Search This Blog

Friday, January 28, 2011

Teori Kognitif Piaget


By Gina F & Balya Hulaimy

Secara umum teori mengenai kognitif membahas mengenai perkembangan kognitif dan proses kognitif. 
              Menurut Santrock (2008), Perkembangan adalah perubahan pola biologis, kognitif dan sosioemosional yang dimulai dari masa konsepsi dan terus berlangsung sepanjang hidup. Perkembangan dinyatakan dalam istilah periode/tahapan. Pola perkembangan anak begitu kompleks karena melibatkan proses-proses biologis, kognitif dan sosioemosional tadi. Proses kognitif melibatkan perubahan dalam berpikir, intelegensi dan bahasa anak. [1]
             

Teori Perkembangan Piaget

              Psikolog Swis, Jean Piaget, merancang model yang mendeskripsikan bagaimana manusia memahami dunianya dengan mengumpulkan dan mengorganisasikan informasi. Menurut Piaget seperti yang dikutip Woolfolk (2009) perkembangan kognitif dipengaruhi oleh  maturasi (kematangan), aktivitas dan transmisi sosial. Maturasi atau kematangan berkaitan dengan perubahan biologis yang terprogram secara genetik. Aktivitas berkaitan dengan kemampuan untuk menangani lingkungan dan belajar darinya. Transmisi sosial berkaitan dengan interaksi dengan orang-orang di sekitar dan belajar darinya. [2]
              Piaget mengadakan penelitian pada anak mengenai perkembangan kognitif anak. Dari penelitiannya Piaget mengusulkan 4 tahapan perkembangan kognitif yang tiap tahapannya berhubungan dengan usia dan cara berpikir. Tahap-tahap itu adalah[3]
1.      Tahap Sensorimotor (dari usia lahir sampai 2 tahun)
              Pada tahap ini seorang bayi membangun pemahamannya tentang dunia sekitarnya melalui koordinasi pengalaman indrawinya dengan gerakan motorik.  Pada awal masa perkembangan bayi tak berbeda jauh dari gerakan refleksnya. Di akhir tahapan seorang bayi mulai bisa membedakan dirinya dan dunia sekitarnya dan mulai menyadai bahwa objek akan tetap ada walau tak terlihat atau tak terdengar.
2.      Tahap Preoperasional (kira-kira usia 2 sampai 7 tahun)
              Ciri utama fase ini adalah berpikir simbolik dan berpikir intuitif, egosentris dan animisme serta suka mendengarkan dongeng. Berpikir simbolik pada fase ini adalah anak sudah dapat mengungkapkan konsep yang tersusun dalam skemata di dalam imajinasinya, dan diungkapkan dalan bentuk kalimat dan gambar. Sedangkan animisme artinya anak percaya bahwa objek yang tidak bergerak dapat melakukan kegiatan seperti benda hidup. [4] Pada tahap ini anak belum bisa berpikir konservasi atau irreversibel.
3.      Tahap Operasional Konkret (kira-kira usia 7 sampai 11 tahun)
              Menurut Santrok juga Jamaris, pada usia ini anak sudah mempu melakukan seriasi dan klasifikasi terhadap satu set objek dan juga menemukan hubungan logis antara elemen-elemen yang tersusun secara teratur (transitivity). Pada tahap ini anak juga mampu memecahkan masalah secara konkrit atau dalam bentuk kegiatan nyata. Selain itu anak juga sudah mulai mengurangi sifat egosentrisnya. Anak pada tahap ini sudah mengerti konsep irreversibel dan konservasi. Misalnya. Anak sudah mulai mengerti bahwa jika air dituangkan ke wadah lain maka volume/banyaknya tetap sama.
4.      Tahap Operasional Formal (kira-kira usia 11- 15 tahun sampai dewasa)
              Tahap operasional formal adalah tahap terakhir perkembangan kognitif menurut teori Piaget. Siswa pada usia ini telah mampu berpikir abstrak, idealistis dengan cara yang logis.

Proses Kognitif
              Piaget juga mengemukakan teori mengenai proses kognitif. Menurut Piaget,  proses kognitif ketika anak mengkontruksi pengetahuannya melibatkan skema, asimilasi dan akomodasi, organisasi dan ekuilibrium.
              Piaget memunculkan definisi Skema dalam teorinya. Menurut Teori Piaget, seperti yang dikutip oleh Santrock adalah kegiatan atau representasi mental dalam menyusun pengetahuan. Sedangkan Jamaris (2010) menerjemahkan skema atau skemata dalam bentuk jamak adalah struktur pengetahuan yang disimpan dalam ingatan. Woolfolk (2008) menjelaskan bahwa skema adalah sistem tindakan atau pikiran yang terorganisasi yang memungkinkan kita untuk mepresentasikan secara mental atau memikirkan tentang berbagai objek dan kejadian di dunia. Skema bisa sangat kecil dan spesifik misalnya skema mengenali setangkai mawar atau skema yang lebih bear dan umum misalnya skema mengkategorikan tanaman. [5]
              Seperti yang dikutip oleh Jamaris, asimilasi adalah proses kognitif yang mencocokkan informasi yang diterima dengan informasi yang telah ada dalam struktur pengetahuan (skema).  Sedangkan akomodasi adalah proses yang terjadi dalam menggunakan informasi yang telah ada untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Jika pada suatu hal apabila informasi yang ada tidak dapat digunakan untuk memecahkan masalah, lalu individu akan mencari cara lain untuk memecahkan masalah. Proses yang terakhir dikenal dengan nama ekuilibrium.[6]
              Teori Piaget juga menjelaskan mengenai pengorganisasian, yaitu mengelompokkan perilaku dan berpikir melalui tingkat berpikir yang lebih tinggi. Pengorganisasian secara kognitif ini diperlukan seseorang untuk bisa  memahami dunia sekitar. [7]

