisika Swiss Charles-Eugene Guye menyimpulkan gejala itu diciptakan oleh skala observasi. Bagi skala observasi anak kecil pohon-pohon natal itu begitu gigantik, sedangkan bagi skala observasi amuba, bidang datar ini merupakan daerah pemukiman yang berbukit-bukit.
    Jadi secara mutlak sebenarnya tak ada yang tahu seperti apa sebenarnya bidang datar itu. hanya Tuhan yang tahu! Secara filsafati mungkin ini merupakan masalah besar namun bagi ilmu masalah ini didekati secara praktis. Seperti disebutkan terdahulu ilmu sekadar merupakan pengetahuan yang mempunyai kegunaan praktis yang dapat membantu kehidupan manusia secara pragmatis. Dengan demikian maka untuk tujuan membangun atap rumah, sekiranya kita asumsikan bahwa permukaan papan itu adalah bidang datar, maka secara pragmatis hal ini dapat dipertanggungjawabkan.

    Asumsi dalam Matematika dan Ilmu Alam
    Marilah kita lihat ilmu yang termasuk paling maju dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya yakni fisika. Fisika merupakan ilmu teoretis yang dibangun di atas sistem penalaran deduktif yang meyakinkan serta pembuktian induktif yang sangat mengesankan. Namun sering dilupakan orang bahwa fisika pun belum merupakan suatu konsep yang utuh. Artinya fisika belum merupakan pengetahuan ilmiah yang tersusun secara sistemik, sistematik, konsisten, dan analitik berdasarkan pernyataan-pernyataan ilmiah yang disepakati bersama. Di mana terdapat celah-celah perbedaan dalam fisika? Perbedaannya justru terletak dalam fondasi di mana dibangun teori ilmiah di atasnya yakni dalam asumsi tentang dunia fisiknya.


    Ontologi dan Metafisika

    by shinta dewi

    A. Pengertian Ontologi
    Pembahasan utama makalah ini adalah mengenai Ontologi, yang mempertanyakan hakikat “apa” yang dikaji oleh ilmu. Pertanyaan itu kemudian diuraikan lagi menjadi objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud hakiki dari objek tersebut? Dan bagaimana hubungan objek tadi dengan daya tangkap manusia (hlm. 33)
    Istilah “ontologi” berasal dari kata Yunani “onta” yang berarti sesuatu “yang sungguh-sungguh ada”, “kenyataan yang sesungguhnya”, dan logos” yang berarti “studi tentang”, “studi yang membahas sesuatu” . Jadi dari segi istilah ontologi berarti studi yang membahas sesuatu yang ada.
    Objek material ontologi adalah yang ada, artinya segala-galanya meliputi yang ada sebagai wujud konkret dan abstrak, indrawi maupun tidak indrawi. Objek formal ontologi adalah memberikan dasar yang paling umum tiap masalah yang menyangkut manusia, dunia dan Tuhan. Titik tolak dan dasar ontologi adalah refleksi terhadap kenyataan yang paling dekat yaitu manusia sendiri dan dunianya. Dengan demikian, ontologi berarti sebagai usaha intelektual untuk mendeskripsikan sifat-sifat umum dari kenyataan; suatu usaha untuk memperoleh penjelasan yang benar tentang kenyataan; studi tentang sifat pokok kenyataan dalam aspeknya yang paling umum sejauh hal itu dapat dicapai; teori tentang sifat pokok dan struktur dari kenyataan
    Objek yang dikaji oleh ilmu adalah semua objek yang empiris, yaitu objek yang bisa ditangkap oleh panca indera. Sebab bukti-bukti yang harus ditemukan adalah bukti-bukti yang empiris. Bukti empiris ini diperlukan untuk menguji bukti rasional yang telah dirumuskan dalam hipotesis.
    Apakah objek yang boleh diteliti ilmu itu bebas asalkan empiris? Menurut ilmu, ia boleh meneliti apa saja ; menurut filsafat akan tergantung filsafat yang mana dan menurut agama belum tentu bebas. Jadi sebaiknya seorang ilmuwan harus mempunyai pertimbangan mengenai objek apa yang akan dia kaji.
    Ilmu mempelajari objek yang berupa realitas dunia fisik. Cabang kefilsafatan yang mempelajari hakikat realitas disebut metafisika. Metafisika sendiri terdiri dari dua aspek yakni ontologi dan kosmologi.

