Search This Blog

Thursday, August 26, 2010

Anak Berkebutuhan Khusus (special need children)

Yang dimaksudkan anak berkebutuhan khusus atau anak berkekhususan meliputi anak yang berkelainan/cacat baik mental maupun fisik (handicapped ataupun chilren with disabilities) dan juga anak dengan bakat istimewa dan atau cerdas istimewa (gifted children)
Menurut Santrock pembagian anak berkelainan sebagai berikut
1. Kesulitan Belajar (learning disabilities)
Sebagian besar dari kesulitan belajar ini adalah bersifat ketidakmampuan jangka panjang. Menurut Linda Siegel, seseorang anak mendapat diagnosa kesulitan belajar hanya jika mempunyai IQ di bawah retardasi, atau mempunyai kesulitan dalam akademik di sekolah khususnya membaca dan matematik dan namun tidak terdeteksi mempunyai gangguan mental parah (Santrock, 2008)
Kesulitan belajar biasanya dibedakan menjadi 3, yaitu

  • Disleksia, kesulitan membaca dan mengeja. Anak dengan disleksia mempunyai kesulitan dalam   keterampilan fonologi yang melibatjan kemampuan untuk memahami bagaimana bunyi dan huruf bisa dibentuk menjadi kata.
  •  Disgrafia, yaitu kesulitan belajar yang melibatkan kesulitan mengekspresikan pikiran dalam tulisan. Tulisan tangan gangguan disgrafia ini sangat buruk.
  • Diskalkulia, gangguan perkembangan aritmatika.
Intervensi usia dini dapat mengurangi gangguan kesulitan belajar ini, namun sayangnya gangguan belajar ini seringkali baru terdeteksi saat anak memasuki kelas 2 SD.

2. ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)
ADHD adalah ketidakmampuan seorang anak yang menunjukkan 3 karakteristik dalam satu jangka waktu yang meliputi tidak adanya perhatian, hiperaktivitas dan impulsivitas ( Santrock, 2008).
Menurut Aldenkamp ADHD/ADD (Attention Deficit Disorder) adalah gangguan primer pada sistem inhibisi yaitu berupa gangguan untuk membedakan rangsangan yang baik atau relevan yang diperlukan dengan rangsangan yang tidak diperlukan (Tiel, 2007). Anak yang menderita gangguan ini akan sukar berkonsentrasi walau hanya beberapa menit, terlalu aktif dan impulsif sehingga sukar menerima pelajaran. Anak mendapat diagnosa ADHD untuk anak mulai usia sekolah.

3. Retardasi Mental
Ciri yang mudah bahwa anak dengan retardasi mental ini mempunyai kekurangan kemampuan fungsi intelektual. Anak dikatakan mengalami mental retardasi jika hasil tes Iqnya berada dibwah skor 70. Selain masalah intelektual biasa anak itu juga kesulitan beradaptasi dalam kehidupan sehari-hari seperti berpakaian, kebersihan, makan dan berinteraksi dengan teman sebaya. Anak yang mengalami Down Syndrome juga dimasukkan dalam kategori retardasi mental ini. Down Syndrome diakibatkan faktor genetik ketika dalam kandungan yaitu penderitanya mempunya kelebihan jumlah kromosom menjadi 47 (Santrock, 2008). Anak dengan Down Syndrome bisa dikenali dengan bentuk fisik muka mereka.

4. Gangguan/kelainan fisik
Kelainan fisik ini mencakup kelainan yang bersifat ortopedik, yaitu gangguan atau kesulitan menggerakkan dan mengontrol otot, tulang dan sendi. Gangguan ini biasa dialami anak yang mengalami gangguan cerebral palsy dan juga penderita epilepsi.

5. Kelainan/Gangguan sensori
Kelainan sensori ini meliputi kelainan penglihatan dan juga kelainan pendengaran. Baik dari yang ringan ataupun yang berat (kebutaan atau tuli)

6. Gangguan bicara dan bahasa
Gangguan bicara meliputi gangguan pada artikulasi, kontrol suara juga kelancaran bahasa. Sedangkan gangguan bahasa meliputi gangguan bahasa reseptif dan gangguan bahasa ekspresif. Gangguan bahasa reseptif artinya anak mengalami kesulitan untuk memproses dan mengerti bahasa. Sedangkan pada gangguan ekspresif anak bisa jadi mengerti bahasa dan percakapan tetapi mempunyai kesulitan untuk menuangkannya dalam bentuk bahasa verbal.

7. ASD (Autism Spectrum Disorder)
Yaitu gangguan perkembangan pervasif (menyeluruh). Gangguan ini dinamakan Spektrum Autis karena meliputi gangguan autisme berat sampai autisme ringan yang dikenal sindrom Asperger.
8. Gangguan Emosi dan Perilaku

Anak Cerdas Istimewa atau Berbakat Istimewa (Gifted Children)
Dari segi IQ anak dikatakan cerdas istimewa (gifted) jika mempunyai skor IQ diatas 130 atau bahkan di atas 140 selain IQ anak cerdas istimewa mempunyai karakterikstik mempunyai motivasi internal dan kreativitas yang tinggi. Sedangkan anak Berbakat Istimewa adalah anak yang mempunyai IQ juga di atas rata-rata dan juga mempunyai bakat luar biasa dalam bidang seperti musik, seni, matematika atau bahkan olahraga.

Pembagian anak berkebutuhan khusus yang sering digunakan di Indonesia yang berhak memperoleh pendidikan khusus oleh Direktorat Pendidikan Luar Biasa adalah sebagai berikut
1. Tunanetra (A)
Adalah mereka yang mengalami gangguan daya penglihatan berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian, yang membutuhkan penyesuaian pelayanan pendidikan. Sekolah khusus yang menyediakan pendidikan khusus adalah SLB A
2. Tunarungu (B)
Adalah mereka yang mengalami kehilangan kemampuan pendengaran menyeluruh atau sebagian,
Ada dua kelompok tunarungu yaitu:
a) Kurang dengar, yaitu mereka yang kehilangan pendengaran kurang dari 90 dB.
b) Tuli, yaitu mereka yang kehilangan pendengaran di atas 90 dB.
Seorang Tuna Rungu dari kecil juga akan mengalami kesulitan bicara atau tuna wicara. Sekolah khusus yang menyediakan pendidikan khusus adalah SLB B