Analisa Teori Piaget

              Banyak peneliti melakukan penelitian ulang atau berusaha menelaah hasil penelitian Piaget mengenai tahapan perkembangan kognisi anak dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan/tugas-tugas Piaget. Pendapat- pendapat yang muncul bahwa perkembangan anak itu berlangsung gradual tidak terjadi tiba-tiba. Selain itu kadang ada anak yang kemampuannya melebihi batasan usia itu ada yang memang lebih cepat dalam aspek-aspek tertentu. Ada juga yang berpendapat bahwa Piaget terlalu meremehkan kemampuan kognisi pada anak-anak kecil. Seperti yang dikutip oleh Woolfolk, Piaget juga dikritik bahwa anak-anak dan orang dowasa juga seringkali berpikir dengan cara-cara yang tidak konsisten dengan gagasan tahap-tahap yang tidak bervariasi. Hasil karya ini juga dikritik karena Piaget dianggap tidak melihat faktor-faktor kultural dalam perkembangan anak.
              Kemudian muncul pembaharu teori Piaget yang terilhami oleh Teori Piaget dan dikenal dengan Neo – Piagetian. Neo-piagetian tetap mempertahankan kontruksi pengetahuan anak dan tren-tren umum di dalam pemikiran anak, tetapi menambahkan temua-temuan dari pemrosesan informasi tentang peran atensi, ingatan dan strategi [1]

Implementasi Teori Piaget

Pembelajaran dilakukan dengan memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar pada hasilnya dan mengutamakan peran siswa dalam kegiatan pembelajaran serta memaklumi adanya perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan yang dapat dipegaruhi oleh perkembangan intelektual anak. Teori dasar perkembangan kognitif dari Jean Piaget mewajibkan guru agar pembelajaran diisi dengan kegiatan interaksi inderawi antara siswa dengan benda-benda dan fenomema konkrit yang ada di lingkungan serta dimaksudkan untuk menumbuh-kembangkan kemampuan berpikir, antara lain kemampuan berpikir konservasi.
Menurut Hunt, seperti yang dikutip oleh Woolfolk (2009) siswa tidak boleh dibuat bosan oleh pekerjaan yang terlalu mudah atau dibiarkan tertinggal oleh pengajaran yang tidak mereka pahami. Disekuilibrium harus dijaga benar-benar pas untuk mendorong pertumbuhan. [1]
Inti dari implementasi teori Piaget dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut :
1.      Memfokuskan pada proses berfikir atau proses mental anak tidak sekedar pada produknya. Di samping kebenaran jawaban siswa, guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban tersebut.
2.      Pengenalan dan pengakuan atas peranan anak-anak yang penting sekali dalam inisiatif diri dan keterlibatan aktif dalam kegaiatan pembelajaran. Dalam kelas Piaget penyajian materi jadi (ready made) tidak diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk menemukan untuk dirinya sendiri melalui interaksi spontan dengan lingkungan.
3.      Tidak menekankan pada praktek-praktek yang diarahkan untuk menjadikan anak-anak seperti orang dewasa dalam pemikirannya.
4.      Penerimaan terhadap perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan, teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh anak berkembang melalui urutan perkembangan yang sama namun mereka memperolehnya dengan kecepatan yang berbeda. 


[1] Ibid., hlm. 28
[2] Anita Woolfolk, Educational Psychology, Active Learning Edition, Bagian Pertama, Edisi Bahasa Indonesia. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar : 2009) hlm. 49-50
[3] Santrock, op. cit., hlm 38-44
[4] Jamaris. Op. Cit., hlm. 37
[5] Anita Woolfolk. Educational Psychology. Edisi Bahasa Indonesia. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009) hlm. 51
[6] Ibid., hlm. 33
[7] Santrock. Op. Cit., hlm. 38

[1] Woolfolk, Op.cit., hlm. 80.
 

[1] Woolfolk, op. Cit., hlm 62

Pendekatan Pemrosesan Informasi dan Teori Gagne

Menurut pendekatan pemrosesan informasi, Belajar dan berpikir melibatkan pemrosesan informasi yang berada dalam otak. Berikut ini kita akan membahas sekilas mengenai konsep memori, model pemrosesan informasi dan teori belajar Gagne.