    B. Metafisika
    Istilah metafisika yang berasal dari bahasa Yunani: µετά (meta) “setelah atau di balik”, φύσικα (phúsika) “hal-hal di alam” adalah cabang filsafat yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia. Metafisika adalah studi keberadaan atau realitas. Metafisika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah sumber dari suatu realitas, apakah Tuhan ada, dan sebagainya. Metafisika dapat berarti sebagai usaha untuk menyelidiki alam yang berada di luar pengalaman atau menyelidiki suatu hakikat yang berada di balik realitas. Cabang utama metafisika adalah ontologi, studi mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan hubungan antara satu dan lainnya. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia, termasuk keberadaan, kebendaan, sifat, ruang, waktu, hubungan sebab akibat, dan kemungkinan.
    Metafisika berusaha menjangkau dan mengkaji apakah hakikat dari kenyataan/realitas ini sebenar-benarnya. Metafisika merupakan bagian dari filsafat Perennial yang diperuntukan untuk mengetahui adanya hakikat realitas Ilahi yang merupakan substansi dunia ini baik yang material, biologis maupun intelektual.
    Metafisika merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafati termasuk pemikiran ilmiah. Diibaratkan pikiran adalah roket yang meluncur ke bintang-bintang, menembus galaksi dan awan gemawan, maka metafisika adalah landasan peluncurannya. Dunia yang sepintas lalu kelihatan sangat nyata ini ternyata menimbulkan berbagai spekulasi filsafati tentang hakikatnya.
    Beberapa tafsiran Metafisika:
    1. Animisme
    Animisme adalah kepercayaan yang berdasarkan pemikiran supernaturalisme, dimana manusia percaya bahwa terdapat roh-roh yang bersifat gaib yang terdapat dalam benda-benda seperti: batu, pohon dan air terjun. Animisme merupakan kepercayaan yang paling tua umurnya dalam sejaran perkembangan kebudayaan manusia dan masih di peluk oleh beberapa masyarakat di muka bumi.

    2. Materialisme
    Materialisme merupakan lawan dari aliran anisme. Materialisme merupakan paham yang berdasaran paham naturalisme, yang berpendapat bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang bersifat gaib, melainkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri. Paham ini dikembangkan oleh Demokritos ( 460-370 SM ). Kaum yang mendukung paham ini adalah kaum mekanistik, mereka melihat gejala alam (termasuk makhluk hidup) hanya merupakan gejala kimia fisika semata. Adapun kaum yang menentang paham ini adalah kaum vitalistik yang berpendapat bahwa hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substansi dengan proses tersebut di atas.

    3. Aliran monistik
    Aliran monistik mula-mula dipakai oleh Christian Wolff , mempunyai pendapat yang tidak membedakan antara pikiran dan zat, mereka hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai substansi yang sama. Ibarat zat dan energy, dalam teori relativitas Einstein, energy merupakan bentuk lain dari zat. Jadi yang membedakan robot dan manusia bagi kaum yang menganut paham monistik hanya terletak pada komponen dan struktur yang membangunnya dan sama sekali bukan terletak pada substansinya yang pada hakikatnya berbeda secara nyata. Kalau komponen dan struktur robot sudah dapat menyamai manusia, maka robot itu bisa menjadi manusia.

