Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2022

Perpustakaan Kita, Jendela Dunia, Jendela Hati (2)

Minggu demi minggu berikutnya, tempat dan meja itu menjadi tempat favorit Nana dan Dito. Asyik juga rupanya punya sahabat perpustakaan menurut Nana. Jika harus pergi sejenak, entah sholat atau ke belakang, mereka bisa bergantian, tanpa kehilangan meja favorit mereka. Mereka kadang mengobrol, tetapi lebih banyak mereka asik dengan buku atau laptop masing-masing. ____ Hari itu, di area loker perpustakaan, Dito sepertinya mempunyai camilan lebih.  "Ini buatmu," kata Dito. Nana takjub juga, itu camilan kesukaannya. "Kamu tahu kesukaanku, ya!" "Tahulah, bukannya kita ini teman?" Nana tersenyum. "Na, boleh aku tahu nomor WA-mu?" Nana kaget, tetapi ia diktekan juga nomornya. "Thanks. Tuh, yang barusan masuk itu nomorku. Simpan, ya!" kata Dito Nana melihat notifikasi baru.  Nana mengetik "Dito Teman Perpus." Lalu menekan tombol save . "Sudah!" kata Nana. Dito tersenyum. Sore hari mereka pun pulang turun bersama. Dito pemuda

Perpustakaan Kita, Jendela Dunia, Jendela Hati (1)

Alasan terbesar Nana ingin masuk ITB adalah Aa. Nana ingat bagaimana bahagianya dan bangganya Aa saat diterima di ITB. Tetapi karena itu jugalah, Nana merasa Aa semakin tak punya waktu untuk Nana. Dahulu waktu SMA, Nana bisa bertemu 3 kali seminggu dengan Aa. Rumah Aa juga tidak terlalu jauh dari sini. Sepulang bimbel atau kursus sering bertemu. "Menjadi mahasiswa sesibuk itukah?" pikir Nana. Ah, sejak itu Nana akhirnya jadi semakin penasaran dengan ITB. Kakak pertama Nana, sebenarnya juga baru lulus dari ITB. Tetapi entah, dahulu Nana tidak setertarik ini. Mungkin alasan terbesar Nana ingin sekampus dengan pacar.  Nana bahagia, saat pertama kali Aa mengajaknya jalan-jalan di perpustakaan pusat ITB. Letaknya di dekat jalan taman sari, dekat Sabuga. Perpustakaan yang besar,  bertingkat 4, dan membuatku bangga berkuliah di sini. Dan di sini juga kencan pertama Nana di kampus bareng Aa. Tetapi Aa serius juga kalau sedang belajar. Sampai-sampai Nana tak berani menganggu. Tetapi m

Anak, Keluarga, dan Karir, Bisakah Selalu Beriringan?

Banyak orang berkata sejak  dahulu  perempuan itu makhluk unik dan hebat. Dia terlihat lemah tetapi sekaligus kuat. Bagaimana tidak? Perempuan itu bisa menjalani berbagai peran sekaligus.  Dari peran tradisionalnya saja, perempuan itu sudah multi peran. Baik itu menjadi istri, melahirkan anak, mengurus bayi, membesarkan dan mendidik anak, juga mengurus rumah. Belum lagi perempuan juga sering membantu tugas para bapak atau keluarga. Mungkin dari itu wanita-wanita pahlawan di tanah air, seperti Ibu Dewi Sartika mendirikan Sekolah Kepandaian Putri. Karena ternyata banyak sekali keterampilan yang harus dimiliki perempuan untuk menjalani perannya. Setelah zaman berganti, perempuan pun sama-sama menjadi sarjana seperti laki-laki. Tuntunan pun mulai berubah. Perempuan juga bisa bekerja dan berkarir di luar rumah, selain mengurus anak dan keluarga. Setelah lulus juga  cita-citaku dahuli seperti itu. Rasanya menjadi perempuan itu tantangan yang menakjubkan. Kenyataannya, termasuk aku pribadi, t