Search This Blog

Friday, December 31, 2010

Revisi Taksonomi Bloom

Taksonomi Bloom ini telah direvisi oleh Krathwohl salah satu penggagas taknomi tujuan belajar, agar lebih cocok dengan istilah yang sering digunakan dalam merumuskan tujuan belajar.
Kita sering mengenalnya dengan C1 s.d. C6

Pada revisi ini , jika dibandingkan dengan taksonomi sebelumnya, ada pertukaran pada posisi C5 dan C6 dan perubahan nama. Istilah sintesis dihilangkan dan diganting dengan Create.


Berikut ini Struktur dari Dimensi Proses Kognitif menurut Taksonomi yang telah direvisi
1 Remember (Mengingat) , yaitu mendapatkan kembali pengetahuan yang relevan dari memori jangka panjang.
 1.1 Recognizing (mengenali)
 1.2 Recalling (memanggilan/mengingat kembali)

2 Understand (Memahami), yaitu menentukan makna dari pesan dalam pelajaran-pelajaran meliputi oral, tertulis ataupun grafik.
 2.1 Interpreting (menginterpretasi)
 2.2 Exemplifying (mencontohkan)
 2.3 Classifying (mengklasifikasi)
 2.4 Summarizing (merangkum)
 2.5 Inferring (menyimpulkan)
 2.6 Comparing (membandingkan)
 2.7 Explaining (menjelaskan)

3 Apply (Menerapkan), yaitu mengambil atau menggunakan suatu prosedur tertentu bergantung situasi yang dihadapi.
 3.1 Executing (mengeksekusi)
 3.2 Implementing (mengimplementasi)

4 Analyze (menganalisa), yaitu memecah-mecah materi hingga ke bagian yang lebih kecil dan mendeteksi bagian apa yang berhubungan satu sama lain menuju satu struktur atau maksud tertentu.
 4.1 Differentianting (membedakan)
 4.2 Organizing (mengelola)
 4.3 Attributing (menghubungkan)

5 Evaluate (mengevaluasi), yaitu membuat pertimbangan berdasarkan kriteria dan standar.
5.1 Checking (memeriksa)
5.2 Critiquing (mengkritisi)

6 Create (menciptakan), yaitu menyusun elemen-elemen untuk membentuk sesuatu yang berbeda atau mempuat produk original.
6.1 Generating (menghasilkan)
6.2 Planning (merencanakan)
6.3 Producing (memproduksi)

 Proses kognitif meaningful learning atau yang melibatkan proses berpikir kompleks bisa digambarkan dari struktur ke C2 hingga ke C5.

Sumber
David R. Krathwohl, A Revision of Bloom’s Taxonomy, An Overview (Ohio: Theory Into Practice, vol 41 number 4 : 2002)

Wednesday, December 22, 2010

Pendidikan Jarak Jauh (Distance Learning)

A. Latar belakang
Pendidikan dalam arti luas dalam penyelenggaraannya tidak hanya tanggung jawab pemerintah namun juga perlu peran serta luas masyarakat sebagai penyelenggara baik untuk pendidikan formal, non-formal maupun informal. Tuntutan dan persaingan dunia kerja yang makin tinggi menuntut masyarakat untuk terus belajar dan mengenyam keterampilan dan pengetahuan tambahan di luar pendidikan formal. Di era informasi di mana teknologi informasi dan telekomunikasi kesempatan masyarakat untuk mengikuti beragam bentuk pendidikan pun termasuk pendidikan non-formal semakin luas. Salah satu kesempatan itu berwujud pendidikan jarak jauh.

Bagi individu yang tidak mempunyai banyak waktu dan kesempatan untuk mengikuti pendidikan formal atau non-formal di kelas, pendidikan jarak jauh kali ini bisa lebih mudah diikuti dengan cara on-line. Kursus on-line di dunia dewasa ini banyak tersedia dari berbagai program, baik yang di selenggarakan oleh institusi pendidikan tinggi resmi, organisasi atau lembaga-lembaga pendidikan. Berbagai pelajaran bahasa asing juga banyak terdapat secara on-line di internet secara gratis untuk sekedar menambah pengetahuan dan keterampilan. Salah satu organisasi terkemuka yang menyelenggarakannya yaitu BBC dan NHK. Namun untuk layanan gratis ini peserta tidak berhak mendapat sertifikat yang membuktikan keabsahan telah menyelesaikan dan mengikuti suatu program.

