Search This Blog

Loading...

Friday, March 1, 2013

Bagaimana Diet yang Sehat?

Buat Anda yang masih bingung cara bagaimana diet yang sehat tanpa obat.
Coba pelajari link berikut ini.


Lose Weight Now - Ask Me How

Monday, November 28, 2011

King Sejong: Raja Korea yang Peduli Pendidikan

Sempet agak bingung nih ini postingan ttg korea ini masuk nana-catatanku atau catata-nana, berhubung catatan-nana udah lama ga posting dan ini juga mencakup pendidikan, masuk di sini deh

Tulisan ini terinspirasi dari drama Tree With Deep Roots

Raja Sejong yang punya julukan King Sejong The Great (Sejong Daewang) atau Raja Sejong Yang Agung adalah salah seorang raja dari dinasti Joseon (chosun) pada abad ke 15 (1418-1450). Raja ke 3 (atau ke 4?) dari dinasti Joseon yang baru berdiri. Sebelumnya berkuasa dinasti Goryeo. Salah satu prestasi terkenal dari Raja Sejong adalah beliau menciptakan aksara Hangul, yaitu aksara yang dipakai di korea saat ini. 


Al kisah Raja Sejong ini raja yang peduli dan cinta pada rakyatnya. Dia adalah seorang humanis,  yang menganut ajaran Konfusius (Kong Hu Cu). Raja Sejong berbeda sekali dengan ayahnya raja terdahulu, Raja Tae Jong yang memerintah dengan kekerasan. Menurut Raja Sejong kekerasan militer hanya digunakan untuk pertahanan dari serangan luar bukan kepada rakyat sendiri. Prinsip yang dia anut lunak di dalam keras di luar.

Raja Sejong peduli akan pendidikan, sains dan penelitian. Beliau mendirikan suatu perpustakaan yang dikenal dengan Jipyeonjeon yang berarti Balai Kemanfaatan, sebagai tempat raja berdiskusi dan belajar dengan para kaum terpelajar.
Dia mempunyai cita-cita besar bahwa rakyatnya harus bisa membaca. Tidak peduli apa itu tua muda, dari golongan atas atau golongan budak terbawah harus bebas buta aksara. Jargon yang beberapa dekade belakangan ini digunakan PBB yaitu Education for All, dan bertujuan agar tidak ada lagi orang dewasa buta aksara di dunia ini, rupanya sudah ada dalam pikiran raja Sejong beberapa abad yang lalu. Masalah yagn dihadapi rakyat bawah korea saat itu adalah bahwa aksara yang dipakai saat itu yaitu aksara Cina , 漢字 hànzì atau kanji  atau hanja dalam bahasa korea susah dipelajari. Apalagi golongan rakyat bawah disibukkan untuk bekerja untuk penghidupannya.

Aksara Cina sendiri adalah aksara yang sudah ditemukan dari 2000 tahun sebelum masehi, yang aksaranya digunakan di kekaisaran besar Cina dan juga negera-negara sekutu/boneka di sekitarnya. Aksara Cina , Menurut Faber adalah termasuk aksara logographic. Setiap karakternya melambangkan symbol tertentu dan mempunyai arti dan akar filosofi tertentu. Jika satu karakter satu makna bayangkan terdapat ribuan bahkan saat ini lebih dari sepuluh ribu kanji untuk setiap arti. Kalangan bawah yang bukan kalangan terpelajar dan tidak punya waktu banyak untuk belajar akan sulit untuk menghafalkan syarat minimal percakapan sehari-hari yaitu sekitar 1000 karakter hanzi. Padahal seperti yang diinginkan Raja Sejong paling tidak rakyatnya bisa membaca untuk bisa membaca pengumuman penting atau surat penting. Dalam drama Tree With Deep Roots dikisahkan pada saat wabah terjadi banyak sekali korban di suatu desa karena orang-orang di sana tidak bisa membaca pengumuman yang ditempel.

Dengan latar belakang itulah Raja Sejong bertekad untuk menciptakan aksara korea sendiri, aksara yang secara bentuk lebih simpel dari aksara Cina yang ada, lebih sedikit dan lebih mudah dipelajari. Beliau mengubah kebiasaan logographic saat itu menjadi aksara yang dikelompokkan berdasarkan bunyi/ fonetik. Dan hasilnya fantastis, untuk keperluan tulis menulis yang saat itu harus memakai atau menghafal ribuan karakter, aksara Hangul ini hanya terdiri dari 28 karakter, 17 konsonan dan 11 huruf vokal. Bentuknya juga lebih sederhana hanya terdiri dari kombinasi 1-3 garis mendatar/horisontal, lingkaran dan 1-2 titik. Dan diharapkan hanya dalam 1 hari orang biasa pun bisa mempelajari huruf-huruf itu.
Uniknya hangul beda dengan karakter di dunia yang ada bahwa walaupun huruf tersebut berdasarkan bunyi tapi kemudian huruf itu digabungkan dalam kelompok suku kata yang membentuk satu arti. Dalam hal ini Daniel menyebut huruf hangul sebagai "sophisticated grammatogeny".