3. Tuna grahita
Adalah mereka yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan mental disertai ketidakmampuan untuk belajar dan menyesuaikan diri.
C Tunagrahita Ringan (IQ = 50 - 70)
C1 Tunagrahita Sedang (IQ = 25 - 50)
C2 Tunagrahita Berat (IQ < 25)
Sekolah khusus yang menyediakan pendidikan khusus adalah SLB C

4. Tunawicara
Adalah mereka yang mengalami gangguan dalam berbicara diakibatkan oleh kelaianan/kerusakan pada organ bicara. Tapi biasa seorang tuna rungu juga mengalami kesulitan bicara.
5. Tunadaksa
Adalah mereka yang memiliki kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang, otot, sendi, dan pada sisstem saraf pusat) sehingga membutuhkan penyesuaian layanan Pendidikan. Sekolah khusus yang menyediakan pendidikan khusus adalah SLB D
6. Tunalaras
Adalah mereka yang mengalami gangguan emosi dan perilaku sehingga mengalami kesulitan dalam bertingkah laku dan membutuhkan penyesuaian layanan pendidikan. Sekolah khusus yang menyediakan pendidikan khusus adalah SLB E
7. Anak berbakat
Termasuk anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa (CI dan BI)
8. Tunaganda
Adalah mereka yang memiliki dua atau lebih kelainan, sehingga membutuhkan penyesuaian layanan Pendidikan.
9. Anak Berkesulitan Belajar
10. Anak Autisme
11. Anak dengan gangguan Konsentrasi dan Perhatian (ADD/ADHD)
12. Lambat Belajar (IQ 70-90)
13. Korban Penyalahgunaan Narkoba/HIV/AIDS
14. Anak Indigo
Anak-anak yang memiliki indra keenam.

Monday, August 16, 2010

Teori Pembelajaran Kognitif

(ini hanya artikel populer resume dari hasil presentasi bukan untuk rujukan ilmiah)

Teori kognitif tertuju kepada hal-hal yang terjadi didalam kepala kita ketika kita belajar. Teori kognitif juga mengambil perspektif bahwa siswa secara aktif memproses informasi dan pembelajaran berlangsung melalui usaha-usaha siswa ketika siswa mengaturnya, menyimpanya dan kemudian menemukan hubungan-hubungan antara informasi, hubungan baru dengan pengetahuan lama, skema, dan teks, pendekatan kognitif menekankan bagaimana informasi di proses
Selain itu teori belajar kognitif juga lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996, page 53) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.
Empat peneliti Jean Peaget, Ausubel, Bruner dan Gagne, mengambil perspektif berbeda tetapi setiap gagasan yang dihadirkan selalu aneh bagi pembahasan tentang bagaimana orang belajar. Pengatur maju (advanced organizer)-nya Ausubel merupakan konsep yang mempertimbangkan dampak pembelajaran sesungguhnya. Ini berbeda bagi para behavioris yang tidak mempertimbangkan pentingnya faktor ini. Karya Bruner tentang kategorisasi atau pembentukan konsep-konsep memberikan seperangkat jawaban yang memungkinkan tentang bagaimana pembelajar mendapatkan informasi dari lingkungan. Gagne melihat peristiwa-peristiwa pembelajaran dan pengajaran sebagai serangakaisn fase, menggunakan langkah-langkah kognitif dalam pengkodean, penyimpanan, pengambilan kembali, dan pentransferan informasi.



Proses Kognitif
Proses kognitif dibagi 5 persepsi, perhatian, ingatan, bahasa dan berpikir. Sedangkan menurut Taksonomi Bloom tingkatan kognitif terbagi menjadi pengertian, pemahaman, aplikasi, analitis, sintesis dan evaluasi.

Ingatan / Memori
Terbagi menjadi ingatan jangka pendek (short term memory), ingatan jangka panjang (long term memory). Ingatan jangka pendek yaitu tempat menyimpan informasi yang baru saja kita pikirkan
1. tergantung pada persepsi atau pengalaman
2. pengalaman meninggalkan jejak di dalam otak
3. terdapat perbedaan memori pada individu atu dengna yang lain
4. disamping ingat lupa juga akan muncul
5. beberapa pengalaman yang tidak meninggalkan impresi tertentu umumnya tidak disimpan sehingga muncul kelupaan.
Proses berpikir terjadi karena adanya interaksi antara memori jangka panjang dan jangka pendek.

Teori-teori Pembelajaran Kognitif
Berikut adalah beberapa teori belajar kognitif menurut beberapa pakar teori belajar kognitif:

A. JEAN PIAGET
Menurut Piaget setiap anak mengembangkan kemampuan berpikirnya menurut tahap yang teratur. Pada satu tahap perkembangan tertentu akan muncul skema atau struktur tertentu yang keberhasilannya pada setiap tahap amat bergantung pada tahap sebelumnya. Adapun tahapan-tahapan tersebut adalah:

1. Tahap Sensori Motor(dari lahir sampai kurang lebih umur 2 tahun)
Dalam dua tahun pertama kehidupan bayi ini, dia dapat sedikit memahami lingkungannya dengan jalan melihat, meraba atau memegang, mengecap, mencium dan menggerakan. Dengan kata lain mereka mengandalkan kemampuan sensorik serta motoriknya. Beberapa kemampuan kognitif yang penting muncul pada saat ini. Anak tersebut mengetahui bahwa perilaku yang tertentu menimbulkan akibat tertentu pula bagi dirinya. Misalnya dengan menendang-nendang dia tahu bahwa selimutnya akan bergeser darinya.

2. Tahap Pra-operasional ( kurang lebih umur 2 tahun hingga 7 tahun)
Dalam tahap ini sangat menonjol sekali kecenderungan anak-anak itu untuk selalu mengandalkan dirinya pada persepsinya mengenai realitas. Dengan adanya perkembangan bahasa dan ingatan anakpun mampu mengingat banyak hal tentang lingkungannya. Intelek anak dibatasi oleh egosentrisnya yaitu ia tidak menyadari orang lain mempunyai pandangan yang berbeda dengannya.