B. Pendidikan Jarak Jauh
Konsep mengenai pendidikan jarak jauh sendiri telah ada sejak tahun 1900-an dengan istilah sekolah korespondensi atau pendidikan korespondensi. Pada pendidikan korespendensi, Siswa yang berminat melalukan proses belajar dengan melakukan surat-menyurat dengan guru atau lembaga pendidikan yang menyelenggarakannya. Guru dan lembaga pendidikan bersifat sebagai fasilitator dan siswa dituntut untuk bisa belajar mandiri. Materi pelajaran dan ujian dikirimkan memalaui pos/surat. Pendidikan ini adalah alternatif bagi para siswa yang tidak mempunyai kesempatan untuk mengikuti pendidikan tatap muka secara klasik di kelas.
Konsep pendidikan korespondensi ini kemudian meluas menjadi pendidikan jarak jauh, open learning (pendidikan terbuka) dan sekarang masuk juga dalam konsep e-learning.
Menurut UU Sisdiknas pengertian pendidikan jarak jauh sebagai berikut.

Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain.

Prinsip pendidikan jarak jauh adalah kapan pun, di mana pun dan bagi siapapun. Hampir semua program pendidikan formal tatap muka bisa diselenggarakan dengan cara pendidikan jarak jauh. Kecuali progam-program yang menuntut praktik secara mendalam, tetapi jumlah program seperti itu relatif sedikit jumlahnya.
Menurut Wolf (1996), untuk menyelenggarakan pendidikan atau pelatihan jarak jauh harus memperhatikan tahapan berikut ini
1. Programming (menentukan/mrencanakan program)
2. Course Development (pengembangkan mata kuliah/subjek pelatihan atau kursus)
3. Pendekatan kurikulum, materi dan didaktik
4. Evaluasi dari kualitas media/bahan ajar
5. Pemanfaatan media elektronik
6. Produksi dan distribusi dari dari mata kuliah/subjek kursus.

Menurut penelitian para ahli, keefektifan pendidikan jarak jauh ini tidak ada perbedaan yang signifikan dengan pendidikan tatap muka di kelas. Yang menjadi fokus sekarang ini bagaimana cara mengembangkan kurikulum, materi, metode dan media yang cocok untuk setiap program. Namun dalam pembelajaran jarak jauh bukan tidak berarti tatap muka dihilangkan sama sekali. Tatap muka bisa masih dilakukan sekali-kali sesuai dengan kesepakatan program di awal.

Kelebihan dari program jarak jauh dewasa ini ada di penggunaan media belajar. Penggunaan media belajar dalam kegiatan belajar mengajar sudah banyak diteliti menambah daya serap siswa. Dengan teknologi informasi dan komunikasi, kesenjangan interaksi seperti yang umum terjadi dengan tatap muka di kelas dapat diatasi dengan program radio internet, live streaming, computer conferencing/tele-classroom. Selain itu distribusi bahan ajar dengan kemajuan teknologi informasi bisa lebih cepat dan mudah. Siswa tak perlu lama menunggu datangnya bahan ajar melalui pos, karena bahan ajar dan media bisa langsung diperoleh baik dari e-mail, file transfer ataupun mengunduh (download) bahkan bisa langsung dari genggaman dengan teknologi mobile phone.

Di Indonesia pusat teknologi informasi pendidikan, Pustekkom telah banyak mengembangkan teknologi untuk pendidikan jarak jauh ini. Namun di negara berkembang , termasuk Indonesia penyelenggaraan pendidikan jarak jauh berbasis teknologi informasi dan telekomunikasi masih banyak kendala. Walau pengguna komputer dan telepon seluler sudah relatif banyak, namun belum merata sampai ke pelosok-pelosok daerah. Apalagi akses internet sebagaian besar masih dimonopoli orang-orang yang tinggal di kota-kota besar.