Memori

              Memori atau sering kita kenal sebagai ingatan menurut Santrock (2008) adalah penahanan/penyimpanan informasi yang berlangsung dari waktu ke waktu. Pemrosesan informasi dalam memory melibatkan kegiatan penyandian atau pengkodean (encoding), penyimpanan (storage) dan pengambilan kembali (retrieval). Dalam bahasa sehari-hari kegiatan encoding umum dikenal dengan istilah atensi/perhatian atau belajar. Menurut Santrock atensi adalah konsentrasi atau pemfokusan sumber daya mental. Seiring dengan pertumbuhannya kemampuan atensi anak dapat bertahan lebih lama.
              Kita mengenal tiga macam memori yaitu memori indra (sensory memory), memori jangka pendek (short term memory) dan memori jangka panjang (long term memory). Memori indra menahan informasi asli yang di dapat dari dunia sekitar yang diperoleh dari pancaindera. Memori ini berlangsung hanya sekejap. Memori jangka pendek menurut Santrock adalah memori dengan kapasitas terbatas dan hanya bertahan 30 detik, kecuali jika informasi itu kita ulang atau latih atau diproses lebih lanjut. Berkaitan dengan memori jangka pendek ini, Alan Baddeley seperti yang dikutip Santrock mengenalkan apa yang disebut working memory yaitu tempat di mana informasi diolah dan dibentuk untuk membantu kita menyelesaikan masalah, mengambil keputusan atau memahami bahasa lisan atau tertulis. [1]
              Sedangkan memori jangka panjang (long term memory) adalah jenis memori yang menyimpan informasi dalam jumlah yang sangat besar dalam jangka waktu yang panjang dan relatif menetap. Manusia mempunyai memori jangka panjang yang tersusun apik. Kita bisa mengambil kembali informasi yang ada pada memori jangka panjang kita untuk peristiwa lampau dalam waktu yang relatif cepat.

Model Kerja Memori

Atkinson-Shiffrin seperti yang dikutip oleh Santrock (2008) membuat model yang berkaitan dengan 3 macam memori yang telah kita bahas
Model ini melibatkan urutan dari memori indra, memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Dari model tersebut tergambarkan bahwa memori indra menahan informasi hanya sekejap. Dan informasi itu akan masuk ke memori jangka pendek jika ada pemfokusan perhatian. Lalu menurut Atkinson dan Shiffrin, semakin lama informasi berada dalam memori jangka pendek melalui kegiatan latihan atau pengulangan, semakin besar besar kemungkinannya informasi itu tersimpan di memori jangka panjang.

Teori Belajar Gagne

              Gagne dikenal dengan teori pembelajarannya mengenai Condition Learning. Walaupun awalnya ide-idenya banyak dipengaruh aliran behavourisme, dia banyak memunculkan ide mengenai teori kognitif. Menurut Gagne ranah-ranah pembelajaran mencakup lima komponen utama yaitu: informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan keterampilan motorik.
Gagne juga mengemukakan mengenai proses kognitif dalam belajar. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu,  (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.
Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Kondisi internal mencakup atensi, motivasi, dan mengingat kembali (recall). Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
              Kondisi eksternal menyangkut pemrosesan stimulus yang berasal dari luar. Untuk pembelajaran meliputi empat fase yaitu pertama menerima stimulus, fase ke dua tahapan akuisisi, fase ke 3 penyimpanan (storage) dan fase ke 4 mengambil informasi (retrieval)
             
Aplikasi dalam Pembelajaran
Gagne juga dikenal mengemukakan idenya mengenai rancangan pembelajaran. Dia menyebutkan 9 tahapan dalam setiap kegiatan pengajaran yaitu
(1)   mengambil atensi (reception)
(2)   menjelaskan tujuan belajar (expectancy)
(3)   menstimulasi dengan mengingat kembali pelajaran sebelumnya (retrieval)
(4)   memberikan stimulus (selective perception)
(5)   menyediakan petunjuk belajar (semantic encoding)
(6)   eliciting performance (responding)
(7)   memberikan umpan bali(reinforcement)
(8)   menilai kinerja (retrieval)
meningkantkan proses retention dan transfer (generalization)


Analisa Teori Gagne

              Teori Gagne ini memang tidak terlalu sering disebut dalam dalam teori kognitif. Mungkin mulanya karena teori ini dilandasi oleh pemikiran mengenai stimulus dan response dari teori behaviorisme sehingga muncullah ide Gagne mengemukakan mengenai pemrosesan informasi.


[1]
John W. Santrock, Educational Psychology 3rd ed (Boston : Mc. Graw Hill, 2008),hlm. 273

Otak dan Teori Belajar Kognitif

A. LATAR BELAKANG
Psikologi pendidikan merupakan cabang dari psikologi yang menerapkan pandangan, prinsip dan teori psikologi yang berkaitan dengan bidang pendidikan. Psikologi sendiri berasal dari bahasa Yunani psyche yang berarti jiwa. Psikologi mempelajari perilaku dan proses mental manusia melalui metode penelitian ilmiah. Sehubungan dengan kajiannya ini banyak pandangan dan aliran dalam psikologi. Berbagai aliran ini mempengaruhi juga berbagai pendekatan dalam psikologi pendidikan.
Salah satu fokus dalam psikologi pendidikan adalah Kegiatan pendidikan yang berhubungan dengan siswa dan proses pembelajaran di dalam kelas. Ada 2 pendekatan mengenai pengertian belajar atau pembelajaran yaitu menurut aliran behaviorisme dan aliran kognitivisme. Aliran kognitif juga terbagi lagi menjadi sosial-kognitif, kognitif dan kognitif-konstruktivis. 