3. Tahap Operasi Konkrit (kurang lebih 7 sampai 11 tahun)
Dalam tahap ini anak-anak sudah mengembangkan pikiran logis. Dalam upaya mengerti tentang alam sekelilingnya mereka tidak terlalu menggantungkan diri pada informasi yang datang dari pancaindra. Anak-anak yang sudah mampu berpikir secara konkrit dan bisa menguasai sebuah pelajaran yang penting yaitu bahwa ciri yang ditangkap oleh pancaindra seperti besar dan bentuk sesuatu, dapat saja berbeda tanpa harus mempengaruhi misalnya kuantitas. Anak-anak sering kali dapat mengikuti logika atau penalaran, tetapi jarang mengetahui bila membuat kesalahan.

4. Tahap Operasi Formal (kurang lebih umur 11 tahun sampai 15 tahun)
Selama tahap ini anak sudah mampu berpikir abstrak yaitu berpikir mengenai gagasan. Anak dengan operasi formal ini sudah dapat memikirkan beberapa alternatif pemecahan masalah. Mereka dapat mengembangkan hukum-hukum yang berlaku umum dan pertimbangan ilmiah. Pemikirannya tidak jauh karena selalu terikat kepada hal-hal yang besifat konkrit, mereka dapat membuat (Winkel,1996) bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu secara relative dan berbekas. hipotesis dan membuat kaidah mengenai hal-hal yang bersifat abstrak.

B. JEROME BRUNER

Kalau kita berbicara teori pembelajaran kognitif kita akan menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia seperti juga diungkapkan winkel (Winkel, 1996) bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap seperti , yang menganjurkan penemuan pembelajaran, kemungkinan mempunyai penerimaan yang lebih besar, setidaknya disekolah, daripada ide yang dilontarkan oleh Ausubel or Gagne. Faktor selanjutnya yang memberikan andil bagi popularitas ide-ide Bruner adalah bahwa mereka sangatlah sesuai dengan kondisi waktu. Penekananya pada penemuan dan pembelajaran ” menggunakan sesuatu ” sesuai dengan ide Piaget. Pastinya , hakikat konstruktivis dari teorinya menarik para guru dan banyak prinsipnya masih menggunakan oleh para guru yang mempraktekannya.
Bruner berargumen bahwa kita harusnya mengajarkan ”Struktur subjek-subjek”. dia menganjurkan pendahuluan bagi proses nyata ddari sebuah disiplin khusus terhadap siswa. Misalnya. Kapan sejarah yang sebenarnya. Ini mungkin melibatkan pengujian sebuah jembatan, bagunan, atau bahkan nisan dalam pemakaman.

Tiga tahapan dalam Teori Burner tentang perkembangan intelektual adalah:
1. Enactive, di mana seseorang belajar tentang dunia melalui aksi-aksi terhadap objek.
2. Iconic, di mana pembelajaran terjadi melalui penggunaan model-model dan gambar-gambar
3. Symbolic, yang menggambarkan kapasitas berfikir dalam istilah-istilah yang abstrak.

Prinsip pengajaran dan pembelajaran yang mendasari Bruner adalah bahwa kombinasi yang konkret, gambar kemudian aktivitas simbolis akan mengarah pada pembelajaran yang lebih efektif. Kemajuannya adalah dimulai dengan sebuah pengalaman konkret, kemudian bergerak menuju gambar-gambar dan akhirnya menggunakan representasi.
Aspek lain dari teori Bruner, yang telah diterapkan dengan antusias dalam ruang kelas guru adalah pembelajaran penemuan (Discovery Learning).

C. DAVID AUSUBEL

Menurut Ausubel (Dahar, 1996) bahan subjek yang dipelajari siswa mestilah sesuatu yang ”bermakna”. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yyang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
Dalam bahasa yang lebih sulit, menurut Ausubel, pengatur maju adalah sebuah alat mempersipkan struktur kognitif pembelajaran bagi pengalaman pembelajaran yang berlangsung.
Ausubel berkontribusi dalam menciptakan adalah penekanannya pada hakikat aktif pembelajaran resepsi (reception learning).

D. ROBERT GAGNE

Dia menunjukan bahwa sebuah tugas akan dipelajari dengan cara terbaik oleh rangkaian sembilan peristiwa spesifik berikut ini:
1. mendapatkan perhatian
2. menginformasikan pembelajaran sasaran yang akan dituju
3. menstimulasi ingatan mengenai prasyarat pembelajaran
4. menghadirkan materi baru
5. memberikan paduan pembelajaran
6. mendapatkan prestasi
7. memberikan umpan balik tentang yang benar
8. memperkirakan prestasi
memperluas ingatan dan memori.

Sunday, August 15, 2010

Filsafat Pendidikan Realisme


BAB I PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG
Filsafat pendidikan adalah aplikasi dari filsafat umum dalam pendidikan. Berbeda dengan Filsafat Umum yang objeknya adalah kenyataan keseluruhan segala sesuatu. Filsafat Khusus /terapan mempunyai objek kenyataan salah satu aspek kehidupan manusia yang dalam hal ini adalah pendidikan. Filsafat pendidikan menyelidiki hakikat pelaksanaan pendidikan yang bersangkut paut dengan tujuan, latar belakang cara dan hasilnya serta hakikat ilmu pendidikan yang bersangkut paut terhadap struktur kegunaannya.

Seperti halnya filsafat yang lain, filsafat pendidikanpun bersifat spekulatif, preskriptif dan analitik. Spekulatif artinya filsafat pendidikan membangun teori-teori tentang hakikat pendidikan manusia, hakikat masyarakat dan hakikat dunia. Preskriptif artinya filsafat pendidikan menentukan tujuan pendidikan yang harus diikuti dan dicapai. Analitik artinya filsafat pendidikan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang spekulatif dan perspektif.

Filsafat ilmu pendidikan dapat dibataskan sebagai salah satu bentuk teori pendidikan yang dihasilkan melaui riset baik kualitatif maupun kuantitatif. Filsafat pendidikan ini perlu dipedomani para perencana pendidikan tentang tujuan, isi, kurikulum yang merumuskan tujuan-tujuan pengubahan perilaku yang bersifat personal, sosial dan ekonomi.
Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat umum maka filsafat pendidikan pun terdiri bebarpa aliran seperti filsafat pendidikan idealisme, realisme, esensialisme dan pragmatisme.