Daftar pustaka
Wolf,H. C. de Distance Education (International Encyclopedia of Education Technology, 1996
Pendidikan Jarak Jauh, teori dan praktek, Universitas Terbuka, 2004

Monday, December 13, 2010

Ontologi dalam Filsafat Ilmu (rangkuman)

(Masing-masing sub bab pernah dibahas tersendiri beberapa bulan lalu secara lebih detail)

Ontologi dan Metafisika

Ontologi dalam filsafat ilmu mempelajari hakikat apa atau objek apa yang dipelajari oleh ilmu. Pertanyaan itu kemudian diuraikan lagi menjadi Bagaimana ujud hakiki dari objek tersebut? Dan bagaimana hubungan objek tadi dengan daya tangkap manusia. Sedangkan dari segi istilah ontologi berarti studi yang membahas sesuatu yang ada.

Ontologi merupakan bagian dari metafisika. Metafisika mengkaji mengenai realitas atau kenyataan; mengkaji alam di balik realitas dan menyelidiki hakikat di balik realitas. Metafisika adalah studi keberadaan atau realitas. Metafisika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah sumber dari suatu realitas, apakah Tuhan ada. Metafisika dapat berarti sebagai usaha untuk menyelidiki alam yang berada di luar pengalaman atau menyelidiki suatu hakikat yang berada di balik realitas. Cabang utama metafisika adalah ontologi, studi mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan hubungan antara satu dan lainnya.

Beberapa tafsiran/aliran metafisika adalah
1. aliran animisme
paham animisme memandang bahwa hakikat dari suatu benda terdapat ruh halus.
2. aliran materialisme
paham materialisme memandang hakikat suatu benda adalah gejala kimia fisika belaka.
3. aliran monistik
mempunyai pendapat yang tidak membedakan antara pikiran dan zat, mereka hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai substansi yang sama.
4. aliran dualistik
Dalam metafisika penafsiran dualistik membedakan antara zat dan pikiran yang bagi mereka berbeda secara substantif.


Objek Ilmu dan Asumsi
Objek yang dikaji oleh ilmu adalah semua objek yang empiris, yaitu objek yang bisa ditangkap oleh panca indera. Sebab bukti-bukti yang harus ditemukan adalah bukti-bukti yang empiris. Bukti empiris ini diperlukan untuk menguji bukti rasional yang telah dirumuskan dalam hipotesis.
Menurut ilmu, ia boleh meneliti apa saja ; menurut filsafat akan tergantung filsafat yang mana dan menurut agama belum tentu bebas.

Ilmu mempelajari objek yang berupa realitas dunia fisik. Semakin berkembangnya ilmu, kita mempelajari bahwa bahwa baik asumsi, hukum alam, dan ilmu itu tidak bersifat mutlak atau absolut universal.

Asumsi merupakan anggapan/andaian dasar tentang sebuah realitas. Asumsi adalah anggapan dasar tentang realitas objek yang menjadi pusat perhatian penelaahan kita. Mengapa asumsi diperlukan? Asumsi merupakan pondasi bagi penyusunan pengetahuan ilmiah. Asumsi diperlukan dalam pengembangan ilmu.

Untuk mendapat pengetahuan ini ilmu membuat asumsi mengenai objek –objek empiris (objek yang dapat ditangkap oleh panca indera). Dalam mengembangkan ilmu, kita harus bertolak dengan mempunyai asumsi/anggapan yang sama mengenai hukum-hukum alam dan objek yang akan ditelaah oleh ilmu baik itu dalam ilmu alam ataupun ilmu-ilmu sosial. Ilmu alam membahas asumsi mengenai zat, ruang dan waktu. Ilmu sosial mengedepankan membahas asumsi mengenai manusia.

Terdapat asumsi yang berbeda-beda mengenai hukum alam. Asumsi ini menurut kelompok-kelompok penganut faham berikut ini
 Deterministik
Kelompok penganut paham deterministik menganggap hukum alam ini tunduk kepada determinisme yaitu bahwa hukum alam mengikuti pola tertentu. Hukum alam ini diyakini bersifat universal.
 Pilihan Bebas
Penganut pilihan bebas menganggap hukum yang mengatur itu tanpa sebab karena setiap gejala alam merupakan pilihan bebas dan tidak terikat kepada hukum alam.
 Probabilistik
Dan yang terakhir penganut paham ini berada di antara deterministik dan pilihan bebas. Yang menyatakan bahwa gejala umum yang universal itu memang ada, namun berupa peluang.