    4. Aliran Dualistik
    Terminologi dualisme ini mula-mula dipakai oleh Thomas Hyde (1700). Dalam metafisika penafsiran dualistik membedakan antara zat dan pikiran yang bagi mereka berbeda secara substantive. Filsuf yang menganut paham dualistik ini diantaranya adalah Rene Decrates (1596-1650), John Locke (1632-1714) dan George Berkeley (1685-1753). Ketiga berpendapat bahwa apa yang ditangkap oleh pikiran, termasuk penginderaan dari segenap pengalaman manusia, adalah bersifat mental. Bagi Descartes maka yang bersifat nyata adalah pikiran sebab dengan berpikirlah maka sesuatu itu lantas ada. Locke sendiri menganggap bahwa pikiran manusia pada mulanya dapat diibaratkansebuah lempeng lilin yanglicin dimana pengalaman indera lalu melekat pada lempeng tersebut. Makin lama makin banyak pengalaman indera yang terkumpul dan kombinasi dari pengalaman-pengalaman indera ini seterusnya membuahkan ide yang kian lama kian rumit. Dengan demikian pikiran dapat diibaratkan sebagi organ yang menangkap dan menyimpan pengalaman indera.

    Objek metafisika menurut Aristoteles, ada dua yakni :
    1. Ada sebagai yang ada; ilmu pengetahuan mengkaji yang ada itu dalam bentuk semurni-murninya, bahwa suatu benda itu sungguh-sungguh ada dalam arti kata tidak terkena perubahan, atau dapat diserapnya oleh panca indera. Metafisika disebut juga Ontologi.
    2. Ada sebagai yang Illahi; keberadaan yang mutlak, yang tidak bergantung pada yang lain, yakni TUHAN (Illahi berarti yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera).
    Ilmu merupakan pengetahuan yang mencoba menafsirkan alam ini sebagaimana adanya. Kalau memang itu tujuannya maka kita tidak bisa melepaskan diri dari masalah-masalah yang ada di dalamnya. Makin jauh kita beravontur dalam penjelajahan ilmiah masalah-masalah tersebut diatas mau tidak mau akan timbul: Apakah dalam batu-batuan yang saya pelajari di laboratorium terpendam proses kimia fisika atau bersembunyi roh yang halus? Apakah manusia yang begitu hidup, semua itu proses kimia fisika juga? Apakah pengetahuan yang saya dapatkan itu bersumber pada kesadaran mental atau hanya rangsang penginderaan belaka?
    Semua permasalahan in telah menjadi bahan kajian dari ahl-ahli filsafat sejak dahulu kala. Tersedia gudang filsafat dalam menjawabnya. Kita bisa setuju dengan mereka dan kita pun bisa tidak setuju dengan mereka. Bahkan, kita pun boleh mengajukan jawaban filsafat kita.
    Jadi pada dasarnya tiap ilmuan dapat boleh mempunyai filsafat individu yang berbeda-beda; dia bisa menganut paham mekanistik; dia bisa mengaut paham vitalistik; dia boleh setuju dengan Thomas Hobbes yang materialistic atau George Berkeley yang idealistik. Titik pertemuan kaum ilmuan dari semua ini adalah sifat pragmatis dari ilmu.


    DAFTAR PUSTAKA

    Anshari, Endang Saifuddin. Ilmu, Filsafat, & Agama. PT Bina Ilmu. Surabaya, 2009.
    Kattsoff, Louis O. Pengantar Filsafat, penerjemah Seojono Soemargono ,Tiara Wacana, Yogyakarta 1995.
    Suriasumantri, Jujun, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, PT Pancaraintan Indahgraha, Jakarta, 2007
    Tafsir, Ahmad. Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistomologi dan Aksiologi Pengatahuan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2010.