Aliran yang mula-mula muncul adalah behaviorisme. Aliran ini mulai dikenal dengan percobaan classical conditioning yang dilakukan oleh Ivan Pavlov. Tokoh lain aliran ini kemudian adalah Skinner, dengan penelitiannya mengenai operant conditioning. Aliran behaviorisme menggunakan pendekatan stimulus dan respon dalam pembelajaran. Aliran ini mengedepankan pentingnya reinforcement dalam pembelajaran.
Sedangkan teori sosial kognitif dikembangkan oleh Bandura. Menurut Bandura bahwa faktor sosial dan kognitif, seperti halnya juga perilaku, memainkan peran penting dalam proses belajar. Bandura tidak begitu sependapat dengan aliran sebelumnya yaitu aliran behaviorisme, yang hanya mengedepankan perilaku. Karena menurutnya seperti yang dikutip oleh Santrock (2008), ketika siswa belajar mereka dapat secara kognitif mempertunjukkan atau mentransformasikan pengalamannya .
Aliran Behaviorisme ini tidak disetujuin oleh penganut kognitivisme. Benjamin Bloom melakukan kritik pada pendekatan behaviorisme dalam pembelajaran yaitu sulitnya memasukkan tujuan pembelajaran di kelas. Bloom kemudian memunculkan suatu taksonomi proses kognitif. Menurut teori kognitif, belajar melibatkan suatu proses mental yang disebut berpikir. Teori kognitif menggunakan pendekatan pemrosesan informasi untuk menjelaskan apa yang disebut informasi, memori/ingatan dan berpikir.
Teori kognitif-kontruktivist menekankan bahwa kognitif siswa berperan penting dalam membangun pengetahuan dan pemahamannya tentang objek yang dipelajarinya. Tokoh kognitif-kontruktivis adalah Piaget. Pendekatan lain dalam pembelajaran adalah pendekatan sosial-kontruktivis. Pendekatan ini menekankan bahwa dalam menghimpun pengetahuan dan pemahamannya siswa membutuhkan kerjasama dengan orang lain. Tokoh aliran ini adalah Vygotsky.


B. Pengertian Kognisi, belajar dan berpikir

Kognisi dan teori kognitif
Kognisi bisa diartikan pikiran. Menurut Gagne seperti yang dikutip Jamaris (2010) bahwa kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada saat manusia sedang berpikir. Teori kognitif menekankan peranan struktur ingatan dan pengetahuan terhadap proses penerimaan, pemrosesan, penyimpanan dan pemanggilan kembali informasi.
Teori kognitif tertuju kepada hal-hal yang terjadi didalam kepala kita ketika kita belajar. Teori kognitif juga mengambil perspektif bahwa siswa secara aktif memproses informasi dan pembelajaran berlangsung melalui usaha-usaha siswa ketika siswa mengaturnya, menyimpannya dan kemudian menemukan hubungan-hubungan antara informasi, hubungan baru dengan pengetahuan lama, skema, dan teks, pendekatan kognitif menekankan bagaimana informasi di proses. 

Belajar
Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996, page 53) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.


Belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan. Lebih luas lagi menurut Mayer (2002) belajar melibatkan proses retensi (retention) dan juga transfer. Retensi yaitu kemampuan untuk mengingat pengetahuan yang telah didapatkan, dan transfer melibatkan kemampuan untuk menggunakan apa yang telah dipelajari untuk untuk menyelesaikan masalah. Menurut Santrock (2008), belajar didefinisikan sebagai pengaruh yang relatif tetap terhadap perilaku, pengetahuan dan keterampilan berpikir yang diperoleh dari pengalaman .
Jadi belajar merupakan proses untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan berpikir dan perilaku untuk dipahami dan digunakan dalam menyelesaikan masalah.

Berpikir
Proses kognitif melibatkan perubahan dalam pemikiran , intelegensi dan bahasa anak. Dalam pembahasan kali ini kita akan membahas proses kognitif yang berhubungan dengan pikiran, dari yang sederhana hingga yang kompleks. Berpikir dan belajar melibatkan proses kognisi yang kompleks. Menurut Santrock berpikir melibatkan manipulasi dan tranformasi informasi yang ada dalam memori. Berpikir, melakukan penalaran baik induktif ataupun deduktif, melakukan analogi, berpikir kritis, mengambil keputusan, kreativitas dan memecahkan masalah adalah kegiatan-kegiatan mental yang memelukan proses kognitif yang kompleks.
Penalaran adalah bagian dari proses berpikir, ada dua macam penalaran yaitu penalaran indukti dan penalaran deduktif. Penalaran induktif yaitu menarik suatu kesimpulan yang umum dari peristiwa khusus Yang merupakan salah satu cara berpikir induktif yaitu analogi. Sedangkan penalaran deduktif adalah menarik kesimpulan khusus dari pernyataan-pernyataan yang umum.

Berpikir kritis melibatkan perenungan, berpikir produktif dan mengevaluasi bukti-bukti yang ada. Pengambilan keputusan melibatkan berpikir dimana individu mengevaluasi alternative-alternaif yang ada dan memilih di antaranya. Sedangkan pemecahan masalah melibatkan pencarian jalan yang sesuai atau cocok untuk mencapai tujuan. Menurut Bransford dan Stein seperti yang dikutip Santrock ada 4 tahap pemecahan masalah yaitu menemukan dan merumuskan masalah, mengembangkan strategi pemecahan masalah yang baik, mengevaluasi solusi, memikirkan kembali dan mendefiniskan kembali masalah dan solusinya.
Kreativitas bisa diartikan yaitu memikirkan sesuatu yang tidak biasa atau sesuatu yang menghasilkan solusi yang unik untuk suatu masalah. Kreativitas juga melibatkan proses bepikir devergen dan konvergen.