Kemunculan Huruf Hangul yang diciptakan sendiri oleh Raja Sejong dan tim rahasia dari Balai Kemanfaatan mendapat tantangan dan reaksi negatif dari para kaum terpelajar Konfisian saat itu. Mereka yang terbiasa mempelajari literatur dengan aksara Cina yang penuh dengan filosofi  mengaggap aksara baru ini sebagai pembodohan.   Ternyata di mana-mana, dari dulu atau sekrang, kemunculan hal baru selalu mendapat kritikan atau tantangan,  Toh nyatanya walau sempat dilarang jaman pendudukan Jepang, saat ini  huruf Hangul adalah huruf resmi yang digunakan sehari-hari di Korea.


source :
Drama Korea Tree With Deep Roots

Monday, April 11, 2011

Penelitian Etnografi


PENGERTIAN

              Penelitian etnografi adalah termasuk salah satu pendekatan dari penelitian kualitatif. Penelitan etnografi di bidang pendidikan diilhami oleh penelitian sejenis yang dikembangkan dalam bidang sosiologi dan antropologi. Penelitian etnografi pernah dilakukan oleh peneliti bernama Jonathan Kozol, dalam rangka melukiskan perjuangan dan impian para warga kulit hitam dalam komunitas yang miskin dan terpinggirkan di daerah Bronx, New York [1]. Penelitian kualitatif dengan pendekatan ini kemudian banyak diterapkan dalam meneliti lingkungan pendidikan atau sekolah.          
              Menurut Miles & Hubberman seperti yang dikutip oleh Lodico, Spaulding & Voegtle, Etnografi berasal dari bahasa Yunani ethos dan graphos. Yang berarti tulisan mengenai kelompok budaya. Sedangkan Menurut Le Clompte dan Schensul etnografi adalah metode penelitian yang berguna untuk menemukan pengetahuan yang terdapat atau terkandung dalam suatu budaya atau komunitas tertentu.[2] Menurut Gay, Mills dan Airasian, penelitian etnografi adalah suatu studi mengenai pola budaya dan perspektif partisipan dalam latar alamiah[3].
              Menurut Haris seperti yang dikutip oleh Cresswell, etnografi adalah suatu desain kualitatif dimana seorang peneliti menggambarkan dan menginterpretasikan pola nilai, perilaku, kepercayaan dan bahasa yang dipelajari dan dianut oleh suatu kelompok budaya. Menurut Cresswell etnografi berfokus pada keseluruhan kelompok. Seorang etnografer meneliti pola yang diikuti satu kelompok misalnya oleh sejumlah lebih dari 20 orang, jumlah yang lebih besar daripada yang biasa diteliti dalam grounded theory. Namun bisa juga lebih sedikit misalnya sejumlah guru dalam suatu sekolah namun tetap dalam lingkup keseluruhan kelompok besar (dalam hal ini sekolah). [4]
                            Selanjutnya menurut Lodico  maksud penelitian etnografi adalah untuk menggali atau menemukan esensi dari suatu kebudayaan dan keunikan beserta kompleksitas untuk bisa melukiskan interaksi dan setting suatu kelompok. [5]
Jadi suatu penelitian etnografi adalah penelitian kualitatif yang melakukan studi terhadap kehidupan suatu kelompok masyarakat secara alami untuk mempelajari dan menggambarkan pola budaya satu kelompok tertentu dalam hal kepercayaan, bahasa, dan pandangan yang dianut bersama dalam kelompok itu.