B.     TUJUAN DAN PEMBAHASAN
Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Landasan Ilmu pendidikan. Yang merupakan matakuliah matrikulasi bagi program S2 yang berasal dari sarjana non kependidikan. Pada makalah ini kami kelompok 2 berusaha membahas mengenai Filsafat pendidikan yang menganut aliran realisme.

Pembahasan dari makalah ini terbagi menjadi 8 bagian yang pertama adalah pendahuluan, disusul oleh konsep pendidikan realisme, tujuan pendidikan realisme, isi kurikulum, peranan sekolah dan guru menurut aliran realisme, prinsip-prinsip pendidikan, peran siswa yang disertai contoh kasus pada taman siswa. Dan bagian akhir adalah kesimpulan dan penutup.


BAB II PENDIDIKAN MENURUT ALIRAN REALISME

Aliran Realisme adalah aliran filsafat yang memandang  realitas sebagai dualitas. Aliran realisme memandang dunia ini mempunyai hakikat realitas yang terdiri dari dunia fisik dan dunia rohani. Hal ini berbeda dengan filsafat aliran idealisme yang bersifat monistis yang memandang hakikat dunia pada dunia spiritual semata. Dan juga berbeda dari aliran materialisme yang memandang hakikat kenyataan adalah kenyatan yang bersifat fisik semata. Realisme membagi realistas menjadi dua bagian yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan yang kedua adanya realita di luar manusia yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia.
Aliran realisme mempunyai berbagai macam bentuk yaitu realisme rasional, realisme naturalis dan realisme kritis. Realisme rasional juga masih terbagi dua yaitu realisme klasik dan realisme religius. Realisme klasik pertama kali dikembangkan oleh Aristoteles. Berikut ini kita bahas pendidikan menurut aliran realisme

A.     Konsep Pendidikan
Berikut ini kita akan membahasa konsep pendidikan mengenai pengertian pendidikan dan gambaran pendidikan menurut masing-masing bentuk aliran realisme.
1. Realisme Rasional
Realisme klasik  berpandangan bahwa manusia sebenarnya memiliki ciri rasional. Dengan demikian manusia dapat menjangkau kebenaran umum. Eksistensi Tuhan merupakan penyebab pertama dan utama realistas alam semesta. Memperhatikan intelektual adalah penting bukan saja sebagai tujuan melainkan sebagai alat untuk memecahkan masalah. Menurut realisme klasik pengalaman manusia penting bagi pendidikan. Menurut Aristoteles, terdapat aturan moral universal yang diperoleh dengan akal dan mengikat manusia sebagai mahluk rasional. Manusia sempurna menurutnya adalah manusia sempurna yang mengambil jalan tengah. Konsep pendidikan pada anak bahwa anak harus diajarkan ukuran moral yang absolut dan universal karena baik dan benar adalah untuk seluruh umat manusia. Kebiasaan baik harus dipelajari karena kebaikan tidak datang dengan sendirinya

Sedangkan menurut realisme religius bahwa kenyataan itu dipandang berbentuk natural dan supernatural. Pandangan filsafat ini menitik beratkan pada hakikat kebenaran dan kebaikan. Pendidikan merupakan suatu proses untuk meningkatkan diri guna mencapai kebenaran abadi. Kebenaran bukan dibuat melainkan sudah ditentukan dan belajar harus mencerminkan kebenaran itu. Menurut Cornerius pendidikan harus universal, seragam dan merupakan suatu kewajiban dimulai dengan pendidikan yang lebih rendah.

2. Realisme Natural
Menurut realisme natural pengetahuan yang diakui adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman empiris dengan jalan observasi atau pengamatan indera. Para pengikut realisme natural mengikuti teori pengatahuan empirisme yang mengatakan pengalaman merupakan faktor fundamental dalam pengetahuan dan merupakan sumber pengetahuan manusia.
Pendidikan berkaitan dengan dunia di sini dan sekarang. Dunia diatur oleh hukum alam. Pendidikan menurut aliran realisme natural haruslah ilimiah dan yang menjadi objeknya adalah kenyataan dalam alam.

3. Realisme kritis.
Menurut pandangan Breed filsafat pendidikan hendaknya harmoni dengan prinsip-prinsip demokrasi. Pendidikan sebagai pertumbuhan harus diartikan sebagai pengarah terhadap tuntunan sosial dan individual. Menurut Imanuel Kant , pengetahuan mulai dari pengalaman namun tidak semiuanua dari pengalaman. Pikiran tanpa isi adalah kosong dan tanggapan tanpa konsepsi adalah buta.

Menurut Henderson ke semua bentuk aliran realisme pendidikan menyetujui bahwa
a.       Proses pendidikan berpusat pada tugas mengembangkan laki-laki dan wanita menjadi hebat
b.      Tugas manusia di dunia adalah memajukan keadilan dan kesejahteraan umum
c.       Tujuan akhir pendidikan adalah memecahkan masalah-masalah pendidikan.

Sunday, August 8, 2010

Tugas: Konsep Kristen dalam Pendidikan (1)

{isi blog ini hanya rangkuman dan terjemahan dari sebuah buku, bukan opini ataupun tulisan ilmiah}
Pendahuluan

Perdamaian Romawi
Pada pada masa kejayaan Romawi pada pemerintahan Kaisar Augustus, di perkampungan Galilea di Nazareth, dari pasangan orang tua Yahudi lahirnya seorang anak yang diberi nama Yesus (Isa). Walaupun berasal dari daerah perbatasan namun agama baru yang diturunkan dari seseorang yang bernama Yesus ini , mengguncangkan keadaan politik Romawi dan bahkan mengubah pemerintahan ROmawi dari pemerinahan sipil ke pemerintahan berdasarkan spiritual.

Saat itu di Palestina, orang-orang yahudi banyak mengalami penindasan dan kekejaman dari bangsa  Romawi. Dalam penderitaan itu orang-orang Yahudi memimpikan dan menantikan kemunculan Messiah dan jaman baru bagi orang-orang Israel. Oleh karena itu mereka tetap mengikuti bimbingan para pendeta mereka dan mengikut ajaran Musa untuk bertahan dari segala tekanan terhadap meraka, Dalam situasi tertekan seperti itu rakyat rendahan dari Nazarethlah yang dikatakan ditakdirkan sebagai pembawa ajaran Kristen.