Formasi Konsep
Seperti apa yang dikutip Santrock dari beberapa sumber Konsep merupakan elemen-elemen kognisi yang membantu kta menyederhanakan dan menyimpulkan informasi. Konsep adalah kategori yagn mengelompokkan objek, kejadian dan karakteristik dasar dari sifat-sifat umum. Dengan konsep suatu objek adalah unik. Beberapa konsep terlihat sederhana, jelas dan konkret namun ada pula konsep yang kompleks membingungkan dan abstrak.
Menurut Jamaris pembentukan/formasi konsep adalah susunan konsep-konseop yang teratur sesuai dengan klasifikasi adan jenis-jenis konsep yang termasuk di dalam klasifikasi konsep. Menurut Santrock aspek yang pentik dalam pembentukan konsep adalah mempelajari ciri, dan karakteristik kunci dari suatu konsep. Termasuk diantaranya mendefinisikan elemen-elemen konsep atau dimensinya yang bisa membedakannya dengan konsep yang lain.


C. Otak

Perkembangan otak dimulai sangat pesat sejak anak dalam kandungan ibunya. Anak yang baru lahir telah mempunyai miliaran jumlah sel saraf otak yang dikenal dengan sel neuron. Kemudian setelah lahir sampai usia 3 tahun, perkembangan otak berlangsung mengagumkan, sehingga dikenal dengan periode emas perkembangan otak.
Otak bagaikan sebuah papan panel tempat masukan (input) yang berupa informasi diolah sedemikian rupa, dipahami kemudian dikembalikan lagi berupa output yang cerdas. Semua proses itu dinisbahkan pada komponen terkecil otak yang disebut sel-sel saraf (sel neuron) yang bersama sel penunjang dan sel glia (pemberi makan) menyokong fungsi dan kerja otak manusia. Sel Neuron terdiri dari akson dan dendrit. Hubungan antar sel dihubungkan oleh suatu gap kecil yang disebut sinaps.

Jumlah dan ukuran sel saraf otak terus berkembang hingga masuk usia dewasa. Ukuran otak ini juga membesar karena adanya proses myelinasi, yaitu proses pembungkusan sel-sel otak oleh lapisan myelin. Proses ini bisa meningkatkan kecepatan informasi yang melewati sistem saraf. Perkembangan lain adalah dalam level sel, yaitu perkembangan yang dramatis dalam koneksi/sambungan antar neuron melalui sinaps. Anak balita mempunyai koneksi antar neuron yang lebih banyak. Koneksi antar neuron yang sering digunakan (karena pengalaman indra) akan bertahan dan menjadi koneksi yang kuat. Sedangkan koneksi yang tidak digunakan akan terpangkas dengan sendirinya.
Otak adalah bagian dari susunan saraf pusat (SSP) yang tersimpan dalam rangka tengkorak. Hubungan otak dengan bagian-bagian saraf lain di tubuh membentuk jalinan saraf yang mengatur seluruh kegiatan organ-organ tubuh. Otak sebagai saraf pusat terdiri dari otak depan (proenchepalon), otak tengah (mesencephalon) dan otak belakang (rhombencephalon). 

Otak depan (proenchepalon) terdiri dari otak besar (cerebrum), talamus dan hipotalamus. Bagian cerebrum atau otak besar, jika terlihat dari atas terbelah menjadi dua. Alur yang membaginya dikenal sebagai fissura longitudinal. Belahannya disebut hemisfer. Jadi terdapat hemisfer kanan dan hemisfer kiri, atau dikenal dengan otak kanan dan otak kiri. Koordinasi dan kontrol bagian tubuh terjadi bersilangan. Tangan kanan dan kaki kanan diurus oleh otak kanan, sebaliknya tangan kiri dan kaki kiri diurus otak kanan. Pembagian otak kanan dan kiri ini juga membentuk dua cara berpikir. Menurut Roger Sperry seperti yang dikutip oleh Pasiak, otak kiri mengatur hal-hal yang bersifat rasional terutama bahasa dan matematika. Dan otak kanan mengatur hal-hal yang bersifat intuitif dan berhubungan dengan seni.
Cerebrum terdiri dari bongkahan-bongkahan yang disebus lobus otak. Cerebrum luar yang dikenal dengan kulit otak (korteks serebri) melipat-lipat sedemikian rupa (konvolusi) membungkus bongkahan otak. Variasi lipatan itu menandai masing-masing lobus. Lobus otak ini terdiri dari lobus frontal di dahi, lobus occipital di belakang kepala, lobus temporal di seputaran telinga dan lobus parietal di puncak kepala.

Lobus frontal bertanggung jawab untuk kegiatan berpikir, perencanaan dan penyusunan konsep, yaitu proses berpikir tingkat tinggi/kompleks. Lobus temporal yang terdapat di kiri dan kanan bertanggung jawab terhadap persepsi suara dan bunyi. Lobus parietal bertanggung jawab untuk kegiatan berpikir terutama pengaturan memori.
Lobus otak menyokong kulit otak yang mengemban fungsi berpikir rasional dan daya ingat. Kulit otak (korteks serebri) tampak seperti lipatan-lipatan tak beraturan yang disebut konvolusi. Lipatan ini memperluas kulit otak, evolusi manusia dengan kecerdasan yang menonjol ditampakkan oleh luasnya dan berlipat-lipatnya kulit otak itu. Kulit otak memungkinkan manusia berpikir rasional karena di tempat itulah terjadi pengolahan informasi, persepsi/tanggapan termasuk bermukimnya memori .