Karakteristik Penelitian Etnografi

              Dalam menjalankan penelitiannya seorang etnografer harus membangun hubungan yang dekat dengan partisipan dari objek komunitas penelitiannya. Seperti contoh etnografer Jonathan Kozol di atas, untuk meneliti komunitas kulit hitam di Bronx, dia juga ikut tinggal di sana selama beberapa bulan untuk bisa menyelami kehidupan mereka. Mereka pun mulai percaya pada Kozol dan mau berbagi mengenai perasaan terdalam mereka dan pandangan mereka tentang kemiskinan dan perbedaan warna kulit [6].
              Penelitian etnografi meneliti suatu proses dan hasil akhir [7]. Akhir dari penelitian adalah membuat tulisan yang kaya akan gambaran detail dan mendalam mengenai objek penelitan (thick description)[8]. Sebagai penelitian suatu proses, seorang etnografer melakukan participant observation, di mana seorang peneliti melakukan eksplorasi terhadap kegiatan hidup sehari-hari dari objek kelompoknya, melakukan pengamatan dan mewawancarai anggota kelompok dan terlibat di dalamnya. Participant obeservation juga berarti bahwa peneliti ikut terlibat dan ikut berperan dalam pengamatan.[9] Untuk keperluan penelitian ini seorang etnografer memelukan seorang key informant atau gatekeeper yang bisa membantu menjelaskan dan masuk ke dalam kelompok tersebut. Selain itu seorang etnografer harus mempunyai sensitivitas tinggi terhadap partisipan yang sedang ditelitinya, karena bisa jadi peneliti belum familiar terhadap karakteristik mereka.
Berikut ini aspek atau karakteristik etnografi baik yagn dirangkum dari Wolcott dan Gay, Mills dan Airasian [10] [11]
  • Berlatar alami bukan eksperimen di laboratorium
  • Peneliti meneliti tema-tema budaya tentang peran dan kehidupan sehari-hari seseorang
  • Interaksi yang dekat dan tatap muka dengan partisipan
  • Mengambil data utama dari pengalaman di lapangan
  • Menggunakan berbagai metode pengumpulan data seperti wawancara, pengamatan, dokumen, artifak dan material visual.
  • Peneliti menggunakan deskripsi dan detail tingkat tinggi 
  • Peneliti menyajikan ceritanya secara informal seperti seorang pendongeng
  • Menekankan untuk mengekplorasi fenomena sosial bukan untuk menguji hipotesis.
  • Format keseluruhannya adalah deskriptif, analisis dan interpretasi
  • Artikel diakhir dengan sebuah pertanyaan.

Jenis penelitian etnografi

              Menurut Creswell, para ahli banyak menyatakan mengenai beragam jenis penelitian etnografi, namun Creswell sendiri membedakannya menjadi 2 bentuk yang paling popular yaitu Etnografi realis dan etnografi kritis. Penjelasannya sbb : [12]
  • Etnografi realis
Etnografi realis mengemukakan suatu kondisi objektif suatu kelompok dan laporannya biasa ditulis dalam bentuk sudut pandang sebagai orang ke -3. Seorang etnografi realis menggambarkan fakta detail dan melaporlan apa yang diamati dandidengar dari partisipan kelompok dengan mempertahankan objektivitas peneliti.
  • Etnografi kritis
Dewasa ini populer juga etnograi kritis. Pendekatan etnografi kritis ini penelitian yang mencoba merespon isu-isu sosial yang sedang berlangsung.misalnya dalam masalah jender/emansipasi, kekuasaan, status quo, ketidaksamaan hak, pemerataan dsb.
Jenis-Jenis etnografi lainnya diungkapkan Gay, Mills dan Aurasian sbb:[13]
  • etnografi Konfensional: laporan mengenai pengalaman pekerjaan lapangan yang dilakukan etnografer
  • Autoetnografi: refleksi dari seseorang mengenai konteks budayanya sendiri
  • Mikroetnografi: studi yang memfokuskan pada aspek khusus dari latar dan kelompok budaya
  • Etnografi feminis: studi mengenai perempuan dalam praktek budaya yang yang merasakan pengekangan akan hak-haknya.
  • Etnografi postmodern: suatu etnografi yang ditulis untuk menyatakan keprihatinan mengenai masalah-masalah sosial terutama mengenai kelompok marginal.
  • Studi kasus etnografi: analisis kasus dari seseorang, kejadian, kegiatan dalam perspektif budaya.

Prosedur Penelitian Etnografi

Menurut Creswell, walau tidak ada satu cara saja dalam menititi etnografi namum secara umum prosedur penelitian etografi adalah sbb:[14]
1.Menentukan apakah masalah penelitian ini adalah paling cocok didekati dengan studi etnogafi. Seperti telah kita bahas di atas bahwa etnografi menggambarkan suatu kelompok budaya dengan mengekloprasi kepercayaan, bahasa dan  perilaku (etnografi realis); atau juga mengkritisi isu-isu mengenai kekuasaan, perlawanan dan dominansi (etnografi kritis).
2. Mengidentifikasi dan menentukan lokasi dari kelompok budaya yang akan diteliti. Kelompok sebaiknya gabungan orang-orang yang telah bersama dalam waktu yang panjang karena disini yang akan diteliti adalah pola perilaku, pikiran dan kepercayaan yang dianut secara bersama.
3.  Pilihlah tema kultural atau isu yang yang akan dipelajari dari suatu kelompok. Hal ini melibatkan analisis dari kelompok budaya.
4. Tentukan tipe etnografi yang cocok digunakan untuk memlajari konsep budaya tersebut. Apakah etnografi realis ataukah etnografi kritis.
5. Kumpulkan informasi dari lapangan mengenai kehidupan kelompok tersebut. Data yang dikumpulkan bisa berupa pengamatan, pengukuran, survei, wawancara, analisa konten, audiovisual,pemetaan dan penelitian jaringan. Setelah data terkumpul data tersebut dipilah-pilah dan dianalisa.
6. Yang terahir tentunya tulisan tentang gambaran atau potret menyeluruh dari kelompok budaya tersebut baik dari sudut pandang partisipan maupun dari sudut pandang peneliti itu sendiri.