    Monday, November 1, 2010

    Sistem e-business bag 1

    Bab 9 Pengantar Sistem Informasi Managemen (James O brien)

    BAG I Sistem Bisnis Perusahaan

    e-business adalah penggunaan internet dan jaringan seta teknologi informasi laniinya untuk mendukung e-commerce, komunikasi dan kerjasama perusahaan, dan berbagai proses yang dijalankan melalui web, baik di jaringan perusahaan ataupun dengan pelanggan dan mitra bisnis.
    Di bagian 1 ini akan dibahas menganai CRM, ERP dan SCM

    Perusahaan mengembangkan aplikasi lintas fungsi perusahaan terintegrasi yang melintasi batas fungsi tradisional bisnis agar dapat merekayasa ulang dan meningkatkan proses bisnis di semua lintas fungsi perusahaan. Software2 yang byk dipakai adalah ERP, CRM dan SCM dari SAP, Peoplesoft atau oracle.
    Software ini berfokus untuk mendukung proses bisnis terintegrasi yang terlibat dalam operasional bisnis.

    Arsitektur Aplikasi Perusahaan
    Yaitu menggambarkan hubungan antar aplikasi perusahaan lintas fungsi yang memberikan kerangka kerja konseptual untuk membayangkan berbagai komponen dasar proses dam interface dai e-business.
    ERP (Enterprise Resource Planning) berfokus pada efisiensi produk internal perusahaan, sistribusi dan proses keuangannya. CRM berfokus pada proses dan mendapatkan dan mempertahankan pelanggan yang berharga meliputi pemasaran, penjualan dan layanan. Partner Relationship Management-PRM bertujuan mendapatkan dan memelihara para minatra untuk meningkatkan penjualan dan sitribusi produk. SCM fokus pada pengembangan resources dan prose mendapatkan yang efisien dan efekif. Knowledge management berfokus pada alat untuk mendukuing kerjsa sama kelompok dan pengambilan keputusan.

    ERP
    Tulang punggung lintas fungsi perusahaan. Integraswi dan otomatisasi fungsi produksi, logistik, distribusi, keungan dan SDM. ERP menyajikan data real time integrasi atas proses bisnis yagn disatukan dari ERP dan DBMS.
    Manfaat
     Kualitas dan efisiensi
     Penurunan biaya
     Pendukung Keputusan
     Kelincahan perusahaan

    Tentunya implementasi ERP besar-besaran ini bukan tanpa resiko.
    Berbagai penyebab kegagalannya adalah
     Meremehkan keruminta perencanaan , pengembangan dan pelatihan yang dibutuhkan untuk mempersiapkan sistem baru yang radika;
     Cara yang terlalu cepat dalam proses konversi
     Belum adanya pengujian yang cukup atas data.

    CRM (Customer Relationship Management)
    Tujuan
    1. Memberikan data seorang pelanggan secara lengkap terhadap organisasi yang dan karyawan yang berhadapan langsung dengan pelanggan
    2. Memberikan pelanggan tentang pandangan lengkap tentang perusahaan.
    CRM termasuk TI sistem lintas fungsi yang mengintegrasi dan mengotomatisasi proses2 layanan pelanggan dalam penjualan, pemasaran dan layananan pelanggan (CS). CRM juga mengintegrasikan proses ini dengan database operasi bisnis lainnya melalui web.


    Komponen –komponen/Kelompok aplikasi utama dalam CRM
     Manajemen Kontak dan Rekening (Contact and Account Management)
     Penjualan
     Pemasaran dan Pemenuhan Pesanan
     Dukungan dan Layanan Pelanggan
     Program Retensi dan Loyalitas

    Manfaat CRM
     Mengidentifikasi pelanggan terbaik
     Personalisasi dan penyesuaian secara realtime terhadap siklus keinginan dan kebutuhan pelanggan
     Penelusuran kontak
     Menyediakan layanan superior distiap titik kontal pelanggan

    Kegagalan CRM
    50% perusahaan merasa CRM tidak memberi hasil yang menjanjikan. 20 % perusahaan yang disurvei malah mengatakan CRM merusak hubungan dengna pelanggan lama.
    Dari penelitian alasannya adalah kurangnya pemahaman dan persiapan.