Ilmu memang mengikuti hukum alam dengan pola tertentu namun kesemuanya itu bersifat probabilistik.

Asumsi dalam Ilmu
Ilmu yang paling maju yaitu fisika mempunyai cakupan objek zat, gerak, ruang, dan waktu. Menurut newton asumsi terhadap objek ini bersifat absolut. Sedangkan menurut Einstein yang didukung temuan terbaru bidang fisika bahwa ke 4 objek tersebut bersifat relatif.
Ilmu ukur yang memakai asumsi Nwetu adalah ilmu ukur euclid. Sedangkan teori relativitas memerlukan ilmu ukur lainya yaitu ilmu ukur non-euclid.

Asumsi dalam ilmu sosial lebih rumit. Masing-masing ilmu sosial mempunya berbagai asumsi mengenai manusia. Siapa sebenarnya manusia? Jawabnya tergantung kepada situasinya : dalam kegiatan ekonomis maka dia makhluk ekonomi, dalam politik maka dia political animal, dalam pendidikan dia homo educandum.
Hal – hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan asumsi
1. Asumsi ini harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disipin keilmuan.
Asumsi manusia dalam administrasi yang bersifat operasional adalah makhluk ekonomis, makhluk sosial, makhluk aktualisasi diri atau makhluk yang kompleks. Berdasarkan asumsi-asumsi ini maka dapat dikembangkan berbagai model, strategi, dan praktek administrasi.
2. Kedua, asumsi ini harus disimpulkan dari ‘keadaan sebagaimana adanya’ bukan ‘bagaimana keadaan yang seharusnya’.


Batasan Penjelajahan Ilmu dan Cabang Ilmu
Apakah batas yang merupakan lingkup penjelajahan ilmu? ilmu memulai penjelajahannnya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Ilmu tidak membahas yang di luar pengalaman manusia sepeti surga dan neraka.
Ilmu terbagi menjadi ilmu alam dan ilmu sosial. Dan kemudian banyak berkembang menjadi cabang-cabang ilmu lain yang sangat banyak. Namun sejauh berkembangnya ilmu tadi, batasan ilmu akan berhenti sejauh batas pengalaman manusia. Ilmu tidak mempelajari hal-hal di luar batas pengalaman manusia seperti hal gaib atau awal kejadian manusia.

Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama yakni filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (the natural sciences) dan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam cabang ilmu-ilmu sosial (the social sciences). Ilmu-ilmu alam membagi diri kepada dua kelompok lagi yakni ilmu alam (physical sciences) dan ilmu hayat (the biological sciences). Ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang membentuk alam semesta sedangkan alam kemudian bercabang lagi menjadi fisika (mempelajari massa dan energi), kimia (mempelajari substansi zat), astronomi dan ilmu bumi. Ilmu-ilmu murni ini kemudian berkembang menjadi ilmu-ilmu terapan.

Pada pokoknya terdapat cabang utama ilmu-ilmu sosial yakni antropologi (mempelajari manusia dalam perspektif waktu dan tempat), psikologi (mempelajari proses mental dan kelakuan manusia), ekonomi (mempelajari manusia dalam memenuhi kebutuhan kehidupannya lewat proses pertukaran), sosiologi (mempelajari sistem dan proses dalam kehidupan manusia berpemerintahan dan bernegara).
Disamping ilmu-ilmu alam dan ilmu sosial, pengetahuan mencakup juga humaniora dan matematika. Humaniora terdiri dari seni, filsafat, agama, bahasa, dan sejarah. Matematika bukan merupakan ilmu, melainkan cara berpikir deduktif. Matematika merupakan sarana berpikir yang penting sekali dalam kegiatan berbagai disiplin keilmuan.