[1] Marguerite G. Lodico, Dean T. Spaulding, Katherine H. Voegtle, Methods in Educational Research From Theory to Practice (San Fransisco: Jossey Bass, 2006), hlm. 268.
[2] Ibid., hlm 268
[3] L.R. Gay, Geoffrey E. Mills & Airasian, Educational Research: Competencies for analysis and application-9th. Ed (New Jersey: Merril-Pearson Education, 2009), hlm 404.
[4] John W. Creswell, Qualitative Inquiry & Research Design, Choosing Among Five Approch (California: Sage Publications, 2007) hlm.68.
[5] Lodico.,op.cit.,hlm. 267.
[6] Lodico, op.cit., hlm. 268
[7] Creswell, op.cit., hlm. 68
[8] Lodico, loc.cit., hlm 268.
[9] Paul Atkinson & Martyn Hammersley, Etnography and Participant Observation, Strategies of Qualitative Inquiry ed. Norman K Denzin & Yvonna S. Lincoln (California:SAGE Publication, Inc, 1998)
[10] Djam’an Satori & Aan Komariah, Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: Alfabeta, 2009) hlm. 35.
[11] Gay, op.cit., hlm 406.
[12] Creswell, oc.cit., hlm 69-70
[13] Gay, op.cit., tabel 16.1 hlm. 407.
[14] Creswell, op.cit., hlm 70-72

Sunday, February 20, 2011

IQ, EQ dan SQ


Pengukuran Intelegensi Intelektual dimulai dengan konsep mengenai IQ yang dikemukakan oleh William Stern [1] yang menyatakan bahwa
              IQ = Mental Age/Chronological Age x 100
Pengukuran ini awalnya dilakukan oleh Binet dan kemudian disempurnakan oleh Stanford sehingga akhirnya dikenal dengan nama Tes Stanford-Binet. Tes IQ yang lain dikembangkan oleh Wechsler.
              Memang telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa secara umum ada korelasi antara nilai sekolah dengan hasil tes intelegensi individu [2]. Namun apakah nilai tes IQ yang tinggi juga mendapatkan lebih banyak keberhasilan dalam hidup? Anita Woolfolk juga mengatakan bahwa jawabannya belum jelas [3].
              Keraguan mengenai IQ juga menentukan keberhasilan karir dan kehidupan akhirnya memunculkan konsep adanya kecerdasan lainya selain IQ. Tahun 1990 Mayor dan Salovey memulai konsep mengenai Emotional Intellegence. Dan kemudian dipopulerkan oleh Daniel Goleman tahun 1995 dengan bukunya Emotional Intellegence. Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memproses dan menggunakan informasi emosional secara akurat dan efisien[4]. Menurut Goleman seperti yang dikutip Taufik Pasiak bahwa IQ hanya menyumbang 5-10% dari kesuksesan hidup, sisanya adalah dari kecerdasankecerdasan yang lain [5]. Orang yang mempunyai kecerdasan emosi yang baik mampu mengenali dirinya dan bisa memotivasi dirinya (intrapersonal). Selain itu dia juga mampu mengenali dan memhami perasaan orang lain (interpersonal)
              Tahun 1997 Zohar dan Marshall mengungkapkan istilah spiritual intelligence (SQ). Menurut keduanya seperti yang dikuti Jamaris Kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk melakukan integrasi kehidupan yang mencakup arti hidup tujuan hidup dan motivasi untuk hidup. Sedangkan Frances Vaughan, 2002 mengemukakan bahwa SQ berkaitan dengan kehidupan dalam pikiran dan spirit dan hubungannya dengan manusia dalam dunia. Sedangkan Jamaris mengungkapkan Spiritual Intelegence bukan sekedan mental ability ajan tetapi berkaintan dengan sesuatu yang bersifat transedental atau di luar akal dan kemampuan manusia yang menuju kepada Maha Pencipta bumi dan segala isinya yaitu Allah. [6]


[1] John W. Santrock, Educational Psychology, third edition (Boston : Mc. Graw Hill, 2008) hlm 115
[2]Anita Woolfolk, Educational Psychology Active Learning Edition , edisi bahasa Indonesia ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009)hlm. 180
[3] Ibid., hlm 180.
[4] Ibid., hlm 174
[5] Taufik Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ, Antara Neurosains dan Al-Quran (
[6] Martini Jamaris, Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan (Jakarta: Penamas Murni, 2010), hlm. 145-147
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...