Agama Kristen kemudian menjadi kekuatan katalis dalam sejarah yang pengaruhnya tidak diperkirakan sebelumnya. Keberadaannya menjadi semangat kreatif tetapi sayangnya mereka dimusuhi oleh teman-temannya juga oleh musuh-musuhnya. Idealisme yang dibawa harus berhadapan dengan institusi yang lebih tua dan kuat. Penulis mengutip dari Hart,1931 bahwa kejadian ini mirip dengan yang dialami Socrates sebelumnya di Athena.

Namun kemudian selama 20 abad kemudian kekuatan baru ini mendominasi peradaban dan budaya di seluruh dunia bara dan mempengaruhi teori dan praktek dalam kehidupan dan pendidikan.

Semangat Penyebaran Agama
Agama Kristen berusaha menyelesaikan dilema dalam berkonfrontasi dengan peradaban pagan yang banyak dianut saat itu. Yaitu bagaimana menyelaraskan kebebasan individu dan keinginan pribadi namun tetep mempertahankan stabilitas sosial untuk mempertahankan bangsa dan negara.
Agam kristen memberikan kekuatan etika baru, energi baru untuk seluruh manusia, humanitarianisme baru yang menyedikanan dasar pendidikan untuk semua dan organisasi sosial. Di awal penyebarannya agama kristen memberikan kontribusi etika sebagai berikut
1. moral pribadi  ideal yang diliputi kebajikan berupa ketulusan, kejujuran kebenaran dan kesucian
2. tanggung jawab sosial yang ideal yang berdasarkan pada persaudaraan, kekeluargaan, loyalti, kebaikan, keramahan, mengutamakan kepentingan orang lain dan ketidakegoisan. Semangat idelisme itu akhirnya bisa meminimalkan perbedaan kelas dan ras, kedudukan wanita bisa ditingkatkan dan kedudukan anak menjadi disucikan. Hak-hak asasi diakui sebagaimana tugas dan kewajiban.

Pada awal penyebaran agama Kristen masih terjadi perbedaan pendapat dan salah paham antara para murid dan pengikut Yesus mengenai konsep pendidikan Kristen. Dalam pembahasan ini berikut akan dibedakan Konsep pendidikan Kristen menjadi dua sub pokok bahasan
1. Sikap dan Kebiasaan Yesus dalam mendidik dan 2. Masa awal gereja Kristen

Cara dan Sikap Yesus dalam mendidik
Dalam sub bahasan ini kita tidak membicarakan Yesus sebagai penerima wahyu melainkan membahasnya sebagai Guru yang sebagai pendidik memainkan peran besar dalam sejarah pendidikan.
Penulis menyamakan Yesus sebagai mahaguru sama halnya dengan Socrates dan Gautama pada jamannya. Ketiga tokoh tersebut mempunyai kesadaran tinggi kepada misi yang harus mereka penuhi dan pancaran kepribadian yang mengantarkannya pada menjadi guru yang efektif.
Dalam kepribadian, kehidupan dan pengajarannya Yesus menunjukkan gambaran Guru Ideal.

Tujuan
Yesus merangkum sasaran pengajarannya dalam kata-kata  yang diucapkannya sendiri yang familiar di kalangan pengikutnya. Yesus mengajarkan doktrin baru dan simpel yang mempengaruhi filosofi pendidikan dan penerapannya dalam pengajaran. Doktrin ini salah satu dari doktrin yang paling revolusioner yang pernah menggerakkan dan mengubah pemikiran manusia.


Tipe
Yesus menekankan moral training dengan menggunakan istilah yang suci sebagai tingkatan tertinggi dalam pendidikan etika. Prinsip moral yang tinggi di alam ini melewati batas kekewenangan dari para nenek moyang, kasta bahkan negara. Selain itu Yesus juga mengajarkan tentang religi dan hubungan manusia dengan Tuhan. Namun Yesus tidak menekankan pada cara melakukan ritual upacara keagamaan, beliau lebih menekankan pada keimanan terhadap Tuhan.
Pendidikannya berbasis pada pengajaran yang bersifat universal dan demokratis. Beliau mengajarkan sendiri semua orang yang datang padanya yang memerlukan petunjuk. Beliau mengajarkan bahwa Tuhan itu untuk semua orang sehingga membebaskan pendidikan dari batasan bangsa dan ras. Selain itu dalam pengajarannya Yesus juga menekananya perlunya pendidikan bagi anak-anak.


Isi
Esesi dari pengajaran Yesus ditemukan dalam beberapa halaman dari Sermon di Gunung. Yesus mempraktekkan apa yang beliur ajarkan dan hidup dengan ajarannya itu. Kehidupannya adalah kurikulumnya.


Lembaga dan Organisasi
Yesus tidak mengorganisasikan sebuah sekolah atau membentuk institusi khusus untuk menyebarkan ajarannya. Seperti halnya Socrates, Yesus tidak menulis apapaun, tidak menggunakan textbook walaupun dia banyak membaca dan mengutip literatur. Beliau lebih memilih berbicara pada orang-orang yang dia temui di manapun. Rumah, pantai, pinggiran sungai, jalan, puncak bukit pertemuan sosial dan pelayanan keagamaan adalah lembaga tempat beliau menyelenggarakan pendidikan. Beliau mengajar kapanpun dalam situasi apapun.
Yesus juga buka guru profesional yang menarik upah dari pelayanannya. Lembaga paling efektif dalam setiap petunjuknya adalah pancaran kepribadiannya.


Metode
Cara dan etika Yesus dalam memberikan instruksi pada murid dan pengikutnya menjadi contoh yang sempurna dalam metodologi pendidikan. Beliau mempunya instuisi yang tepat yang seoeauai dengan terori belajar dan prinsip-perinsip pengajarannya sekarang menjadi dasar keefektifan pengajaran. Yesus memberikan contoh konkrit dalam penerapan hidup dan hubungan manusia. Beliau secara berkesinmabungan menyesuiakan pengajarannya dengan pengalaman umum yangada. Beliau mengajar dengan merefer pada fenomena alam yang familiar.

Yesus juga mengenal prinsip aktivitas pengajaran. Beliau smendorong murid-muridnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Beliau menggunakan kekuatan sugesti unuk menstimulai proses berpikir. Beliau juga mengenal prinsip perbedaan antar individu dan menyesuaikan metode pengajarannya sesuai kebutuhan , kondisi dan kapasitas orang-orang yang mendengarkan ajarannya.