Logika dan Penalaran

Penalaran
Kemampuan menalarlah yang membedakan manusia dari binatang. Kemampuan menalar ini lah kekuatan manusia yang menyebabkan mansuia mampu mengembangkan pengetahuan. Binatang juga mempunyai pengetahuan tetapi hanya terbatas untuk bertahan hidup (survival). Manusia mampu mengembangkan kemampuannya karena dua hal, yaitu yang pertama manusia mempunyai bahasa untuk berkomunikasi dan mampu menyampaikan informasi atau pendapat. Hal yangke 2 manusia mempunyai kemampuan berpikir menurut kerangka berpikir tertentu.
Penalaran pada hakikatnya adalah proses berpikir dalam rangka menarik kesimpulan atau menemukan kebenaran.
Ciri-ciri penalaran sebagai kegiatan berpikir
  •  logis , kegiatan berpikir dengan pola tertentu
  •  analitik,
perasaan meruapakan kegiatan peanarikan kesimpulan yang tidak didasarkan penalaran. Instuisi adalah kegiatan berpikir non analatik yang tidak berdasarkan pola tertentu.

Untuk melakukan kegiatan penalaran analisis , maka kegiatan tersebut awalnya harus diisi dulu oleh sebuah materi pengetahuan yang benar. Pengetahuan yagn digunakan dalam penalaran biasanya berdasarkan rasio ataupun fakta.
Rasionalisme adalah aliran yang berpendapat bahwa rasio adalah sumber kebenaran. Rasionalisme memakai cara penalaran deduktif.
Empirisme adalah paham yang menyatakan bahwa fakta yang tertangkap lewat pengalaman manusia adalah sumber kebenaran. Cara penalaran yang digunakan oleh paham empirisme adalah penalaran induktif.

Penalaran ilmiah diapaki untuk meningkatkan mutu ilmu dan teknologi. Penalaran ilmiah menggunakan gabungan dari penalaran induktif dan deduktif.

Logika
Penalaran merupakan proses berpikir untuk mendapatkan pengetahuan. Supaya pengetahuan yang didapat benar maka penarikan kesimpulan harus dilakukan dengan benar atau mengikuti pola tertentu. Cara penarikan kesimpulan disebut logika. Ada dua cara penarikan kesimpulan yaitu logika induktif dan logika deduktif.

Induksi merupakan cara berpikir dengan melakukan penarikan kesimpulan yang bersifat umum/general berdasarkan kasus-kasus individu/spesifik. Kentungan kesimpulan yang bersifat umum ini yang pertama adalah ekonomis. Dan yang ke 2 bahwa kesimpulan umum ini memungkinkan proses penalaran berikutnya baik induktif maupun deduktif. Dengan demikian memungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan secara sistematis

Deduksi merupakan cara berpikir untuk melakukan penarikan kesimpulan dari peryataan umum menjadi pernyataan khusus. Penalaran deduktif menggunakan pola berpikir silogisme. Dari premis mayor dan premis minor kemudian ditarik suatu kesimpulan.
Contoh
Semua mahluk memiliki mata - premis mayor
Si A adalah makhluk - premis minor
Jadi Si A memiliki mata - kesimpulan

Ketepatan penarikan kesimpulan bergantung pada kebenaran premis mayor, kebenaran premis minor dan cara/keabsahan penarikan kesimpulan.

Baik logika deduktif maupun induktif menggunakan pengetahuan sebagai premis-premisnya berupa pengatahuan yang dianggapnya benar. Kaum rasionalis menggunakan metode deduktif untuk menyusun pengetahuannya. Premis yang digunakannya berasal dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima.
Dari sini kemudia muncul paham idealisme. Yaitu paham yang mengakui bahwa sudah ada prinsip yang ada jauh sebelum manusia memikirkannya. Prinsip yang sudah ada ini dapat diketahui manusia memlalui kemampuan berpikir rasionalnya.
Para pemikir rasional ini cenderung subjekti, jika tidak ada konsensus yang disepakati. Karena ide/prinsip bagi si A belum tentu sama dengan si B.

Berlawanan dengan kaum rasionalis, kaum empiris mendapatkan pengetahuan melaui pengalaman yang bersifat konkret yang diperoleh lewat tangkapan pancaindera manusia. Gejala-gejal yang diamati kemudian ditelaah lebih lanjut dan mendapatkan pola tertentu setelah mendapat karakteristik persamaan dan pengulanngan .dari pengamatan. Kaum empiris menganggap bahwa dunia fisik adalah nyata karena merupakan gejala yang tertangkap panca indera.