Daftar Pustaka

Jamaris, Martini. Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan. Jakarta : Penamas Murni, 2010.
Pasiak, Taufik. Revolusi IQ/EQ/SQ, Antara Neurosains dan Al-Quran. Bandung : Mizan, 2002.
Santrock, John W. Educational Psychology 3rd ed. Boston: Mc. Graw Hill, 2008.

Sunday, January 9, 2011

Epistemologi II : Metode Ilmiah

Metode Ilmiah

Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Metode merupakan suatu prosedur mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah.
Metodologi masuk dalam epistemologi yang membahas mengenai bagaimana kita mendapat pengetahuan. Epistemologi juga membahas apakah sumber-sumber pengetahuan? Apa hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Apakah manusia dimungkinkan mendapatkan pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan mungkin ditangkap manusia?

Metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerja pikiran yang mempunyai karakteristik tertentu yang diminta pengetahuan ilmiah. Karakteristik itu adalah sifat rasional dan teruji. Metode ilmiah menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif. Di sinilah berarti metode ilmiah menggabungkan pendekatan rasional dan pendekatan empiris. Jadi teori ilmiah harus memenuhi dua syarat utama (i) harus konsisten dengan teori-teori sebelumnya, tidak terjadi kontradiksi dengan teori keilmuwan secara keseluruhan, (ii) harus cocok dengan fakta-fakta empiris.

Sebelum teruji secara empiris, penjelasan rasional yagn diajukan statusnya hanya bersifat sementara yang biasa disebut hipotesis. Jadi hipotesis merupakan dugaan sementara terhadap permasalahan yang sedang kita hadapi. Hipotesis berfungsi sebagai petunjuk jalan yagn membantu dalam melakukan penyelidikan.
Hipotesis ini disusun secara deduktif mengambil premis-premis pengetahuan ilmiah yang sudah diketahui sebelumnya. Dengan jembatan hipotesis ini maka metode ilmiah sering dikenal sebagai proses logico-hypothetico-verifikasi.

Proses induksi mulai memegang peranan penting pada tahap verifikasi atau tahap pengujian hipotesis. Pada tahap ini proses dikumpulkan fakta-fakta empiris untuk menilai apakah suatu hipotesis ini didukung fakta atau tidak. Fakta – fakta ini harus relevan dengan hipotesis yagn kita ajukan. Kadang fakta ini sederhana dan bisa ditangkap oleh panca indera. Kadang-kadang kita membutuhkan instrumen yang rumit untuk membantu panca indera kita. Sering sekali suatu hipotesis baru bisa dibuktikan beberapa lama kemudian setealah ditemukan alat untuk membantu mengeumpulkan fakta yang bersangkutan. Seperti dalam fisika nuklir.

Alur berpikir dari metode ilmiah adalah sbb :
1. Perumusan masalah
Merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya.
2. Penyusunan kerangka berpikir
Kerangka berpikir ini disusun berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenaranya yang menjelaskan hubungan yang mungkin antara faktor yagn saling berkait dalam konstelasi permasalahan.
3. Perumusan hipotesis
Merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang merupakan jawaban sementara atas dugaan pertanyaan yang diajukan.
4. Pengujian hipotesis
Pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan.
5. Penarikan kesimpulan
Penilaian apakah sebuah hipotesis ditolak atau diterima berdasarkan fakta yang ditemukan. Hipotesis yang diterima kemudian dianggap menjadi bagian dari pengetahuan ilmiah sebab telah memenuhi persyaratan keilmuwan.

Hipotesis yang telah teruji kebenarannya segera menjadi teori ilmiah yang kemudian dijadikan premis dalam mengembangkan hipotesis-hipotesis selanjutnya.
Namun kebenaran ilmu juga diintai oleh kesalahan. Kebenaran ilmiah masa lalu belum menjadi kebenaran ilmiah sekrang. Sifat pragmatis ilmu menjadi keleibihan sekaigus kekurangan ilmu. Namun ilmu dapat memberi jawaban postitif terhadap permasalahan dalam jangka waktu tertentu.

Struktur Pengetahuan Ilmiah
Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal diakui sebagai pernyataan pengetahuan ilmiah yang baru yang memperkaya khazanah ilmu yang telah ada. Ilmu bersifat menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan unuk menguasai gejala tersebut berdasarkan penjelasan tersebut. Penjelasan keilmuwan memungkinkan kita meramalkan apa yang akan terjadi. Dan berdasarkan ramalan tersebut kita bisa melakukan upaya untuk mengontrol agar ramalan itu terjadi atau tidak.

Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuwan. Contoh teori ekonomi makro dan mikro, teori mekanika Newton atau teori relativitas Einstein. Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum. Hukum pada hakikatnya merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua buah variabel atau lebih dalam hubungan sebab-akibat. Contoh dalam teori ekonomi mikro terdapat hukum tentang permintaan dan penawaran. Teori menjelaskan “mengapa” gejala-gejala terjadi sedangkan hukum memberitahukan atau meramalkan “apa” yang mungkin terjadi.