Motode pengajarannya adalah objektif, terus terang dan personal.Namun di atas segalanya beliau mengajar dengan keteladanan. Kehidupan beliau adalah penerangan yang paling baik bagi ajarannya. Beliau selalu mempraktekkan apa yang beliau ceramahkan.

Saturday, August 7, 2010

Pengertian dan Tujuan Pendidikan menurut UU Sisdiknas

Karena UU Sisdiknas itu puanjang...aku kutipin sebagian tentang pengertian dan tujuan pendidikan menurut UU RI No 2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional


BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1 

Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan:

1. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

2. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

3. Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

4. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.

5. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.

6. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

7. Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

8. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.

9. Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.

10. Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.

11. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

12. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.

13. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

14. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

15. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain.

16. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat.

17. Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.

18. Wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah daerah.

19. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

20. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

21. Evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan Pendidikan.

22. Akreditasi adalah kegiatan penilaian kelayakan program dalam satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

23. Sumber daya pendidikan adalah segala sesuatu yang dipergunakan dalam penyelenggaraan pendidikan yang meliputi tenaga kependidikan, masyarakat, dana, sarana, dan prasarana.

24. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat yang peduli pendidikan.

25. Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan.

26. Warga negara adalah warga negara Indonesia baik yang tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia maupun di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

27. Masyarakat adalah kelompok warga negara Indonesia nonpemerintah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan.

28. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat.

29. Pemerintah daerah adalah pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, atau pemerintah kota.

30. Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan nasional.


BAB II
DASAR, FUNGSI DAN TUJUAN


Pasal 2

Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.


Pasal 3

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.



terimakasih dan kredit buat http://www.gudangmateri.com maaf UU nya dicopas...

Tuesday, August 3, 2010

Psikodinamika

I. Pendahuluan
Kami menyusun makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah psikologi pendidikan yang merupakan mata kuliah matrikulasi bagi para sarjana yang berasal dari jalur non kependidikan. Psikodinamika merupakan sub pokok bahasan dari mata kuliah Psikologi Pendidikan. Seiring dengan berkembangnya ilmu Psikologi banyak aliran dan tokoh dalam bidang psikologi yang mengeluarkan teori-teori yang berhububungan dengan Teori Kepribadian dan Psikologi Perkembangan. Salah satu tokoh teori Kepribadian yang terkenal adalah Freud. Teori yang dikembangkan oleh Freud adalah Teori Psikodinamika.

II. Teori Psikodinamika
Psikodinamika pertama kali dikembangkan Oleh Sigmud Freud (1856-1939). Psikodinamika dari Freud ini juga dikenal dengan nama Psikoanalis. Freud dikenal sebagai Bapak Psikoanalisis (Bischof, 1970). Freud mengembangkan teorinya setelah banyak melakukan terapi pada orang-orang yang mengalami gangguan mental. Teori Kepribadian oleh Sigmund Freud ini kemudian banyak dikembangkan oleh pengikut-pengikut Freud seperti Jung, Adler dan Horney.
Teori Psikodinamika memandang komponen yang bersifat sosio-afektif sangat fundamental bagi kepribadian dan perkembangan seseorang. Ketegangan yang dimiliki seseorang menjadi komponen penentu dinamika kepribadiannya (Monks, Knoer and Haditono, 2006). Manusia menurut psikoanalis digambarkan sebagai mahluk yang mempunyai naluri dan konflik batiniah (Jaali, 2008)
Oleh para psikoanalis, Teori Freud ini dipakai untuk terapi orang-orang yang mengalami gangguan mental. Pada makalah ini akan dikupas teori-teori Psikoanalisis yang dikembangkan oleh Freud.

II. 1 Deskripsi Perilaku Manusia

Deskripsi perilaku manusia menurut Freud mengikuti prinsip-prinsip berikut ini (Bischof, 1970)
 Prinsip Kesenangan (Pleasure Principle)
Setiap perbuatan didasari oleh keinginan untuk mencari kesenangan tanpa rasa sakit/luka. Ada motivasi dalam diri manusia untuk mencari kesenangan dan kegembiraan. Menurut prinsip kesenangan ini setiap kebutuhan harus segera dipenuhi. Contohnya kebutuhan bayi untuk minum ASI.
 Prinsip Realitas (Reality Principle)
Berikutnya bahwa manusia dalam hidup tidak hanya untuk mencari kesenangan tetapi dibatasi oleh kenyataan dari dalam ataupun dari luar/lingkungan. Bahwa ada kesenangan yang harus ditunda/dibatasi oleh seseorang jika ingin mencapai kesenangan di masa depan.
 Prinsip Pengurangan Tekanan (Tension Reduction Principle)
Masih ada hubungan dengan 2 prinsip sebelumnya, manusia cenderung untk menghindari adanya tekanan. Manusia tidak selamanya bahagia, suatu saat dia dalam keadaan sedih atau tertekan. Saat itu manusia punya kebutuhan untuk mengurangi tekanan yang ada dalam dirinya.
 Prinsip Polaritas atau Dualitas
Semua dalam hidup ini dibedakan menjadi dua kutub karakteristik seperti contohnya berikut, Baik-buruk, Benar-salah, hidup-mati, positif-negatif. Kita dalam hidup kadang diberi pilihan yang sulit dan bertolak belakang dalam mengambil keputusan.
 Prinsip Dorongan Pengulangan (Compulsion Repetition Principle)
Manusia cenderung mengikuti kegiatan yang membawanya kepada keberhasilan. Manusia melakukan itu berulangkali sehingga menjadi kebiasaan dalam hidupnya.

II. 2 Dinamika dari Perilaku
Struktur Kepribadian menurut Freud terdiri dari 3 bagian utama:
Id (Das Es)
Id adalah sistem energi yang fenomenal pada diri manusia yang dibawa sejak lahir. Id hanya mengikuti prinsip kesenangan untuk memenuhi keinginannya. Id bersifat murni tidak mengetahui tentang batasan, tidak tahu tentang hukum ataupun peraturan. Id ini muncul pada bayi yang baru lahir sampai usia 1 tahun (Bischof, 1970). Muncul rasa lapar dan haus mengakibatkan bayi berusaha mempertahankan keseimbangan hidupnya dengan berusaha memperoleh makanan dan minuman.
Libido adalah bagian dari Id yang yang berhubungan dengan energi pada manusia yang berkenaan untuk melanjutkan keturunannya di muka bumi. Libido berkaitan dengan keinginan seksual alami pada manusia (Bischof, 1970).