Teori kebenaran
Apa syarat agar penarikan kesimpulan menghasilkan kesimpulan yang benar.? Peryataan dan penarikan kesimpulan harus konsisten dengan pernyataan dan kesimpulan terdahulu yang telah dianggap benar. Teori ini juga dikenal dengan teori koherensi yaitu bahwa pernyataan dianggap benar jika koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya.
Matematika adalah bentuk pengetahuan yang berdasarkan teori koherensi. Cara berpikir dedukif menganu teori koherensi.

Teori lainnya adalah teori korespondensi. Teori yang menyatakan suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan itu berkorespondensi atau berhubungan dengan objek yang dituju pernyataan itu. Objek di sini bersifat faktual. Jadi pernyataan benar jika berdasar fakta yang benar. Misalnya pernyataan ibu kota jawa barat adalah bandung adalah benar maka karena benar juga secara fakta.

Teori pragmatis memandang bahwa kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria bahwa pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Jadi pernyataan itu benar jika pernyataan itu konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Kriteria kebenaran pragmatis ini bisa digunakan oleh para ilmuwan dilihat dalam perseptif waktu. Semakin berjalan waktu jika kegunaannya sudah tidak ada maka pengetahuan itu akan ditinggalkan orang. Untuk bidan g ertentu pengetahuan ilmiah memah tidak berumur panjang.

Referensi

Suriasumantri, Jujun, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, PT Pancaraintan Indahgraha, Jakarta, 2007

Sunday, December 12, 2010

Ilmu dan Filsafat

Falsafah diartikan sebagai cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Filsafat dimulai dengan rasa ingin tahu dan keragu-raguan.
Karakter berpikir filsafat ada 3
1. menyeluruh
2. mendasar
3. spekulatif

Filsafat dikatakan peretas pengetahuan. Semua ilmu baik itu ilmu alam atau ilmu sosial berawal dari filsafat. Seperti fisika asalnya dari filsafat alam dan ekonomi berasal dari filsafat moral. Menurut Will Durant tiap ilmu dimulai dari filsafat dan diakhir dengan seni.

Filsafat menelaah segala sesuatu yang dipikirkan manusia. Filsafat mengawali dengan pertanyaan tentang manusia. Dan ilmu sosial membuat asumsi berbeda tentang manusia tergantung pada bidang ilmunya. Misal asumsi manusia untuk ilmu ekonomi berbeda dngan ilmu manajemen. Hal lain yang dikaji filsafat adalah cara mendapatkan pengetahuan dan juga bahasa. Matematika secara filsafat bukan ilmu melainkan bahasa non-verball.

Cabang utama yagn dibahas filsafat adalah logika, etika, estetika, metafisika dan politik. Kemudian tumbuh menjadi cabang2 berikut
epistimologi filsafat pengetahuan
  • etika
  • estetika
  • metafisika
  • politik
  • filsafat agama
  • filsafat ilmu
  • filsafat pendidikan
  • filsafat hukum
  • filsafat sejarah
  • filsafat matematika

Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu merupakan bagian epistimologi yagn secara spesifik mengkaji hakikat ilmu. Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Filsafat ilmu mengkaji masalah ontologi, epistemologi, dan aksiologi ilmu. Ontologi membahas objek yang ditelaah iilmu. Epistemologi membahas bagiamana cara mendapatkan ilmu dan aksilogi menbahasa memgenai cara penggunaan ilmu. Semua pengetahuan apakah itu ilmu, seni atau pengetahuan pada dasarnya mempunyai landasan ontologi, epistemologi dan aksiologi.

 Daftar Pustaka

Suriasumantri, Jujun, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, PT Pancaraintan Indahgraha, Jakarta, 2007
Suriasumantri Jujun (editor), Ilmu dalam Perspektif, PT. Gramedia, Jakarta, 2007.
__________________________, Pedoman Penulisan Tesis dan Disertasi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Jakarta, 2010.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...