    SCM (Supply Chain Management)– Jaringan Bisnis
    SCM membantu mengelola rantai pasokan dengan efisien. Membantu mendapatkan produk pada tempat yang tepat, waktu yang tepat dan jumlah yang tepat. SCM memperkirakan permintaan, mengendalikan persediaan dan meningkatkan jaringan hubungan antara perusahaan dengan pelangggan , pemasok, distributor dan mitra perusahaan.
    SCM ini meruapakan sistem lintas fingsi yang menggunakan TI yang bertujuan mencioptakan jaringan yang cepa, efisien, berbiaya rendah dan membuat produk perusahaan beranjak dari konsep menuju pasar.

    Manfaat SCM
     Pemorsesan yang lebih cepat dan akurat
     Mengurangi inventori
     lebih cepat ke pasaran
     mengurangi biaya transaksi dan material
     hubungan strategis dengan supplier

    Enterprise Application Integration (EAI)
    Software EAI digunakan oeleh perusahaan untuk menghubungkan aplikasi e businos spt CRM dan ERP. EAI menyediakan middleware untuk melakukan konversi dan koordinasi data. Software ini mengintegrasikan aplikasi dari depan dan belakang perusahaan. EAI mempersingkat pemrosesan pesanan produk dan jasa shg lebih cepat ke tangan pelanggan.

    Sistem Pemrosesan Transaksi
    Atau dikenal dengan TPS (Transaction Processing System) adalah sistem informasi lintas fungsi yang menproses dara dari traksaksi bisnis. Traksaksi ini kegiatan aktivitas bisnis spt penjualan, pembelian, penyimpanan, pembayaran dan penagihan.
    Online TPS atau OLTP memainkan perasana strategis dalam e-commerce.
    Siklus pemrosesan traksaksi meliputi entri data, pemrosesan traksaksi, pemeliharaan database, pembuatan dokumen dan laporan dan pemrosesan pesanan.

    Enterprise Collaboration System (ECS)
    Sistem kerjasama perusahaan ini adalah SI lintas fungsi yang meningkatkan komunikasi, koordinasi dan kerjasama antar anggota tim bisnis dan kelompok kerja.
    Perangkat yang digunakan meliputi
     perangkat komunikasi elektronik
     Conference tools
     Perangkat kerjasama kelompok spt pembuatan jadwal, manajemen projek, alur kerja.

    Manajemen Data Resources

    BAG I MENGELOLA SUMBER DAYA DATA

    (disarikan dari  bab 5 buku terjemahan karangan James O Brien, Pengantar Sistem Informasi)
    Manajemen Sumber Data
    Data merupakan sumber daya penting organisasi yang perlu dikelola seperti aset penting bisnis lainnya. Manajemen sumber daya data adalah sebuah aktivitas manajerial yang mengaplikasikan teknologi sistem informasi dalam tugas untuk mengelola sumber daya data organisasi. Tujuan adalah agar dapat memenuhi kebutuhan informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam bisnis.
    Aplikasi teknologi SI yang digunakan seperti manajemen data base, gudang data dan alat manajemen data lainnya.

    Dasar-dasar Konsep Data
     Karakter
    Elemen data yang paling dasar (dari sudut pandang pemakai), yang dapat berupa huruf, angka atau simbol lainnya (alphabet, numeric, symbol, alphanumeric)
     Field
    Bagian data/data item yang mewakili sebuah atribut. Misallnya karakter huuf menjadi field nama. Contoh lainnya adalah gaji karyawan yang mendeskripsikan entitas karyawan. Field dalam tabel database biasanya dalam bentuk kolom.
     Catatan/record
    Banyak field data yang merupakan kumpulan atribut yang berhubungan dikelompokkan dan membentuk catatan/record. Record mendesktripsikan sebuah entitas. Misal catatan pengganjian seseorang terdiri dari atribut nama orang, nomor karyawan, dan besar gaji. Catatan biasanya berbentuk baris.
     File
    Sekelompok record membentuk file atau tabel. Misal menjadi file pengganjian, file persediaan, file murid.
    Dikenal juga masterfile sebagai file induk dan ada juga file transaksi untuk periode tertentu.
     Database
    Database berisi berbagai elemen data yang mendeskripsika entitas dan hubungan antar entitas. Database menghubungkan catatan yang disimpan dalam file-file terpisah.