Ego (Das Ich)
Ego adalah perpanjangan dari Id yang mengikuti prinsip realitas. Ego mulai muncul pada anak berumur 2 tahunan. Semakin sesuai ego dengan id individu tampak semakin berbahagia (Bischof, 1970). Ego berhubungan dengan kenyataan tetapi ego tidak mempertimbangkan moral. Misal ketika individu lapar secara realistis hanya diatasi dengan makan. Dalam hal ini ego mempertimbangkan cara memperoleh makanan dan mempertimbangan makanan tersebut layak atau tidak. Dengan demikian ego berfungsi untuk melibatkan proses kejiwaan yang bersifat sekunder.

Superego (Das Ueber Ich)
Superego adalah bagian ketiga dari kepribadian seseorang. Seseorang yang berhasil mengembangkan superegonya kepribadiannya telah berkembang dengan penuh. Superego membuat keputusan mengenai sesuatu perbuatan itu baik atau buruk berdasarkan standar yang telah diterima oleh masyarakat (Bischof, 1970). Superego berkaitan dengan kesadaran seorang individu atau bisa juga dikatakan dengan hati nurani.Superego adalah aspek sosiologis dari kepribadian yang isinya berupa nilai-nilai atau aturan-aturan yang sifatnya normatif. Superego ini terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai dari figur-figur berperan, berpengaruh atau berarti bagi individu.
Aspek kepribadian ini memiliki fungsi :
1. Sebagai pengendali Id agar dorongan-dorongan Id disalurkan dalam aktivitas yang dapat diterima masyarakat.
2. Mengarahkan ego pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan prinsip-prinsip moral.
3. Mendorong individu kepada kesempurnaan

Tahap Perkembangan Manusia
Dilihat dari perkembangan manusia dari lahir hingga dewasa, Freud menggambarkan kepribadian dalam beberapa zona erogen (zona kenikmatan).

Oral
Zona erogen yang pertama dikenal bayi adalah mulut. Zona erogen disekitar mulut yang mulai dimiliki oleh bayi yang baru lahir yang mengikuti prinsip kesenangan. Zona erogen ini memperoleh kenikmatannya saat menggunakan mulut/bibirnya untuk memperoleh makanan, terdapat pada bayi baru lahir sampai 2 tahun (Bischof, 1970). Bayi yang baru lahir mempunyai keinginan untuk menyusui dari puting ibunya saat lapar. Saat lapar dia menangis dan saat kebutuhannya itu terpenuhi bayi merasa senang. Namun sumber kenikmatan itu tak hanya karena dengan menyusu memperoleh makanan, dengan mulutnya itu bayi merasakan kehangatan ibunya dan gerakan menghisap ritmis itu juga memberikan bayi kenikmatan tersendiri (Monks, Knoer & Haditono, 2006)

Tahap Anal
Mulai berkembang pada anak usia 2-4 tahun. Di mana pada usia ini anak belajar toilet training. Tahap anal ini anak mulai mengerti dan bisa mengontrol keinginan untuk buang air besar (bowel movement). Ketika feses berhasil dibuang muncullah perasaan lega. (Hall & Lindzey, 1981)

Tahap Phallic
Setelah melewati masa oral dan anal, anak memasuki masa phallic. Di mana anak mulai mengenal organ kelaminnya. Dan mengetahui dia berbeda dengan lawan jenisnya. Masa kritis pada anak laki-laki dikenal dengan oedipus complex, yaitu ditandai dengan rasa kecemburuan besar dari anak laki-laki kepada ayahnya. Pada anak perempuan dikenal dengan electra complex

Tahap Laten
Kira-kira usia 6 sampai pubertas yaitu pada masa anak sekolah. Pada fase ini seksualitas terasa mengendap, tidak akti dan dalam keadaan laten. (Monks, Knoers & Haditono 2006).

Tahap Genital
Terjadi sejak individu memasuki pubertas dan selanjutnya. Pada masa ini individu telah mengalami kematangan pada organ reproduksi.


II. 3 Tingkat Kesadaran Manusia

Sadar (Concious)
Bagian dari keadaan mental manusia saat manusia dalam keadaan benar-benar terjaga/sadar. Dalam keadaan sadar kita tahu siapa diri kita, apa yang kita lakukan, di mana kita berada, apa yang terjadi di sekeliling kita, bagaimana kita melakukan sesuatu. Semakin orang menjadi aktif semakin sadar diri kita (Bischof, 1970)

Prasadar (preconcious)
Tingkat berikutnya adalah prasadar yaitu keadaan antara sadar dan tidak sadar.

Tidak sadar (unconcious)
Bagian terbesar dari keadaan mental seseorang, berisi pengalaman masa lalu seseorang, termasuk pengalaman yang tidak ingin kita ingat lagi.

II. 4 Mekanisme Pertahanan Ego (Ego Defense Mechanism)

Ego adalah sentral dari kepribadian. Ego menginginkan sesuatu untuk memberi kesenangan pada seseorang. Saat pemenuhan ego tertunda bahkan terhambat karena berhadapan dengan kenyataan di dunia luar. Keadaan ini membuat seseorang bisa membuat seseorang menjadi sangat sedih dan cemas. Untuk mempertahankan ego maka munculnya mekanisme pertahanan ego dalam diri manusia. Karakteristik utama dari mekanisme pertahanan ego yaitu beroperasi dalam keadaan tidak sadar. Orang yang bersangkutan dalam keadaan tidak sadar bahwa dia sedang mempertahankan egonya (Bischof, 1970)
Di bawah ini beberapa cara ego untuk mempertahankan diri, yaitu :

Represi
Bisa diartikan sebagai menekan/mengekang ego sehingga masuk dalam keadaan tidak sadar. Bentuk-bentuk dari represi ini antara lain menghindar, menarik diri atau membendungnya.


Regresi
Berarti kembali ke tahap perkembangan sebelumnya. Misalnya individu menjadi berperilaku seperti bayi atau anak-anak lagi.