Dalam teori keilmuwan kita juga mengenal prinsip. Prinsip adalah pernyataan yang bersifat umum bagi sekelompok gejala-gejala tertentu. Contony aprinsip ekonomi, atau prinsip kekekalan energi. Postulat adalah pernyataan yang diterima begitu saja kebenarannya walau tanpa pembuktian empiris. Kadang kita perlu postulat untuk menentukan titik awal. Sedangkan asumsi adalah pernyataan yang kebenarannya dapat diuji.

Epistemologi I : Pengetahuan

Rangkuman bab IV buku Jujun S Suriasumantri Filsafat Ilmu , Sebuah Pengantar Populer

Jarum Sejarah Pengetahuan
              Sebelum abad ke 17 atau abad Penalaran (The Age of Reason), tidak ada perbedaan antara jenis-jenis pengetahuan. Pada masa itu pengetahuan bersifat universal dan hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu spt raja atau orang pintar. Seorang kepala suku misalnya dia merangkap sebagai hakim, penghulu, tukang tenung, panglima perang dan ahli pengobatan.
              Setelah abad ke 17 diferensiasi dalam ilmu cepat terjadi. Ada pembedaan antara berbagai pengetahuan berdasarkan apa yagn diketahui (ontologi), bagaimana cara mengetahui (epistemologi) dan untuk apa pengetahuan itu dipergunakan (aksiologi). Cabang-cabang pengetahuan  berkembang menurut jalannya sendiri bergantung dengan jenisnya dan mentodenya. Kapling-kapling setiap disiplin ilmu semakin jelas.
              Makin kecilnya kapling pengetahuan menimbulkan masalah untuk menghadapi kenyataan yang kompleks dalam kehidupan. Oleh karena itu butuh pendekatan inter-disipliner dengan tidak mengaburkan otonomi masing-masing disiplin keilmuwan.

Pengetahuan
Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung ataupun tak langsung memperkaya kehidupan kita. Pengetahuan pada hakikatnya segenap apa yang kita ketahui tentang objek tertentu.
Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia. Macam bagian pengetahuan lain adalah seni dan agama. Pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan.
              Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan itu disusun. Ketiga landasan itu saling berkaitan. Jadi ontologi ilmu berkaitan dengan epistemologi ilmu dan selanjutnya aksiologi ilmu.
              Ilmu mempelajari alam sebagaimana adanaya dan terbatas pasa lingkup pengelaman kita. Pengetahuan dikumpulkan ilmu untuk menjawab permasalahan kehidupan yang sehari-hari ditemui manusia. Pengetahuan ilmiah atau dikenal dengan ilmu dapat diibaratkan sebagai alat bagi manusia untuk memecahkan berbagai persolanan yang dihadapinya. Pemecahan tersebut dengan meramalkan dan mengontrol gejala alam.
              Seni merupakan bagian lain dari pengetahuan yang mencoba mendeskripsikan gekala dengan sepenuh maknanya. Seni mencoba mengungkapkan objek penelaahan sehingga bermakna bagi penciptanya dan meraka yang meresapinya. Seni merupakan produk dar daya inspirasi dan daya cipta manusia yang bebas dari berbagai cengkraman dan belenggu ikatan. Model pengungkapan dalam senin bersifat penuh dan rumit namin tidak sistematis. Model tersebut tidak bisa digunakan untuk meramalkan dan mengontrol gejala alam.
              Seni terbagi menjadi fine art (seni halus) dan applied art(seni terapan). Seni terapan mempunyai kegunaan langsung dalam kehidupan badani sehari-hari. Seni hakikatnya mempuyai dua ciri yang pertama adalah deskriptif dan fenomenologis, dan yang ke dua adalah ruang lingkupnya terbatas. Deskriptif di sini maksudnya seni menggambarkan objek namun tidak mengembangkan konsep yang bersifat teoritis.
              Ilmu mencoba mencarikan penjelasan mengenai alam menjadi kesimpulan yang bersifat umum dan impersonal. Sedangkan seni tetap bersifat individual dan personal dengan memusatkan perhatiannya pada pengalaman hidup perorangan.
Ketidakmungkinan ilmu mengembangkan konsep teoritis yang menyebabkan mengapa sebuah peradapan dengan seni terapan yang tinggi tidak mampu mengembangkan diri dalam bidang keilmuwan. Karena konsep teoritislah yang dijadikan tumpuan untuk mengembahkan pengetahuan ilmiah. Ilmu juga kurang berkembang di kebudayaan timur yang karena aspek kultural lebih mengembangkan berpikir etis dan kearifan dari pada cara berpikir ilmiah.
              Akal sehat (common sense) didefinisikan sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman tidak sengaja dan bersifat sporadis dan kebetulan.
Menurut Titus karakteristik akal sehat adalah sbb
1.        karena landasannya yagn berakar pada adat dan tradisi maka akal sehat cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan
2.        karena landasannya berakar kurang kuat maka akal sehat cenderung kabur dan sama-samar.
3.        karena kesimpulannya yang ditariknya sering berdasarkan asumsi yang tidak dikaji lebih lanjutmaka akal sehat cenderung mejadi pengetahuan yang tidak teruji.
              Seiring tumbuh rasionalisme tradisi yang bersifat dogmatik mulai ditinggalkan. Rasionalisme membangun pemikiran dengan cara deduktif di sekita r objek pemikiran tertentu. Rasionalisme dengan pemikiran deduktifnya sering menghasilkan kesimpulan yang benar walau tidak selalu sesuai dengan pengalaman.
              Selanjutnya berkembanglah aliran empirisme, yang menyatakan bahwa pengetahuan  yagn benar itu didapatkan dari pengalaman. Sehingga kemudia berkembanglah cara berpikir yang menjauhi spekulasi teoritis dan metafisis. Namun cara berpikir empirisme ini pun tidak luput dari kelemahan, karena metode induktif dengan statistikapun kurang bisa menunjukkan hubungan kausalitas.
              Menurut Bertrand Russel ilmu mempunyai dua peranan yaitu sebagai metafisika dan dan sebagai akal sehat yang terdidik. Untuk menjembatani rasinalisme dan pembuktian empiris maka dikembangkanlah sebua metode eksperimen. Metode eksperimen mulanya dikembangkan oleh ilmuwa Muslim pada abad keemasan Islam. Semangat mencari kebenaran ilmuwan Yunani yang hampir hilang pada masa Romawi dihidupkan kembadi dalam kebudayaan Islam. Secara konseptual metode eksperimen ini dikembangkan oleh sarjana Muslim  dan secara sosiologis dimasyarakatkan oleh Francis Bacon.
              Dengan Metode eksperimen dapat menguji berbagai penjelasan teoritis apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. Dengan demikian mulailah pertemuan antara rasionalisme dan empirisme yang berkembang menjadi metode ilmiah yang menggabungkan caa berpikir deduktif dan induktif. Pionir yang mengembangkan cara berpikir deduktif-induktif ini adalah Galileo dan Newton.

