Search This Blog

Loading...

Sunday, February 20, 2011

IQ, EQ dan SQ


Pengukuran Intelegensi Intelektual dimulai dengan konsep mengenai IQ yang dikemukakan oleh William Stern [1] yang menyatakan bahwa
              IQ = Mental Age/Chronological Age x 100
Pengukuran ini awalnya dilakukan oleh Binet dan kemudian disempurnakan oleh Stanford sehingga akhirnya dikenal dengan nama Tes Stanford-Binet. Tes IQ yang lain dikembangkan oleh Wechsler.
              Memang telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa secara umum ada korelasi antara nilai sekolah dengan hasil tes intelegensi individu [2]. Namun apakah nilai tes IQ yang tinggi juga mendapatkan lebih banyak keberhasilan dalam hidup? Anita Woolfolk juga mengatakan bahwa jawabannya belum jelas [3].
              Keraguan mengenai IQ juga menentukan keberhasilan karir dan kehidupan akhirnya memunculkan konsep adanya kecerdasan lainya selain IQ. Tahun 1990 Mayor dan Salovey memulai konsep mengenai Emotional Intellegence. Dan kemudian dipopulerkan oleh Daniel Goleman tahun 1995 dengan bukunya Emotional Intellegence. Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memproses dan menggunakan informasi emosional secara akurat dan efisien[4]. Menurut Goleman seperti yang dikutip Taufik Pasiak bahwa IQ hanya menyumbang 5-10% dari kesuksesan hidup, sisanya adalah dari kecerdasankecerdasan yang lain [5]. Orang yang mempunyai kecerdasan emosi yang baik mampu mengenali dirinya dan bisa memotivasi dirinya (intrapersonal). Selain itu dia juga mampu mengenali dan memhami perasaan orang lain (interpersonal)
              Tahun 1997 Zohar dan Marshall mengungkapkan istilah spiritual intelligence (SQ). Menurut keduanya seperti yang dikuti Jamaris Kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk melakukan integrasi kehidupan yang mencakup arti hidup tujuan hidup dan motivasi untuk hidup. Sedangkan Frances Vaughan, 2002 mengemukakan bahwa SQ berkaitan dengan kehidupan dalam pikiran dan spirit dan hubungannya dengan manusia dalam dunia. Sedangkan Jamaris mengungkapkan Spiritual Intelegence bukan sekedan mental ability ajan tetapi berkaintan dengan sesuatu yang bersifat transedental atau di luar akal dan kemampuan manusia yang menuju kepada Maha Pencipta bumi dan segala isinya yaitu Allah. [6]


[1] John W. Santrock, Educational Psychology, third edition (Boston : Mc. Graw Hill, 2008) hlm 115
[2]Anita Woolfolk, Educational Psychology Active Learning Edition , edisi bahasa Indonesia ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009)hlm. 180
[3] Ibid., hlm 180.
[4] Ibid., hlm 174
[5] Taufik Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ, Antara Neurosains dan Al-Quran (
[6] Martini Jamaris, Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan (Jakarta: Penamas Murni, 2010), hlm. 145-147

1 comment:

Silakan tinggalkan komentar Anda

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...