    Jenis- jenis database
    1. Database operasional
    Database ini menyimpan data rinci yang mendukung proses dan operasi bisnis perusahaan.Dikenal juga sebagai SADB atau subject area database atau database transaksi. Contohnya adalah database pelanggan, persediaan, database karyawan
    2. Database terdistribusi
    Perusahaan/organisasi mendistribusi berbagai kopi atau bagian dari database nya ke berbagai server jaringan bisa di World Wide Web, intranet dan ekstranet perusahaan.
    3. Database eksternal
    Banyak akses database eksternal secara gratis dapat dinikmati secara online. Bentuknya bisa hyperlink dari dokumen multimedia dalam database hipermedia atau berupa statistik data atau dokumen. Data bisa dilihat lengkap spt abstrak, koran, majalah jurnal atau juga di download.
    4. Database hipermedia
    Database hyperlink dari multimedia (teks, grafik, foto, gambar, audio, video dan lain2). Software server web bertindak sebagai sistem manajemen database untuk mengelola berbagai file hipermedia untuk di download oleh plug in multimedia dalam browser web.

    Gudang data dan penambangan data (Data Warehouse dan Data mining)
    Gudang data menyimpan berbagai data yang telah diekstraksidiambil dari berbagai database operasional, eksternal dan database organisasi lainnya. Data telah diubah dan dikatalogkan agar nanti bisa dipakai oleh manager dan praktisi bisnis lainnya untuk penambangan data dan analisis data bisnis. Ada juga yang dinamakan datamart yaitu berisi kumpulan kecil data dari gudang data yang berfolus pasa aspek-aspek tertentu dalam perusahaan. Ada juga istilah metadata yaitu data yang mendefinisikan data yang ada di gudang data

    Penambangan Data (data mining)
    Merupakan penggunaan utama dari database dalam gudang data. Data di suatu gudang data dianalisis untuk mengungkap pola atau ren tersembunyidalam aktivias bisnis yang telah lalu. Hal ini dipakai untuk membantu manajemen mengambil keputusan mengenai perubahan strategis dalam operasi bisnis untuk mencari peluang keunggulan kompetetif baru.
    Manfaat penambangan data
     Melakukan analisis berbasis pasar, untuk mengidetifikasikan paket produk
     Menemukan akar dari masalah kualitas atau produksi
     Mencegak penurunan pelanggan atau mendapat pelanggan baru
     Penjualan lintas pelanggan yangtelah ada
     Mendapatkan gambaran yang lebih akurat tentang pelanggan

    Pemrosesan File secara tradisional
    File-file bersifat independen dalam sebuat catatan/record. Setiap file digunakan oleh aplikasi yang berbeda.
    Masalah2 yang dihadapi
     Penumpukan data
     Kurangnya intergrasi data
     Ketergantungan data
     Ketidak konsistenan data juga masalah keamanan data

    Pendekatan Manajemen Database
    Masalah pada pemrosesan file secara tradisional dicoba diatasi oleh pendekatan database management system (DBMS). Di sni data dikonsolidasikan yang sebelumnya berada dalam file-file terpisah. DBMS berfungsi seagai interface software antara pemakai dan database.

    Database Management Software
    DBMS adalah software utama dalam pendekatan manajemen database. Software ini mengendalikan pembuatan, pemeliharaan dan penggunakaan database organisasi dan end users. Contoh DBMS software yatiu MS. Access, Lotus Approach dan Corel Paradox. Database ini bisa dikelola di PC , server jaringan ataupun web.
    Tiba fungsi manajemen database
     Membuat database baru dan aplikasi database
     Memelihara kualitas data
     Menggunakan database organisasi untuk informasi pada end users


    Interogasi Database (Database Interrogation)
    End user menggunakan database untuk meminta informasi dari database dengan menggunakan fitur query atau report generator.
    Bahasa permintaan standar internasional yang digunakan dalam DBMS adalah SQL (Structured Query Languange). Namun adakalanya bahasa SQL sukar dimengerti/digunakan oleh end user sehingga digunakalah bahasa natural dan GUI (Graphical user interface) dengan tunjuk dan klik yang lbh user friendly. GUI dan bahasa natural ini diterjemahkan oleh software ke SQL.

