Search This Blog

Loading...

Monday, November 28, 2011

King Sejong: Raja Korea yang Peduli Pendidikan

Sempet agak bingung nih ini postingan ttg korea ini masuk nana-catatanku atau catata-nana, berhubung catatan-nana udah lama ga posting dan ini juga mencakup pendidikan, masuk di sini deh

Tulisan ini terinspirasi dari drama Tree With Deep Roots

Raja Sejong yang punya julukan King Sejong The Great (Sejong Daewang) atau Raja Sejong Yang Agung adalah salah seorang raja dari dinasti Joseon (chosun) pada abad ke 15 (1418-1450). Raja ke 3 (atau ke 4?) dari dinasti Joseon yang baru berdiri. Sebelumnya berkuasa dinasti Goryeo. Salah satu prestasi terkenal dari Raja Sejong adalah beliau menciptakan aksara Hangul, yaitu aksara yang dipakai di korea saat ini. 


Al kisah Raja Sejong ini raja yang peduli dan cinta pada rakyatnya. Dia adalah seorang humanis,  yang menganut ajaran Konfusius (Kong Hu Cu). Raja Sejong berbeda sekali dengan ayahnya raja terdahulu, Raja Tae Jong yang memerintah dengan kekerasan. Menurut Raja Sejong kekerasan militer hanya digunakan untuk pertahanan dari serangan luar bukan kepada rakyat sendiri. Prinsip yang dia anut lunak di dalam keras di luar.

Raja Sejong peduli akan pendidikan, sains dan penelitian. Beliau mendirikan suatu perpustakaan yang dikenal dengan Jipyeonjeon yang berarti Balai Kemanfaatan, sebagai tempat raja berdiskusi dan belajar dengan para kaum terpelajar.
Dia mempunyai cita-cita besar bahwa rakyatnya harus bisa membaca. Tidak peduli apa itu tua muda, dari golongan atas atau golongan budak terbawah harus bebas buta aksara. Jargon yang beberapa dekade belakangan ini digunakan PBB yaitu Education for All, dan bertujuan agar tidak ada lagi orang dewasa buta aksara di dunia ini, rupanya sudah ada dalam pikiran raja Sejong beberapa abad yang lalu. Masalah yagn dihadapi rakyat bawah korea saat itu adalah bahwa aksara yang dipakai saat itu yaitu aksara Cina , 漢字 hànzì atau kanji  atau hanja dalam bahasa korea susah dipelajari. Apalagi golongan rakyat bawah disibukkan untuk bekerja untuk penghidupannya.

Aksara Cina sendiri adalah aksara yang sudah ditemukan dari 2000 tahun sebelum masehi, yang aksaranya digunakan di kekaisaran besar Cina dan juga negera-negara sekutu/boneka di sekitarnya. Aksara Cina , Menurut Faber adalah termasuk aksara logographic. Setiap karakternya melambangkan symbol tertentu dan mempunyai arti dan akar filosofi tertentu. Jika satu karakter satu makna bayangkan terdapat ribuan bahkan saat ini lebih dari sepuluh ribu kanji untuk setiap arti. Kalangan bawah yang bukan kalangan terpelajar dan tidak punya waktu banyak untuk belajar akan sulit untuk menghafalkan syarat minimal percakapan sehari-hari yaitu sekitar 1000 karakter hanzi. Padahal seperti yang diinginkan Raja Sejong paling tidak rakyatnya bisa membaca untuk bisa membaca pengumuman penting atau surat penting. Dalam drama Tree With Deep Roots dikisahkan pada saat wabah terjadi banyak sekali korban di suatu desa karena orang-orang di sana tidak bisa membaca pengumuman yang ditempel.

Dengan latar belakang itulah Raja Sejong bertekad untuk menciptakan aksara korea sendiri, aksara yang secara bentuk lebih simpel dari aksara Cina yang ada, lebih sedikit dan lebih mudah dipelajari. Beliau mengubah kebiasaan logographic saat itu menjadi aksara yang dikelompokkan berdasarkan bunyi/ fonetik. Dan hasilnya fantastis, untuk keperluan tulis menulis yang saat itu harus memakai atau menghafal ribuan karakter, aksara Hangul ini hanya terdiri dari 28 karakter, 17 konsonan dan 11 huruf vokal. Bentuknya juga lebih sederhana hanya terdiri dari kombinasi 1-3 garis mendatar/horisontal, lingkaran dan 1-2 titik. Dan diharapkan hanya dalam 1 hari orang biasa pun bisa mempelajari huruf-huruf itu.
Uniknya hangul beda dengan karakter di dunia yang ada bahwa walaupun huruf tersebut berdasarkan bunyi tapi kemudian huruf itu digabungkan dalam kelompok suku kata yang membentuk satu arti. Dalam hal ini Daniel menyebut huruf hangul sebagai "sophisticated grammatogeny".

Kemunculan Huruf Hangul yang diciptakan sendiri oleh Raja Sejong dan tim rahasia dari Balai Kemanfaatan mendapat tantangan dan reaksi negatif dari para kaum terpelajar Konfisian saat itu. Mereka yang terbiasa mempelajari literatur dengan aksara Cina yang penuh dengan filosofi  mengaggap aksara baru ini sebagai pembodohan.   Ternyata di mana-mana, dari dulu atau sekrang, kemunculan hal baru selalu mendapat kritikan atau tantangan,  Toh nyatanya walau sempat dilarang jaman pendudukan Jepang, saat ini  huruf Hangul adalah huruf resmi yang digunakan sehari-hari di Korea.


source :
Drama Korea Tree With Deep Roots

4 comments:

  1. teteh cerita di Deep root tre itu pa beneran ada mill bongnya??

    ReplyDelete
  2. hehe kalau soal milbon itu tteh ga tau Apni :) tapi bahwa kemunculan huruf hangul ditentang kaum terpelajar itu ada ceritanya. kaum terpelajar juga punya kepentingan sendiri

    ReplyDelete
  3. Hey! I just wish to give a huge thumbs up for the great info you’ve gotten right here on
    this post. I will be coming back to your blog for more soon.



    Here is my blog; sempio canned sesame fresh leaves 90g x 4 cans

    ReplyDelete

Silakan tinggalkan komentar Anda

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...