Formation Reaction
Seperti prinsip polaritas, mekanisme pertahanan ini bereaksi sebaliknya dari yang terjadi pada dirinya. Reaksinya bahkan terlihat ektrem.

Projeksi
Menyertakan dan menyalahkan orang lain atas kesulitan yang seseorang alami, bahkan orang lain dituduh lebih bersalah dari pada dirinya.

Fiksasi
Hampir sama dengan regresi yaitu terlihat kembali ke tahapan seperti anak bayi. Namun dalam fiksasi seseorang memang memperoleh kenyamanan melakukan hal tersebut. Contoh fiksasi oral.
Ke lima di atas merupakan mekanisme pertahanan diri yang sering dibicarakan.

Mekanisme pertahanan diri yang lain adalah
Sublimasi
Mekanisme pertahanan ego yang ditujukan untuk mencegah atau meredakan kecemasan dengan cara mengubah dan menyesuaikan dorongan primitif Id yang menjadi penyebab kecemasan ke dalam tingkah laku yang bisa diterima masyarakat.

Displacement
Adalah pengungkapan dorongan yang menimbulkan kecemasan kepada objek atau individu yang kurang berbahaya dibanding individu semula.

III. Penyempurnaan Teori Psikodinamika Freud

Teori Psikodinamika / psikoanalisis banyak dikembangkan oleh pengikut-pengikut Freud seperti Jung, Adler dan Horney. Teori Freud juga kemudian dikembangkan lagi oleh Erikson 1964. Namun kritikan terhadap teori Freud juga banyak karena menganggap teori psikodinamika itu tidak dapat diuji secara empiris. Selain itu teori Freud ini dirasa terlalu mengedepankan masalah seksualitas.

Erikson menambahkan tahap-tahap perkembangan dengan lebih detail disertai aspek lingkungan yang perlu diberikan untuk menjadi pribadi yang baik. Lebih jelasnya bisa dilihat di lampiran 1.

IV. Rangkuman dan Kesimpulan

Kepribadian menurut Freud terdiri dari struktur dasar Id, Ego dan Superego. Seorang anak yang baru lahir dibekali dengan Id yang mengikuti prinsip kesenangan semata. Setelah bayi menjadi lebih besar keinginannya harus berhadapan pada realita di sekitanya sehingga munculah apa yang disebut Ego yang mengikuti prinsip realitas. Kemudian karena pengaruh orang tua dan lingkungan sosial muncullah apa yang dinamakan super ego.
Jika suatu saat pemenuhan ego terhambat seseorang menjadi cemas dan merasa tidak nyaman lalu secara tidak sadar muncullah apa yang dinamakan mekanisme pertahanan ego.
Id pada orang dewasa tersimpan dalam alam ketidaksadaran, dan superego ada dalam perilaku sadar manusia. Ego ada dalam wilayah sadar dan tidak sadar. Id secara tidak sadar membentuk kepribadian seseorang.


IV. Daftar Pustaka
Bischof, Ledford J. Interpreting Personality Theories. Harper and Row Publisher, 2nd edition, New York, 1970.
Hall, Calvin S and Lindzey, Gardner. Theories Personality. John Wiley & Sons, 3rd edition, New York, 1981
Jaali, H. Psikologi Pendidikan. Bumi Aksara, Jakartas, 2008.
Monks, F.J, Knoers A.M.P and Haditono, Siti Rahayu. Psikologi Perkembangan, Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Gajah Mada University Press, cetakan ke 16, Yogyakarta, 2006.

Oh psikodinamika..mahluk apakah dirimu...

Pertama dapat tugas psikologi pendidikan ehko dapetnya psikodinamika. Ngerti aja ngga kata dan mahluk apa itu, belajar psikologi beneran serius juga ga pernah. Nasib..untungnya SHinta kompak..kita cari deh bahan ke perpus...
walau pusing akhirnya sedikit rada kebayang..
Weaduh ternyata itu teorinya Freud..walah kebayang dulu denger cerita dari temen anak psikolog aja pusing nyernanya...baca buku populernya ah ko aku malah bukannay tambah jelas malah serasa jadi gila deh

emang nasib harus belajar lagi nih, kali in iharus lebih ngerti jangan jadi ga waras hehe...

Ibu rt pergi kuliah...

Alhamdulillah akhirnya bisa ngerasain lagi duduk dengerin kuliah. Punya dosen yang nerangin, duduk di ruang kuliah, dan punya temen-temen kuliah! Rasanya udah lama banget ya ga punya temen seperti itu, di kelas bareng, kuliah umum bareng, ke kantin bareng, cari bahan bareng, fotokopi bareng, ke mushola bareng sampe pulang bareng.
Senengya kulliah tapi juga disertai konsekuensi untuk kerja keras, kuliah sekarng ga sesantai kuliah dulu waktu remaja, beban kuliah sekrang yang lebih banyak tugas, sesuatu yang baru dan masih harus ingetanak dan keluarga.

Sebenarnya hal yang paling seru buatku adalah perjalanan ke tempat kuliah. Kuliah di jakarta untuk orang yang awam jakarta seperti akudan biasa tinggal di rumah.. wuah bikin deg-degan dan stress dari malam sebelumnya. malem sebelumnya sampe ga bisa tidur mikirin harus bisa pergi nyetir sendiri ke kampus, kalo mau kuliah. Modal nekad lah. Wuah mana ternayta hidup di jakarta ga gampang ya mau pergi ke kampus aja ampir 2 jam mana macet lagi. Ternyata emang lebih ringan dan enak tinggal di bandung ya..I miss bandung so much...

Yah dan begitu kuliah pusing juga udah dapet tugas, untung juga temen kelompok tugas pertama ini sehati, bisa ada temen cari-vari buku di perpus. Di perpus terlepas dari buku untuk tugas kuliahku dan program studiku nani, banyak buku-buku yang selama ini opiknya cukup menarik buatku. Yaitu bidang perkembangan anak dan pengasuhan anak. Wuah banyak banget buku-bukunya. Ampe bingung itu buku bisa ga ya sempet waktu dan pikiran untuk bacain buku di sana..kayaknya aku bakal kenyang deh...

Ya Allah terakhir aku cuma ingin berdoa semoga kuliah ku ini diberi kelancaran dan kelapangan, kemudahan dari prosesnya sampai ke akhirnya dan bisa berhasil dengan bagus. Aamiiin
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...