    DBMS juga menyeddiakan utilitas untuk pemeliharaan database. Selain itu DBMS berperan pentin galan pengembangan aplikasi. Para sistem analis dan pengembang aplikasi menggunakan bahasa pemrograman 4GL untuk mengembangkan program aplikasi khusus tampilan form, report atau web page.

    Bagian II. DASAR-DASAR TEKNIS MANAJEMEN DATABASE

    Struktur Database
    1. Struktur Hirarkis
    Membentuk hirarki atau struktur seperti pohon. Hubungan antar record adalah hubungan pemetaan satu- ke banyak.

    2. Struktur Jaringan
    Pengembangan dari struktur hirarkis yang memungkinkan hubungan pemetaan banyak- ke banyak



    3. Struktur relasional
    Berbentuk tabel-tabel yang dikaitkan denga suatu hubungan (relational). Model ini banyak digunakan dalam software DBMS sepert MS Access. Struktur ini dapat menghubungkan bergai elemen data dai berbagai tabel untuk keperluan end user.

    4. Struktur Multidimensional
    Variasi dr model relational yang menggunakan struktur multidimensi(kubus-3 dimensi) untuk mengatur data dan menyajikan hubungan antar data. Digunakan untuk mmemanipulasi data yang memeiliki banyak hubungan. Struktur ini mendukung aplikasi OLAP (Online Analytical Application).

    5. Struktur berorientasi objek
    Model OODBMS (Object Oriented DBMS) ini termasuk generasi baru yang mendukung aplikasi multimedia berbasis web. Kemampuan melakukan pemangkasan memungkinkan model in imenangani data2 yang lebih rumit spt gambar , grafik, audio. Model OODBMS ini mendukung pewarisan (inheritance) dg mereplikasi karakteristik dan objek asal atau parent-nya.
    Untuk data yg lebih rumit seperti halaman web database model ini jauh lebih efisien dari database relational.

    Evaluasi Struktur Database
    Model struktur hirarkis digunakan untuk pemrosedan traksaksi yang bersifat rutin danterstruktur. Kelemahannya banyak informasi dari record yang dibutuhkan tidak memiliki hub. Hirarkis.
    Struktur jaringan lebih fleksibel dari struktir hirarkis karena mendukung hubungan banyak – ke banyak.
    Di lain pihal database relational membuat pemakai akhir lbih mudah menarik informasi sebagai respon dari query/permintaan khusus. Kekurangan DBMS relational adalh ketika pemrosesan data besar dalam jumlah banyak. Untuk mengatasi ini DBMS relational menambahkan pula pengembangan dengan model berorientasi objek. Denga teknologi ini memungkinkan untuk menerapkan OLAP dan aplikasi berbasis web.

    Pengembangan database

    Database Adminstrator atau DBA menggunakan DDL (data definition language) untuk menspesikfikasi isi daa, hubungan dan struktur dari setiap databasem, Infomasi ini dikatalogkan dan disimpan dalam database definisi data dalam bentuk kamus data. Atau kata lain kamus data adalah tempat penyimpanan metadata.
    Pengembangan database ini membuthkan aktibitas perencanaan data dan desain database

    Perencanaan Data dan desain database
    Proses perencanaan ini dimulai dari atas ke bawah. Para DBA awalnya bekerja dengan manajer dari endsuser untuk mengambangkan model. Lalu digali kebutuhan informasi dari para end user. End user ini mengidentifikasi elemen elemen data utama yang dibutuhkan unuk aktivitas bisnis harian/tertentu mereka. Pemuatan model ini dapat menggunakan ERD (entity relationshio diagram). Stiap model data mwakili hubungan logis dari data dan hubungan database.
    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...