Saturday, January 8, 2011

Metodologi Penelitian Kualitatif


Jika pada penelitian kualitatif,  data berasal dari responden, maka pada penelitian kualitatif kunci utama ada pada peneliti yang terlibat langsung bersama responden sebagai narasumber. Jadi dalam penelitian kualitatif kredibilitas peneliti adalah peran yang penting dalam validitas hasil penelitian.
Berikut ini kami coba paparkan dengan singkat metodologi penelitian dari  data, sampel, instrumen, teknik pengumpulan data, analisa data dan tingkat kepercayaan [1].

1.      DATA
Pada penelitian kualitatif data yang dikumpulkan berupa pertanyaan, tulisan, angka-angka yagn dideskripsikan, gambar, simbol, gerak dan tingkah laku. Penelitian kualitatif juga mengedepankan setting naturalistik dalam penelitiannya. Peneliti mencari data dan informasi secara ilmiah tanpa suatu treatment tertentu dan berusaha berada dalam lingkup yang alamiah tersebut.

2.      POPULASI DAN SAMPEL
Populasi pada penelitian kualitatif bergantung fokus studi yang diambil. Sampel yang digunakan adalah purposive sample atau snowball sample. Tujuannya agar peneliti mendapatkan sampel yang kaya informasi yang bisa dipercaya untuk dijadikan informan atau narasumber. Banyaknya data sampel dianggap cukup jika peneliti tidak mendapatkan tambahan informasi baru dari informan/sampel yang dipilihnya. (Sugiyono, 2010; Satori & Komariah, 2009).

3.      INSTRUMEN PENELITIAN
  Instrumen yang digunakan adalah human instrument (Sugiyono, 2010; Satori & Komariah, 2009). Peneliti menjadi instrumen kunci yang dipercaya mampu melakukan penelitian kualitatif. Peneliti memakai alat bantu berupa buku catatan, tape recorder, kamera, handycam untuk menangkap situasi sosial dari oramg yang menjadi informan atau nara sumber.

4.      TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Data dikumpulkan dengan melakukan observasi, studi dokumen, wawancara mendalam dan melakukan triangulasi. Triangulasi bisa merupakan triangulasi subjek untuk mencari pendapat informan lain, triangulasi waktu atau triangulasi pada teknik pengumpulan data (Satori & Komariah : 2009). Observasi bisa berbentuk observasi partisipatif, observasi samar ataupun observasi tak terstruktur (Sugiyono, 2010; Satori & Komariah, 2009).

5.      ANALISIS DATA
Dilakukan mulai dari sejak mengumpulkan data dengan membuat catatan lapangan dan memberi refleksi terhadap data yagn dicatat. Data kemudian direduksi, ditampilkan/ display, kemudian disimpulkan dan diverifikasi (Sugiyono, 2010) Analisis bersifat terbuka (open ended) yang adaptif terhadap perubahan, perbaikan, pernyempurnaan berdasarkan data baru yang masuk.

6.      TINGKAT KEPERCAYAAN PENELITIAN
Jika dalam penelitian kuantitatif ditentukan oleh validitas dan reliabilitas maka pada penelitian kualitatif berupa credibility, dependability, confirmability dan transferability. Jadi tingkat kepercayaan bergantung pada kredibilitas peneliti dan rekam jejak pada proses penelitiannya. Selain itu hasil penelitian juga harus berguna dan terpakai oleh pihak-pihak lain.


[1] Djam’an Satori dan Aan Komariah. Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung, Alfabeta : 2009) hlm. 33

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar. 2008. Pokoknya Kualitatif, Dasar-dasar Merancang dan Melakukan Penelitian Kualitatif,   Pustaka Jaya : Jakarta
 
Mudyahardjo, Redja. 2008. Filsafat Ilmu Pendidikan, Suatu Pengantar. Remaja Rosdakarya : Bandung.

Satori, Djam’an dan Komariah, Aan. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Alfabeta : Bandung
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...